REKAYOREK.ID Komunitas Sastra dan Teater Lamongan (Kostela) bekerja sama dengan Teater Taman menggelar kegiatan bedah buku antologi puisi Sajak Berdua Plus Satu di Ruang Meeting MAN 2 Lamongan.
Buku ini merupakan karya tiga penyair Lamongan (Herri Lamongan, Pringgo HR, dan Bambang Kempling) yang diterbitkan oleh Lensa Publishing pada tahun 2025 (cetakan pertama).
Dalam paparannya, Dr. Moh. Arif Susanto, M.Hum, dosen Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya mengatakan, antologi ini menawarkan pengalaman membaca yang tidak hanya puitis, tetapi juga filosofis.
“Ketiga penyair menulis dari arah berbeda, namun saling berkelindan dalam tema besar kehidupan yang terus bergerak di antara luka, waktu, dan malam,” ujarnya.
Melalui pendekatan semiotik dan analisis statistik berbasis Voyant Tools, Arif menemukan tiga kata kunci yakni waktu, luka, dan malam yang menjadi poros makna utama buku antologi.
“Waktu menjadi perjalanan, luka menjadi bekasnya, dan malam menjadi ruang penyembuhannya,” terangnya.
Ia juga menafsirkan karya ini dalam konteks semiotik Roland Barthes, di mana ketiganya membentuk lapisan tanda yang beranjak dari makna harfiah menuju makna eksistensial.
“Herri Lamongan memaknai waktu sebagai keabadian yang dicari, Pringgo HR menulis luka sebagai sejarah yang harus diterima, dan Bambang Kempling menemukan malam sebagai tempat berdamai dengan sunyi,” ungkapnya.
“Dengan bahasa yang indah namun jujur, Sajak Berdua Plus Satu berhasil melampaui batas puisi konvensional. Ia menjelma menjadi semiotika kehidupan, teks yang menuturkan perjalanan manusia dari penderitaan menuju penerimaan, dari waktu menuju doa, dari luka menuju pengampunan. Membacanya seperti memasuki malam panjang yang tidak kelam—karena di dalamnya, kita belajar bahwa setiap luka akan sembuh ketika manusia mampu berdamai dengan waktu dan dirinya sendiri,” tambahnya.
Acara yang dihadiri oleh anggota Kostela, Teater Taman, guru MAN 2 Lamongan ini berlangsung hangat dan penuh apresiasi. Para peserta menganggap antologi ini sebagai karya yang menghadirkan kesegaran baru dalam dunia perpuisian daerah dan nasional.
Rifai selaku ketua panitia berharap kegiatan bedah buku ini dapat terus menjadi ruang tumbuh bagi penulis dan seniman Lamongan dalam memperkaya khazanah sastra Indonesia.@sir