Bukan Mitos, Perjuangan Empat Perempuan Belanda Berpihak ke Indonesia

REKAYOREK.ID Empat perempuan Belanda ini benar benar ada, dan tercatat dalam sejarah Revolusi Indonesia.

Mereka adalah Dolly Zegerius, serta tiga bersaudara, Betsy, Annie, dan Miny Kobus.

Yang mengejutkan, mereka memilih berpihak pada Republik Indonesia, bahkan ketika Belanda justru berusaha merebut kembali bekas jajahannya.

Dolly Zegerius diketahui lahir di Belanda pada 26 Juli 1925. Ia menikah dengan Raden Mas Soetarjo Soerjosoemarno, dari lingkungan Mangkunegaran Surakarta.

Dolly bersama putranya, Narjo, saat baru turun dari kapal Weltevreden di Jakarta, 1 Januari 1947. Foto: istimewa

 

Kesaksian hidup Dolly terdokumentasi jelas dalam wawancara BBC Indonesia tahun 2016, serta arsip sosial budaya Surakarta. Ia datang ke Indonesia bukan sebagai pegawai kolonial, dan bukan bagian dari militer Belanda.

Dolly menceritakan saat momen kepergiannya dari Belanda.

“Saya diantar orang tua yang menangis-nangis. Mereka tidak keberatan saya berpihak kepada Indonesia. Mereka keberatannya saya pergi jauh,” kata Dolly saat itu.

Dolly memilih Indonesia karena dirinya berkeyakinan bahwa Indonesia benar.

“Kita pengalaman dijajah sama Jerman beberapa tahun, bisa merasakan dijajah sama orang asing ya toh? Jadi kemerdekaan (Indonesia) disupport 100%,” cetus Dolly.

Di dalam kapal, Dolly bertemu dengan tiga perempuan dari keluarga Kobus: Betsy, Annie dan Miny, yang sudah dikenalnya sejak awal. Mereka juga memutuskan untuk membela Indonesia.

“Mereka sudah lebih dulu di kapal bersama ibu mereka yang ikut ke Indonesia. Sejak itu persahabatan kami erat banget,” kenang Dolly.

Betsy, Annie, dan Miny Kobus sendiri diketahui berasal dari keluarga sosialis di Belanda, yang menentang kolonialisme sejak sebelum Perang Dunia Kedua berakhir.

Rumah keluarga Kobus di Amsterdam dikenal sebagai tempat singgah pelaut, dan aktivis Indonesia, yang memperjuangkan kemerdekaan.

Fakta ini dicatat dalam penelitian jurnalis Belanda, Hilde Janssen berjudul Enkele Reis Indonesie yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tanah Air Baru, Indonesia, menyebut bahwa Mien, ibu ketiga perempuan itu, aktif dalam gerakan bawah tanah melawan penjajahan Jerman di Belanda.

Disebutkan, Mien menampung juga sejumlah pemuda Indonesia yang bekerja untuk perusahaan perkapalan Belanda. Karena sering singgah, mereka berkenalan dengan kakak beradik Kobus dan kerap mengajak mereka jalan-jalan atau menyaksikan pertunjukan keroncong.

Buku Enkele Reis Indonesie karya Hilde Janssen juga mengungkap, bahwa Dolly dan keluarga Kobus itu tidak sendirian. Dari dalam kapal turun 57 perempuan Belanda yang menikah dengan pria Indonesia, 11 pemuda Belanda yang ingin ikut berjuang membela Indonesia, 12 orang Cina, serta sekitar 200 mantan mahasiswa dan awak kapal asal Indonesia. Tentunya fakta ini juga diperkuat oleh arsip sejarah lisan.

Ya, sebagaimana diceritakan, pada 9 Mei 1946, ketiga bersaudara Kobus menikah dengan pria Indonesia, yang aktif dalam jaringan pergerakan kemerdekaan. Betsy menikah dengan Djumiran, Annie dengan Djabir, dan Miny dengan Amarie. Pernikahan ini tercatat secara resmi, dan bukan cerita lisan belaka.

Kakak beradik Kobus di rumah baru mereka di Surabaya, pada 1952. Dari kiri ke kanan (berdiri): Betsy, seorang tetangga, Annie. Dari kiri ke kanan (duduk): putra Miny, Miny, putri Betsy. Foto: istimewa

 

Memang pada Desember 1946, keempatnya berangkat ke Indonesia menggunakan kapal Weltevreden dari Rotterdam. Dan kapal ini tercatat dalam arsip pelayaran kolonial, sebagai kapal pengangkut sipil dan militer ke Hindia Belanda pasca Proklamasi.

Keberangkatan perempuan Belanda yang berpihak pada Republik Indonesia berada di luar arus resmi pemerintah Belanda, dan diawasi ketat. Mereka tiba di Tanjung Priok pada 1 Januari 1947.

Saat itu Jakarta masih dikuasai Belanda, sehingga perjalanan dilanjutkan ke Yogyakarta, yang saat itu menjadi ibu kota Republik Indonesia. Penerimaan mereka oleh lingkungan pemerintahan Republik dicatat dalam kesaksian lisan, yang dihimpun peneliti sejarah perempuan dan revolusi.

Ketika Agresi Militer Belanda pertama dimulai pada 21 Juli 1947, keempat perempuan ini berada di wilayah konflik. Annie dan Miny aktif di Palang Merah Indonesia, yang saat itu kekurangan tenaga. Betsy membantu layanan medis, dan pengungsi di Jawa Timur. Dolly menetap di Surakarta, dan terlibat dalam kegiatan sosial kemanusiaan.

Keempatnya, oleh Belanda dianggap sebagai pengkhianat. Dalam korespondensi pribadi, dan kesaksian lisan, istilah verrader digunakan untuk menyebut mereka. Hubungan dengan keluarga di Belanda banyak yang terputus. Tekanan interogasi, dan kecurigaan terhadap Betsy Kobus tercatat dalam sejarah lisan perempuan Eropa pro Republik, meski tidak berujung pada dakwaan hukum formal.

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada Desember 1949, keempatnya tidak kembali menetap di Belanda.

Dolly hidup hingga usia lanjut di Solo, dan wafat pada 18 September 2019. Betsy menetap di Banyuwangi. Annie dan Miny melanjutkan kegiatan sosial, dan kemanusiaan di Indonesia.

Kisah keempat wanita Belanda ini bukan mitos, dan bukan propaganda. Tokoh, waktu, lokasi, dan peristiwa utamanya dapat diverifikasi melalui arsip nasional, wawancara langsung, serta penelitian sejarah sosial. Tidak semua dialog tercatat secara tertulis, namun pilihan politik, dan peran kemanusiaan mereka adalah fakta sejarah, yang diakui peneliti.@

Sumber: bbc