REKAYOREK.ID, PASURUAN – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, melakukan napak tilas ke Pondok Pesantren Canga’an di Bangil, Kabupaten Pasuruan. Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk menelusuri kembali jejak sejarah para ulama pendiri NU yang pernah menimba ilmu di pesantren tertua yang berdiri sejak 1710 Masehi itu.
Pesantren yang didirikan oleh Syekh Jalaluddin atau Mbah Lowo Ijo tersebut dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tertua di Nusantara. Sejumlah tokoh besar Nahdlatul Ulama, seperti Syaikhona Kholil Bangkalan, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, hingga KH. Hasbullah, ayahanda KH. Wahab Hasbullah, tercatat pernah menjadi santri di pesantren tersebut.
Karena memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan para pendiri NU, Lia Istifhama menyebut Pondok Pesantren Canga’an sebagai Rumah Besar Nahdlatul Ulama.
“Pondok Pesantren Canga’an ini punya nilai sejarah yang tinggi. Pondok ini bukan sekedar tua, tapi tempat menimba ilmu para pendiri NU. Jadi bisa dibilang titik awal NU berasal dari Pondok Canga’an,” kata perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu, Rabu (22/7/2026).
Menurut putri almarhum KH. Masykur Hasyim tersebut, menjaga keberadaan Pondok Pesantren Canga’an sama artinya dengan menjaga mata rantai sejarah lahirnya Nahdlatul Ulama. Ia pun memberikan apresiasi kepada para dzurriyah Pondok Pesantren Canga’an yang tetap konsisten mempertahankan keaslian bangunan sekaligus menjaga eksistensi pendidikan pesantren di tengah perkembangan zaman.
“Saya mengapresiasi keluarga besar Pondok Pesantren Canga’an yang tetap konsisten mempertahankan pesantren tersebut. Merawat Pesantren Canga’an sama dengan merawat sejarah NU. Sebab benang merah NU berasal dari sini,” terang Lia.
Bagi Ning Lia, kunjungan ke Pesantren Canga’an bukan hanya memiliki makna historis bagi organisasi Nahdlatul Ulama, tetapi juga menyimpan kenangan pribadi yang mendalam. Ayahandanya merupakan alumnus pesantren tersebut sebelum melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.
Saat memasuki Jerambah KH. Hasyim Asy’ari, Ning Lia mengaku merasakan ikatan emosional yang begitu kuat. Aula yang pernah menjadi tempat sang ayah mengaji itu membangkitkan kembali kenangan keluarga. Bahkan ketika melihat salah satu kamar di kompleks tersebut, ia merasakan firasat bahwa kamar nomor dua di sisi kiri merupakan tempat ayahnya pernah beristirahat selama menjadi santri.
“Masyaallah, Pesantren Canga’an ini bukan saja bersejarah bagi Nahdlatul Ulama, tapi juga bagi saya. Di sini lah ayah saya pernah menimba ilmu, sebelum melanjutkan belajar ke Pesantren Tambakberas Jombang yang menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU,” pungkas Lia.@