REKAYOREK.ID Semangat mengenalkan aksara Jawa terus bergulir. Tidak hanya ke kalangan warga Surabaya, tetapi juga ke kalangan warga mancanegara. Mulai dari yang bersifat individu hingga ke klasikal (grup). Seperti ke rombongan mahasiswa Inggris, Jerman, Thailand dan wisatawan Amerika.
Selain itu, melalui pendekatan literasi yang diampu oleh kelembagaan Belanda dan Jerman pun menjadi langkah dari komunitas aksara Jawa Surabaya, Puri Aksara Rajapatni dalam mengenalkan aksara Jawa.
Mengenalkan aksara Jawa memang tidak mudah. Upaya ini menghadapi tantangan, justru dari pemilik budaya itu sendiri dan membutuhkan effort besar untuk meyakinkan pihak lain tentang aksara Jawa sebagai bagian dari identitas bangsa.
Namun seberapapun tantangannya, masih ada jalan dan dukungan. Yang sudah nyata adalah bagaimana kelembagaan pendidikan Wisma Jerman memasang nama nama kelas yang ditulis dalam aksara Jawa dan Latin. Nama nama kelas di Wisma Jerman ini menggunakan nama nama dalam bahasa Jerman dan kota besar di Jerman seperti Hamburg, Berlin, Munchen, Weimar dan Halle.
Menurut Direktur Wisma Jerman Jerman, Mike Neuber, bahwa pihaknya menggunakan aksara Jawa untuk penulisan nama nama kelas di Wisma Jerman karena aksara Jawa adalah budaya Jawa dan Wisma Jerman yang juga bergerak di bidang kebudayaan ingin berkontribusi terhadap pelestarian aksara Jawa serta berharap bahwa orang Jawa sendiri seharusnya yang melestarikan agar aksara Jawa tidak punah. Menarik. Justru orang Jerman yang mengatakan ini.
“Semoga aksara Jawa mendapat tempat di hati dan orang orang Jawa sendiri mulai menggunakan aksara jawa”, jelas Mike yang ditemui Ita Surojoyo di Wisma Jerman pada Senin (29/9/2025).
Penempatan penulisan aksara Jawa di kelas kelas Wisma Jerman ini dilihat langsung oleh Ita Surojoyo, sebagai pendiri Puri Aksara Rajapatni, komunitas yang selama ini berkolaborasi dengan Wisma Jerman.
Bersama Mike, Ita berkeliling melihat signage signage pada setiap kelas. Menurut Mike signage signage itu telah terpasang pada bulan Juli 2025 dan kolaborasi dalam upaya pelestarian literasi aksara tradisional ini telah dimulai saat peringatan Hari Aksara Internasional 2024 lalu.
Adalah pemandangan yang menarik melihat aksara Jawa tersematkan di lingkungan pendidikan Bahasa Jerman. Mike pun juga menyadari bahwa pelukis terkenal Indonesia Raden Saleh pernah membuat relief beraksara Jawa di Blaues Häusel di kota Maxen, Jerman.
Blaues Häusel atau Blue House di Kota Maxen, Jerman, adalah sebuah paviliun yang dibangun pada tahun 1848 oleh bangsawan Jerman, Friedrich Anton Serre, untuk menghormati pelukis Indonesia ternama, Raden Saleh. Bangunan ini sekarang menjadi cagar budaya yang dilindungi dan memiliki inskripsi Aksara Jawa dan Jerman di atas pintunya.
Melalui aksara Jawa, bisa terwujud kerjasama kebudayaan sebagai bahan meningkatkan rasa saling pengertian (elevating the sense of understanding).
Sementara dari lingkungan lokal, juga adanya informasi adanya kantor Bantuan Hukum yang menggunakan Aksara Jawa. Penggunaan aksara Jawa ini menambah penguatan keberadaan aksara Jawa sebagai identitas bangsa.
Informasi ini datang dari lawyer Aris Eko Prasetyo yang berkantor di Barata Jaya XII Surabaya. Bagi Aris penggunaan aksara Jawa di kantornya karena ia sadar bahwa aksara jawa adalah warisan budaya yang sudah seharusnya dilestarikan.
“Aksara Jawa merupakan huruf tradisional suku Jawa, yang memiliki filosofi dan ciri khas khusus yang layak dibanggakan di dunia internasional, sebagaimana orang Tiongkok bangga dengan Aksara Hanzi, Jepang dengan Katakana, Hiragana & Kanji, Korea dengan Hangul, India dengan Devanagari untuk bahasa Hindi, Rusia dengan Alfabet Kiril, Yunani dengan Alfabet Yunani, Israel dengan Aksara Ibrani, Ethiopia dengan Aksara Ge’ez, Myanmar dengan Aksara Burma, Georgia dengan Aksara Georgia dan Thailand dengan Aksara Thai. Mungkin negara atau suku-suku lainnya yang juga bangga dengan tulisan dan kearifan lokalnya masing-masing”, demikian kata Aris.
Baginya sebagai Lawyer yang berasal dari Jawa, ia juga ingin mengenalkan dan melestarikan aksara Jawa kepada klien-kliennya bahwa aksara jawa adalah istimewa dengan segala keunikannya.
“Apabila disatukan dan disandingkan dengan aksara-aksara suku lain dapat semakin menambah keberagaman budaya Indonesia”, pungkasnya.@PAR/nng