Ketika Suara Tribun Itu Terdiam: Selamat Jalan, Cak Andie Peci

REKAYOREK.ID – Hari ini, Surabaya kehilangan satu suaranya. Bukan suara yang lahir dari pengeras stadion. Bukan pula suara yang mengejar popularitas. Melainkan suara yang selama puluhan tahun memilih berdiri di barisan paling depan ketika Persebaya terluka, ketika sepak bola Indonesia kehilangan arah, dan ketika ribuan Bonek membutuhkan seseorang untuk berkata, “Ayo, kita terus berjuang.”

Suara itu milik Andie Peci.

Jumat, 10 Juli 2026, sekitar pukul 11.20 WIB, Andie Peci mengembuskan napas terakhirnya di RSUD dr. Mohamad Soewandhie, Surabaya. Kabar itu menyebar cepat, jauh lebih cepat daripada yel-yel yang biasa menggema dari tribun Gelora Bung Tomo. Telepon berdering. Grup-grup WhatsApp mendadak sunyi. Banyak yang hanya mampu menuliskan dua kalimat sederhana: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Cak Andie wis lungo…”

Tak ada Bonek yang benar-benar siap menerima kabar itu.

Bagi sebagian orang, Andie Peci hanyalah seorang suporter. Namun bagi Surabaya, ia adalah salah satu wajah dari perlawanan. Ketika nama Persebaya nyaris dihapus dari peta sepak bola Indonesia, ia memilih tetap berdiri. Ketika banyak orang menyerah, ia justru menguatkan ribuan lainnya agar tetap percaya bahwa sejarah tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan.

Ia tidak pernah meminta dikenang. Ia hanya ingin Persebaya tetap hidup.

Disampaikan Cak Isnan (Menying) saat berada di Hanaka Social Space, dengan spontan ia menyampaikan kabar duka dari salah satu suporter Persebaya (Bonek), Andie Kristianto (Peci) telah meninggal dunia.

Di warung kopi, di sekretariat Bonek, di jalanan tempat ribuan suporter berkumpul sebelum berangkat ke stadion, nama Andie selalu hadir sebagai simbol keberanian.

“Gaya bicaranya keras, tetapi hatinya dikenal lembut kepada sesama. Kritiknya tajam, tetapi lahir dari kecintaan yang tak pernah berubah kepada klub kebanggaan Kota Pahlawan,” tambahnya.

Masih disampaikan Menying, bagi kami, Andie Peci adalah kompas ideologis yang berhasil mentransformasi Bonek dari sekadar massa suporter menjadi sebuah gerakan sosial yang memiliki basis intelektual serta kesadaran politik yang tajam. Beliau merupakan salah satu ruh di balik tegaknya marwah Persebaya saat mengalami berbagai ketidakadilan. Sosok yang mengajarkan bahwa loyalitas tidak boleh bersifat buta, melainkan harus berpijak pada kebenaran, keberanian, dan nilai-nilai kemanusiaan.

“Kepergian beliau meninggalkan ruang kosong yang begitu luas. Namun, warisan pemikiran, semangat perjuangan, dan nilai-nilai yang telah beliau tanamkan akan terus hidup di setiap individu Bonek. Warisan itulah yang akan senantiasa menjadi pengingat dan pedoman bagi kami untuk terus menjaga marwah, kehormatan, dan Persebaya hingga akhir. Sugeng tindak cak Andie Peci,” lanjutnya.

Andie memahami bahwa menjadi Bonek bukan sekadar membeli tiket atau mengenakan kaus hijau. Menjadi Bonek adalah tentang menjaga harga diri sebuah kota.

Tak heran jika kabar kepergiannya membuat media sosial dipenuhi ucapan belasungkawa. Persebaya pun memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan panjang klub kembali ke kompetisi nasional. Penghormatan yang pantas untuk seseorang yang tak pernah lelah mengawal Bajul Ijo, bahkan ketika jalan perjuangan terasa begitu terjal.

Namun sesungguhnya, kepergian Andie bukan akhir dari cerita.

Setiap nyanyian “Song for Pride”, setiap syal hijau yang terangkat ke udara, setiap anak muda yang belajar mencintai Persebaya tanpa syarat, akan selalu membawa sebagian dari semangat yang pernah ia wariskan.

Orang boleh pergi. Tubuh boleh berhenti. Tetapi gagasan, keberanian, dan cinta kepada kota ini akan terus hidup, berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Selamat jalan, Cak Andie Peci.

Terima kasih telah mengajarkan bahwa menjadi Bonek bukan hanya tentang sepak bola, tetapi tentang kesetiaan, keberanian, dan harga diri.

Hari ini tribun memang kehilangan satu suara.

Tetapi Surabaya akan terus mengingat gaungnya.@

Andie PeciBolaBonekMenyingpersebaya