Jejak Peradaban Ampel Denta

“Oud Soerabaia” menuliskan bahwa lembaga pendidikan yang berbentuk pondok pesantren didirikan sebagai sarana pengajaran. Pendidikan agama ini bertempat di rumah Raden Rahmad. (GH von Faber). Pertanyaannya adalah: Di sebelah manakah rumah Raden Rahmad?

REKAYOREK.ID Nama Sunan Ampel sudah begitu kondang. Dalam rangkaian ziarah relegi Walisongo (Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat) atau Walilimo (hanya Jawa Timur saja), makam Sunan Ampel menjadi jujugan ziarah urutan pertama karena dianggap Sunan yang paling tua.

Makam yang berlokasi di kawasan Kampung Ampel, Surabaya, dulu dikenal dengan nama Ampel Denta (nama di era Kerajaan Majapahit di abad ke 15), tidak hanya dikunjungi oleh peziarah nusnatara, tapi juga mereka yang datang dari Mancanegara: Malaysia, Brunai Darussalam, Thailand, Singgapur, Vietnam, China dan bahkan dari daratan Eropa. Sunan Ampel di masanya tidak sekedar siar agama, tapi sudah mulai menata praja.

GH von Faber dalam bukunya “Oud Soerabaia” menyebut Raden Rachmad atau Sunan Ampel sebagai pimpinan daerah atas wilayah yang penduduknya diawali dengan 3000 keluarga yang dibawanya dari Trowulan. Jumlah ini belum termasuk penduduk setempat yang sudah mendiami Ampel Denta sebelumnya. Jika dicacah jiwa total penduduk bisa mencapai 10.000 jiwa.

Mereka mendiami suatu wilayah yang alamnya terbilang subur. Lokasinya berada di antara dua sungai: yakni sungai Surabaya (Kalimas) dan sungai Ampel (Pegirian). Lahannya ditumbui oleh lebatnya rumpun bambu yang secara ekologi mampu memproduksi air tanah yang bersih.

Profesor Suparto Wijoyo, pakar lingkungan dan pemerhati budaya yang juga sebagai Wakil Direktur III Sekolah Pasca Sarjana Universitas Airlangga, menjelaskan bahwa nama “Ampel Denta” berasal dari toponimi alam setempat. Ampel berarti nama rumpun bambu. Sementara Denta adalah suara suara (berdenta Denta) dari hasil gesekan pohon pohon bambu yang tertiup angin. Jadi Ampel Denta secara harfiah berarti Ampel yang berdenta denta. Maka jadilah Ampel Denta.

Karena kesuburan alamiah inilah kawasan ini ditempati peradaban, termasuk menjadi jujugan pendatang baru dari Mojopahit yang dipimpin Raden Rachmad. Di tempat inilah, Raden Rahmad mengajar dan mensyiarkan agama Islam.

“Oud Soerabaia” menuliskan bahwa lembaga pendidikan yang berbentuk pondok pesantren didirikan sebagai sarana pengajaran. Pendidikan agama ini bertempat di rumah Raden Rahmad. (GH von Faber). Pertanyaannya adalah: Di sebelah manakah rumah Raden Rahmad?

Sebuah Hipotesa

Selama ini belum ada petunjuk mengenai di sebelah manakah kediaman dan pondok pesantren Raden Rahmad. Kalau keberadaan masjid yang ia bangun dan keberadaan makamnya sudah jelas sekali tempatnya. Masjid dan makam Sunan Ampel saling bersebelahan. Makam terletak di sebelah barat masjid.

Berbeda dengan kediaman dan pondok pesantren nya yang belum diketahui keberadaannya. Namun demikian, bisa dilakukan hipotesa dengan perbandingan dengan komplek kediaman tokoh dan orang berpengaruh di masanya. Misalnya komplek kediaman raja atau Sultan.

Di komplek keraton Sumenep misalnya, disana ada kolam yang disebut Taman Sare. Dulunya, Taman Sare ini merupakan tempat mandi para sultan dan permaisuri. Secara fisik berbentuk persegi persegi dengan anak tangga menurun untuk menuruni kolam.

Kolam serupa juga terdapat di komplek keraton lama Jogjakarta yang dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I pada 1758. Kini kolam itu lebih terkenal dengan nama Taman Sari. Taman Sari ini dimaksudkan sebagai tempat untuk menentramkan hati, tempat untuk beristirahat, serta tempat untuk rekreasi Sultan beserta keluarga. Selain itu, Taman Sari Jogja ini berfungsi juga sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi musuh.

Apakah ada kolam serupa di kawasan Kampung Ampel? Ternyata, tidak jauh dari masjid Sunan Ampel, di sebelah timurnya terdapat sebuah kolam tua yang berbentuk persegi panjang yang di bagian timur kolam terdapat anak tangga menurun ke dalam kolam. Namanya Sumur Blumbang.

Ketika diamati oleh Tim Begandring Soerabaia bahwa pada dinding bawah bagian dalam terlihat adanya struktur batu bata besar. Tepe Wijoyo, yang fokus perhatian terhadap sejarah klasik menduga struktur Sumur Blumbang adalah struktur kuno. Tapi kekunoan ini akan lebih baik jika diteliti oleh ahlinya.

“Kami ingin tau kekunoan Sumur atau kolam yang berbentuk kotak ini”, ujar Tepe Wijoyo.

Kekunoan Sumur Blumbang ini sebetulnya juga tidak jauh dari sebuah langgar kuna. Namanya langgar Abdurrahman yang bertempat di Ampel Blumbang. Blumbang ini tidak pernah kehabisan air kapan pun musimnya.

Pegiat kebudayaan dari desa Bejijong Trowulan, Supri, sangat berharsp adanya upaya penelitian dari pihak pihak terkait dibidang arkeologi baik dari BPCB Trowulan maupun Dinas Budaya Pariwisata Propinsi Jawa Timur mengingat kawasan cagar budaya Ampel memiliki skala yang lebih luas dari Surabaya.[nanang]

ampel dentamasjid ampel
Komentar (0)
Tambah Komentar