Abdullah Payapo, Kepala Sekolah Pertama SMA Muhammadiyah 2 Surabaya

REKAYOREK.ID Di balik kejayaan SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (SMAMDA) sebagai salah satu sekolah terbaik di kota tersebut hari ini, terdapat sosok yang berjasa membangun dasar kuatnya. Abdullah Payapo, kepala sekolah pertama yang mengawali perjalanan pendidikan yang penuh tantangan namun penuh semangat.

Seorang Pelopor dengan Visi Tulus

Pada awal tahun 1975, ketika Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ngagel Surabaya memutuskan mendirikan sekolah menengah atas baru, Abdullah Payapo dipercaya untuk memimpin langkah awal. Saat itu, kondisi sekolah jauh dari kata memadai: hanya memiliki 17 siswa, 22 guru, satu wakil kepala sekolah (Ibrahim Ali), dan berlokasi di sebuah perkampungan di Jalan Pucang Taman. Tanpa fasilitas yang memadai, bahkan tanpa gedung sekolah yang layak, ia tidak menyerah.

Dengan semangat kebangsaan dan dedikasi pada ajaran Muhammadiyah yang mengedepankan pendidikan sebagai pijakan kemajuan umat, Abdullah Payapo mengemban tugasnya dengan penuh rasa tanggung jawab. Ia tidak hanya bertindak sebagai kepala sekolah, namun juga sebagai pembina, motivator, dan bahkan teman bagi para siswa dan guru. Ia yakin bahwa pendidikan berkualitas harus dapat diraih oleh semua kalangan, tanpa memandang kondisi ekonomi atau latar belakang.

Membangun Fondasi untuk Masa Depan

Selama masa kepemimpinannya hingga wafatnya pada tahun 1984, Abdullah Payapo fokus pada dua hal utama: meningkatkan kualitas pendidikan dan memperkuat landasan sekolah. Ia bekerja sama dengan para pendiri dan aktivis Muhammadiyah untuk mengumpulkan dukungan dari masyarakat, sehingga sekolah bisa bertahan dan berkembang. Meskipun tidak ada catatan rinci tentang latar belakang pendidikan atau kehidupan pribadinya, dedikasinya tercermin dari bagaimana ia mampu mengelola sekolah dengan terbatasnya sumber daya namun tetap menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Ia juga menanamkan nilai-nilai Muhammadiyah seperti kejujuran, kerja keras, dan cinta tanah air kepada setiap siswa. Bagi beliau, pendidikan bukan hanya tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk karakter yang baik dan siap berkontribusi bagi bangsa.

Warisan yang Abadi

Meskipun masa kepemimpinannya tidak terlalu panjang, kontribusi Abdullah Payapo tidak pernah terlupakan. Setelah beliau wafat, kepemimpinan diteruskan oleh Wahyudi Indra Jaya dan kemudian oleh kepala sekolah berikutnya, yang terus mengembangkan sekolah sesuai dengan visi beliau. Saat ini, SMAMDA telah menjadi SMA Rujukan Nasional dengan akreditasi A, memiliki fasilitas modern, dan menjalin kerja sama internasional. Semua ini tidak lepas dari dasar yang dibangun oleh sang pelopor pertama.

Nama Abdullah Payapo tetap hidup dalam sejarah SMA Muhammadiyah 2 Surabaya sebagai sosok yang berani memulai perjalanan yang sulit, dengan hati yang tulus dan tekad yang bulat untuk memberikan pendidikan yang lebih baik bagi generasi muda.

Hari ini, ketika kita melihat gedung-gedung modern, perpustakaan digital, lapangan olahraga, dan prestasi siswa yang membanggakan, semuanya merupakan buah dari benih yang ditanam oleh Abdullah Payapo sang pelopor yang tidak pernah menyerah dalam membangun masa depan generasi muda.@muzz