Bersatu, Bukan Sempurna

"Sebuah keluarga tidak perlu sempurna. Hanya perlu bersatu."

Oleh: Amang Mawardi

Quote yang (kelihatannya sederhana ini) ditulis Hisnindarsyah Dokter di beranda Facebook-nya, Sabtu Malam Minggu, 22 November 2025.
Di bawahnya memperlihatkan foto santai keluarga Pak Dokter tersebut di salah satu spot kuliner: wajah-wajah sumringah, suasana cair, tanpa pencitraan.

Membaca kalimat itu, saya terdiam sejenak.
Kalimat ini pendek, tapi nampaknya dalam maknanya. Akhirnya saya mencoba menyimpulkan :

Bahwa sempurna itu ilusi. Jarang ada keluarga yang dalam sebulan akur terus.

Ada kalanya dompet tipis. Ada kalanya salah paham. Ada kalanya capek lalu jutek ke pasangan dan anak.
Ada kalanya rezeki seret, anak nilai sekolahnya pas-pasan.

Sempurna adanya di sinetron.
Di dunia nyata, yang ada cuma usaha dan luka yang berusaha disembuhkan bareng-bareng.
Kekuatan keluarga bukan pada tidak adanya masalah.
Tapi pada cara menghadapinya secara kolektif intern.

Pas ada yang jatuh, ada yang mengulurkan tangan.
Pas ada yang gagal, ada yang bilang “nggak apa-apa, kita coba lagi”.
Pas ada yang salah, ada yang mau memaafkan.

Bersatu artinya: saling mengerti, saling menjaga, saling memaafkan.
Rumah boleh sederhana. Mobil boleh keluaran tahun lawas. Sepatu sang kepala keluarga mungkin cuma dua pasang.
Tapi kalau hatinya satu, rasanya sudah lebih dari cukup.

Bahwa dari aspek sosial: ini fondasi.
Karena keluarga adalah benteng sosial.

Di luar sana dunia keras: kerjaan susah, ekonomi menekan, gosip, _degree comparison_, dan banyak lagi segala tetek bengek sosial.

Kalau di rumah sudah berantakan, orang gampang tumbang.
Tapi kalau keluarga bersatu, rumah jadi tempat pulang yang aman.
Di luar boleh hujan, tapi di rumah ada atapnya.

Kalimat ini juga menolak standar sosial semu.
Keluarga sering diukur dari besarnya rumah, merek baju, anak belajar di sekolah elite.
Padahal keluarga yang bersatu, walau dengan segala keterbatasan, tetap punya wibawa. Karena mereka kompak dan saling dukung.

Bahwa warisan untuk anak-cucu itu adalah resiliensi. Mudah bangkit saat jatuh, mudah beradaptasi dengan lingkungan yang seringkali tidak ramah.
Anak yang tumbuh melihat orang tuanya tidak sempurna tapi tetap saling bantu, akan belajar satu hal penting:
“Hidup itu memang nggak mulus. Oke, mari kita hadapi bareng.”

Dan ini melatih mental serta resiliensi sosial.
Lebih kuat daripada tumbuh di keluarga “sempurna” tapi dingin dan penuh kepura-puraan.

Bahwa keluarga yang bersatu insyaallah efeknya menular ke masyarakat.
Satu keluarga yang bersatu akan menciptakan lingkungan yang adem tentrem.
Tidak ribut dengan tetangga. Rajin gotong royong ikut kegiatan RT.

Sebaliknya, satu keluarga yang retak walau kaya raya, bisa jadi sumber masalah sosial.
Karena “bersatu” itu menular. Dari rumah ke RT, dari RT ke komunitas.

Pada akhirnya konklusinya begini:
Sempurna itu citra.
Bersatu itu fungsi.

Dan justru fungsi inilah yang membuat tatanan sosial tetap jalan.

Mungkin konklusi ini mirip pernyataan penyair sufi asal Persia (sekarang disebut Iran), Jalaluddin Rumi :

Bahwa pernikahan itu bukan tempat mencari kesempurnaan, melainkan wadah belajar sabar menghadapi kekurangan pasangan. Gesekan dan perbedaan dalam rumah tangga adalah alat asah mental untuk naik tahap demi tahap menuju kesadaran jiwa.@