Membaca Ulang Freire: Membongkar Penindasan dalam Pendidikan Kapitalistik

*) Nadiva Ariandy
Pendidikan idealnya dapat menjadi alat pembebasan untuk menggugat sistem yang menindas. Namun, dewasa ini, pendidikan justru menjadi mesin penjinakan. Peran murid direduksi sebatas objek pasif yang hanya bersifat reseptif. Hal itu sebagaimana dikemukakan Paulo Freire dalam bukunya berjudul Pendidikan Kaum Tertindas. Hubungan antara guru-murid didefinisikan Freire sebagai subjek-objek. Guru diposisikan sebagai subjek yang secara aktif mentransfer pengetahuan dogmatis, sedangkan murid diposisikan sebagaimana wadah kosong yang siap diisi (Freire, 2011:51).

Model pendidikan seperti ini diperkenalkan Freire sebagai model pendidikan gaya bank (banking education). Artinya, semakin banyak murid menerima peran pasif yang dibebankan, semakin terlihat kecenderungan untuk menyesuaikan diri dengan realitas yang diterima sebagai sumber kebenaran absolut (Freire, 2011:54). Akibatnya, mereka dijauhkan dari kesadaran kritis untuk menggugat ketimpangan dalam sistem, karena telah ditundukkan oleh sistem itu sendiri. Dalam model pendidikan yang mendudukkan mereka secara tidak setara, murid akan selalu menjadi entitas yang tertindas. Maka tidak heran bahwa pendidikan bagi kaum tertindas akan selalu mengembalikannya dalam siklus ketertindasan. Pada akhirnya, mereka menjadi sebatas “sumber daya”.

Gagasan Freire itu sejalan dengan logika kapitalisme, di mana sumber daya diandaikan sebagai segala sesuatu yang dapat dipakai, diekstraksi, dan dieksploitasi. Sehingga dalam dunia kerja, manusia tak ubahnya seperti sapi perah yang dimanfaatkan secara eksploitatif. Dan, pendidikan kita hari ini, menciptakan calon-calon sapi perah itu melalui model pendidikan yang didesain untuk mendisiplinkan pikiran para “sapi perah” agar kompatibel dengan logika pasar. Terlihat dalam tren lembaga pendidikan yang berfokus menjadi mesin produksi lulusan siap pakai, yaitu tenaga kerja yang dinilai memenuhi kebutuhan pasar. Hal itu tercermin dalam orientasi lembaga pendidikan yang cenderung membentuk tenaga kerja yang layak “dipekerjakan” sebagai sumber daya potensial.

Bahkan dalam narasi yang dominan di dunia pendidikan, nilai seorang murid ditakar dari seberapa cepat ia mendapatkan pekerjaan, bukan dari sejauh mana mampu membebaskan diri dari ketimpangan struktural yang menjerumuskannya dalam pola penindasan satu ke pola penindasan lainnya. Berdasarkan hal itu, tidak bisa dipungkiri lagi bahwasa murid dipandang sebatas produk dari sistem yang dievaluasi berdasarkan kuterjualannya di pasar kerja.

Freire, dalam bukunya, menolak gagasan yang memperlakukan manusia sebagai objek. Namun, akar masalahnya ada pada sistem pendidikan kita hari ini yang sengaja dirancang untuk menyediakan sumber daya berupa tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri dan kepentingan pemodal. Pendidikan model ini menciptakan daya rusak yang luar biasa karena dapat menihilkan kesadaran kritis kaum tertindas akan adanya sistem alternatif di luar itu yang dapat membebaskan mereka dari ketimpangan struktural.

Model pendidikan seperti itu memang bertujuan membangun kesadaran magis. Mereka akan memandang realitas yang dihadapi sebagai konsekuensi dari hukum alam. Berangkat dari kesadaran itulah, cara pandang mereka terhadap penderitaan adalah sebagai konsekuensi dari ketidakmampuan untuk meningkatkan taraf hidup tanpa menyadari bahwa sistem ini sengaja dirancang untuk menciptakan ketimpangan itu. Mentalitas seperti ini membuat mereka hanya fokus pada persaingan antar kelas, di mana kerja keras akan membuat mereka naik kelas, yang menciptakan ilusi seolah-olah sistem bersifat netral dan adil.

Untuk menghadapi realitas itu, kita dapat menggunakan konsep pendidikan hadap masalah yang dicetuskan Freire sebagai antitesis konsep pendidikan gaya bank. Dalam konsep pendidikan hadap masalah, Freire menolak hubungan guru-murid berpola vertikal atau secara hierarkis “menundukkan”. Sebagai gantinya, Freire merekomendasikan hubungan guru-murid berpola horizontal yang memungkinkan adanya ruang dialektis sehingga kedua pihak dapat saling bertukar peran dan tak lagi terbatas oleh dikotomi yang diciptakan dalam model pendidikan gaya bank (Freire, 2011:65).

Jika dikaitkan dengan konteks tulisan ini, pendidikan hadap masalah membantu kita mendekonstruksi sistem yang telah mapan dengan meninggalkan pola-pola lama yang bersifat doktrin, sebagai metode pendidikan yang membebaskan. Sebagaimana diungkapkan oleh kolega Freire, siapa pun yang menaruh perhatian pada pendidikan, bisa melawan Freire atau bersama Freire. Namun, yang jelas, mereka tidak bisa terlepas dari pengaruh Freire. Gagasan Freire sendiri telah menunjukkan bahwa pendidikan tidak pernah bebas nilai, ia akan selalu berpihak, entah pada pembebasan atau penindasan.

*)Penulis adalah mahasiswa prodi S1 Sastra Indonesia Unesa