Oleh: Much. Khoiri
DALAM tulisan sebelumnya, saya menyebut buku “bantal” Hiski. Satu telah terbit: 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Sastra, Politik Narasi, dan Kemanusiaan (2025); satu lagi sedang ditulis: Seabad Setahun Asrul Sani, insyaaAllah terbit 2026 ini.
Di sini saya tak hendak menyinggung isi tulisan itu. Saya justru ingin melengkapi informasinya: pertama, masih ada delapan judul lagi buku “bantal” Hiski; kedua, bagaimana buku “bantal” Hiski akan menjadi legacy ikonik.
Tentang delapan buku itu, bisa saya sebutkan di sini: (1) Sastra Pariwisata, (2) Sastra Rempah, (3) Sastra Maritim, (4) Sastra Horor, (5) Seratus Tahun A.A. Navis, (6) Sastra Wayang, (7) Humaniora Digital, dan (8) Tabur Ilmu Tuai Buku (sedang proses). Plus buku PAT dan Asrul Sari, jadilah 10 judul.
Buku Sastra Pariwisata paling tipis di antara semua. Tetapi ia masih mencapai 648 halaman. Sementara, buku Sastra Rempah 905 halaman, Sastra Maritim 816 halaman, dan Sastra Horor 1052 halaman. Lalu, Humaniora Digital 992 halaman, Seratus Tahun A.A. Navis 1028 halaman, dan Sastra Wayang 1196 halaman.
Kemudian, buku PAT mencapai 1168 halaman. Kira-kira berapa halaman buku Tabur Ilmu Tuai Buku dan Seabad Setahun Asrul Sani? Saya kira, dua buku terakhir ini tak jauh beda tebalnya dengan PAT. Tunggu saja, dalam beberapa bulan ke depan, buku akan siap dipesan.
Dipesan? Ya, Anda yang belum mengoleksi 10 buku “bantal” Hiski tersebut, buruan memesan, sebagian atau seluruhnya. Kesempatan tidak datang dua kali. Bayangkan, sepuluh buku Hiski itu menghuni rak buku di rumah Anda. Gagah dan keren.
Tetapi, punya buku bukan untuk gagah-gagahan atau keren-kerenan. Jadi, kalau pesan buku, segera tata niatnya: Membeli buku untuk menambah ilmu. Tuntutlah ilmu mulai ayunan hingga liang lahat. Atau, lebih sederhanya, tak usah jauh ke negeri China, cukup cari ilmu dalam buku-buku “bantal” Hiski.
Saya sendiri, kalau ada buku bagus, cepat membelinya. Membacanya bisa kali lain, tetapi membeli untuk memilikinya harus segera. Toh, jika tidak ada waktu khusus untuk membaca, saya akan mencicil baca di sela-sela kesibukan.
Legacy Ikonik
Sekarang, mengapa legacy ikonik? Ini tentang politik organisasi dan dampak sosialnya. Buku “bantal” Hiski lahir dari sebuah kebijakan, dan kebijakan termasuk politik Hiski sebagai organisasi profesi.
Dengan buku “bantal” itu, sebagai bagian dari produsen pengetahuan, Hiski turut menebarkan pengetahuan ke berbagai khalayak. Mencerahkan, mencerdaskan, atau menggugah kesadaran masyarakat. Dari posisi ini, Hiski menjadi penyambung kontinuitas pengetahuan antargenerasi.
Dampaknya apa? Tak usah diukur sejauh mana pengaruh buku-buku itu bagi sikap hidup atau perilaku pembaca, cukup dipancing dengan pertanyaan simpel: Misalnya, “Buku PAT terbitan penerbit apa?” Memori pembaca akan langsung mengasosiasikannya dengan Hiski. Produk Hiski menjadi ikon yang melekat pada memori publik.
Meski demikian, yang penting bukan semata-mata legacy bentuk benda atau fisik buku (tangible), melainkan juga legacy yang tak benda (intangible). Sepanjang teknologi pengaman buku fisik tersedia, legacy benda akan tetap bertahan. Jika ini goyah, pembaca akan tergugah untuk memainkan agensinya: yakni memproduksi pengetahuan baru.
Mahabarata dan Ramayana itu legacy ikonik bagi India, Haiku ikonik bagi Jepang, dan pantun juga ikonik bagi bangsa-bangsa rumpun Melayu. Demikian pun bagi Hiski, sepuluh buku “bantal” bisa diharapkan akan menjadi legacy ikonik.
Mengapa ikon itu penting diperjuangkan? Pertama, Hiski telah menjadi organisasi profesi di bidang sastra yang tangguh dan dewasa dan telah berhasil melewati aneka ujian dan tantangan. Kedua, kapasitas Hiski secara keilmuan sangat pantas, sebab di dalamnya berhuni para pakar sastra ternama.
Pertanyaannya, apakah Hiski istikomah siap menjaga marwah menulis bersama dan menerbitkan buku yang tebal demi legacy ikonik tersebut? Hanya pengurus dan warga Hiski yang mampu menjawab pertanyaan ini dengan lapang hati. Setidaknya ada sebagian.@
*Much. Khoiri (nama pena dari Dr. Much. Koiri, M.Si.) adalah anggota Hiski Komisariat Unesa, editor/penulis buku, founder Rumah Virus Literasi (RVL)