REKAYOREK.ID Momentum tanggal 31 Mei selalu diperingati sebagai hari jadi Kota Pahlawan. Tepat pada tahun 2026 ini, Surabaya merayakan hari ulang tahunnya yang ke-733, sebuah usia yang dihitung sejak momentum sejarah pada 31 Mei 1293.
Sejarah panjang kota ini menanamkan nilai luhur berupa keberanian. Sebuah sikap ksatria untuk menantang marabahaya dan teguh berdiri di atas garis kebenaran.
Napas perjuangan Surabaya sejatinya berakar dari arti namanya sendiri. Diambil dari kosakata Śūra (berani) dan Bhaya (bahaya) yang termaktub dalam Prasasti Canggu tahun 1358 M, keberanian telah menjadi urat nadi kota ini sejak dahulu kala.
Warisan nilai keberanian ini patut terus diingat oleh generasi penerus. Dalam catatan sejarah, manifestasi keberanian tersebut tampak nyata saat rakyat Surabaya berani berhadapan dengan tentara Sekutu yang ditumpangi Belanda, sesaat sebelum meletusnya pertempuran mahadahsyat pada 10 November 1945.
Aksi heroik massa dalam melawan kepungan tentara asing tersebut mustahil dilepaskan dari figur Bung Tomo. Lewat pidato-pidatonya yang membakar semangat dari corong Radio Pemberontakan di Jalan Mawar Nomor 10-12 Surabaya, ia berhasil menyatukan tekad rakyat.
Meski tanpa menggenggam senjata api di tangannya, Bung Tomo tidak gentar. Senjata utamanya adalah goresan tinta dan kepiawaian merangkai kata. Mengandalkan pemancar radio rakitan yang berlokasi di Jalan Mawar tersebut, orasi-orasi Bung Tomo sukses menggerakkan ribuan massa untuk melawan.
Namun, 71 tahun berselang sejak masa revolusi, tepatnya di tahun 2016, bangunan bersejarah tempat penyiaran radio itu justru diratakan dengan tanah. Kini di lokasi tersebut telah berdiri bangunan baru milik pribadi yang dijaga ketat oleh sekuriti dan polisi, sebuah pemandangan yang terasa asing dari nilai-nilai nasionalisme dan sejarah perjuangan.
Guna merawat ingatan publik atas situs sejarah yang hilang itu, memoar perjuangan Bung Tomo kemudian dirangkai lewat serangkaian artikel di media massa. Tulisan-tulisan yang awalnya berupa laporan pandangan mata pasca-pembongkaran tersebut akhirnya dibukukan, hingga puncaknya dikirimkanlah sepucuk surat kepada Presiden untuk melaporkan hilangnya aset sejarah tersebut.
Laporan tersebut rupanya mendapat perhatian khusus. Pada pelaksanaan Rakernas Kepala Daerah se-Indonesia tanggal 2 Februari 2026, Presiden secara langsung mempertanyakan keberadaan rumah bersejarah yang menjadi saksi bisu tempat Bung Tomo mengumandangkan orasinya lewat radio.
Buku bertajuk “Reportase Jejak Perjuangan Bung Tomo di Mawar 10-12 Surabaya” hadir sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut. Karya ini dikemas secara menarik dengan turut menghadirkan putra kandung Bung Tomo, Bambang Sulistomo, yang datang langsung dari Jakarta.
Peluncuran buku ini dilaksanakan tepat pada 31 Mei 2026 pukul 10.00 WIB di RRI Surabaya. Momen ini sengaja dipilih bersamaan dengan perayaan HUT Kota Surabaya ke-733 untuk menegaskan kembali simbol keberanian kota ini.
Agenda ini digelar dengan tujuan utama merawat memori kolektif masyarakat akan ketangguhan dan keberanian Surabaya, yang pondasinya telah ditanamkan dengan kokoh oleh Bung Tomo.@nang