Kisah Bung Hatta Simpan Potongan Iklan Sepatu Bally

Bung Hatta memotong iklan tersebut dan menjadikannya sebuah impian kecil yang terus ia bawa ke mana pun ia pergi di dalam dompetnya.

REKAYOREK.ID ​Di dalam dompet kulit yang sudah usang milik mantan Wakil Presiden pertama Indonesia, pihak keluarga menemukan sebuah benda yang sangat tidak biasa setelah beliau berpulang. Menariknya, isi dompet itu bukanlah tumpukan uang atau lembaran foto orang-orang tercinta, melainkan sepotong kertas koran yang sudah menguning berisi gambar promosi alas kaki.

​Secarik kertas tersebut merupakan guntingan iklan sepatu mewah yang disimpan rapat oleh Mohammad Hatta hingga akhir hayatnya pada 14 Maret 1980.

Beliau wafat dalam usia 77 tahun di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, meninggalkan warisan keteladanan yang sulit dicari tandingannya.

​Alas kaki yang diidamkan Bung Hatta adalah sepatu merek Bally, sebuah jenama legendaris asal Swiss yang sejak era 1950-an sudah menjadi simbol status sosial dan kemewahan. Begitu besarnya keinginan sang Proklamator untuk memilikinya, hingga ia memotong iklan tersebut dan menjadikannya sebuah impian kecil yang terus ia bawa ke mana pun ia pergi di dalam dompetnya.

​Catatan sejarah menyebutkan bahwa Bung Hatta menyimpan guntingan iklan tersebut sejak awal tahun 1950-an. Tragisnya, hingga mengembuskan napas terakhir sekitar tiga dekade kemudian, impian sederhana itu tidak pernah terwujud karena uang tabungan beliau selalu terpakai untuk keperluan rumah tangga dan membantu kerabat yang kesulitan.

​Ada sebuah ironi yang menyayat hati di sini: seorang tokoh kunci kemerdekaan sekaligus founding father bangsa, ternyata tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli sepasang sepatu bermerek dari kantongnya sendiri.

Sebagai pejabat tinggi, ia sebenarnya punya seribu satu cara untuk mendapatkan sepatu itu secara instan—entah lewat memo jabatan, anggaran dinas, maupun pemberian “hadiah” dari para pengusaha atau diplomat asing.
​Namun, jalan pintas seperti itu tabu bagi seorang Bung Hatta. Prinsip hidupnya sangat tegas: aset dan anggaran negara adalah hak mutlak rakyat, dan haram hukumnya bagi seorang pejabat untuk menggunakannya demi pemuasan syahwat pribadi.

​Sifat bersahaja ini bukanlah sebuah kepura-puraan demi popularitas politik, melainkan cerminan asli dari kepribadiannya sehari-hari. Salah satu bukti konkret terekam saat sekretaris pribadinya, I Wangsa Widjaja, menggunakan tiga lembar kertas berkop resmi Sekretariat Negara untuk urusan surat-menyurat di luar kedinasan resmi Wapres.

Bung Hatta yang mengetahui hal itu langsung menegurnya dengan keras karena menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk korupsi kecil, lalu beliau mengganti harga tiga lembar kertas itu dengan uang koin dari sakunya sendiri.

​Ketegasan moral inilah yang membuat pengamat barat kerap menjuluki beliau sebagai “Gandhi dari Jawa”—merujuk pada tokoh kemerdekaan India, Mahatma Gandhi, yang juga dikenal dengan gerakan hidup hemat dan penolakan total terhadap kemewahan materi saat berkuasa.

​Bahkan setelah mundur dari jabatan Wakil Presiden pada tahun 1956, Bung Hatta hidup dalam kondisi finansial yang sangat pas-pasaran.

Data sejarah mencatat, uang pensiun yang beliau terima dari negara sangat kecil, sehingga sang istri, Ibu Rahmi Hatta, harus memutar otak setiap bulan untuk membayar tagihan rutin seperti listrik dan air (PAM), hingga sempat mencicil pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB).

​Menatap kembali kisah dompet dan sepatu Bally ini memberikan kita perspektif baru tentang arti sebuah kekuasaan. Ini adalah potret nyata dari seorang pemimpin yang secara sadar menolak memperkaya diri dan memilih setia pada garis kemiskinan yang terhormat, demi menjaga marwah dan martabat bangsanya.

​Di tengah realitas modern di mana nilai kejujuran kian mahal harganya, rekam jejak kehidupan Bung Hatta laksana sebuah kompas moral yang wajib kita pelajari dan renungkan kembali.@den