Parsons, Giddens, Bourdieu, Foucault: Mereka Sedang Bertengkar di Buku Ini

Oleh: Much. Khoiri

Judul Buku: Anatomi Teori Sosial II: Teknik Bedah Teori Untuk Rekonstruksi Teori Baru dalam Penelitian
Penulis: Muhammad Farid, dkk.
Pengantar: Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si.
Penerbit: PT. Pustaka Saga Jawadwipa, Surabaya
Tahun Terbit: Maret 2025
Tebal: 295 halaman
ISBN: 978-634-7188-03-8

Pengantar

“Teori mana yang harus saya gunakan?” Itulah pertanyaan mendasar yang kerap menghantui para peneliti sosial. Lebih dari sekadar memilih, pertanyaan sesungguhnya adalah: “Bagaimana saya membedah, memahami, dan merekonstruksi teori untuk kepentingan penelitian saya?”

Buku Anatomi Teori Sosial II: Teknik Bedah Teori untuk Rekonstruksi Teori Baru dalam Penelitian (2025) hadir sebagai jawaban atas kegelisahan tersebut. Ditulis oleh sembilan alumni Program Doktor FISIP Universitas Airlangga angkatan 2010, buku ini merupakan “sekuel” dari buku Anatomi Teori Sosial yang terbit pada tahun 2010 (hlm. iii).

Sejalan dengan Pengantar Editor, buku ini lahir dari “dahaga para punggawa, khususnya para guru besar FISIP Universitas Airlangga yang terus-menerus ‘menagih janji’ para penulis” (hlm. iii). Dengan pendekatan “bedah teori”, buku ini menawarkan sesuatu yang langka di tengah banjir literatur teori sosial: ia tidak sekadar menjelaskan teori, tetapi juga membongkar anatominya hingga ke akar-akar filosofis, sosiologis, dan metodologis.

Tinjauan Buku

Ada sepuluh teori sosial utama yang menjadi pilar dalam ilmu sosiologi dan antropologi, ditulis oleh para penulis sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.

Bagian pertama mengupas Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead, yang menekankan pentingnya simbol dan interaksi dalam membentuk identitas serta makna dalam kehidupan sosial. Penulis Muhammad Farid dengan cermat menguraikan pengaruh filsafat pragmatisme dan behaviorisme psikologis dalam pembentukan teori Mead, serta memperkenalkan tiga kata kunci utama: Mind, Self, dan Society (hlm. 11-12). Menurut Mead, “masyarakat mencerminkan sekumpulan tanggapan terorganisir yang diambil alih oleh individu dalam bentuk aku ‘me'” (hlm. 15).

Bagian kedua membahas Struktural Fungsional Robert K. Merton, yang ditulis oleh Abdul Main. Penulis menunjukkan bagaimana Merton mengoreksi postulat-postulat fungsionalisme klasik dengan memperkenalkan konsep fungsi nyata (manifest) dan fungsi tersembunyi (latent), serta konsep anomie sebagai hasil ketidakserasian antara tujuan kultural dan sarana kelembagaan (hlm. 32-34).

Bagian Ketiga mengupas Imajinasi Sosiologi C. Wright Mills, di mana Arie Wahyu Prananta menjelaskan bagaimana Mills mempertemukan personal trouble dan public issue dalam sebuah ruang analisis yang disebut imajinasi sosiologis (hlm. 57-58).

Mills percaya bahwa “dengan imajinasi sosiologis, seseorang dapat memahami pandangan historis yang lebih luas… kegelisahan pribadi para individu dipusatkan pada kesulitan-kesulitan eksplisit dan diubah menjadi keterlibatan dengan isu publik” (hlm. 57-58).

Buku Anatomi Teori Sosial II: Teknik Bedah Teori Untuk Rekonstruksi Teori Baru dalam Penelitian. Foto: dok.penulis

 

Bagian keempat mengupas Teori Strukturasi Anthony Giddens oleh Rr. Nanik Setyowati. Gagasan sentral Giddens adalah dualitas struktur, di mana “struktur bukanlah realitas yang berada di luar pelaku, melainkan aturan dan sumber daya yang mewujud pada saat diaktifkan oleh pelaku dalam suatu praktik sosial” (hlm. 124-125). Bagian kelima membahas Teori Pertukaran Georg Homans oleh Mohammad Adib, yang menekankan enam proposisi: sukses, stimulus, nilai, deprivasi-kejemuan, persetujuan-agresi, dan rasionalitas (hlm. 154).

Bagian keenam mengupas Teori Kritis Max Horkheimer oleh Oksiana Jatiningsih, yang menyoroti kritik Horkheimer terhadap rasio instrumental dalam masyarakat modern. Bagian ketujuh membahas Habitus, Doxa, dan Kekerasan Simbolik Pierre Bourdieu oleh Sanggam Magda Lasmaria Siahaan. Bourdieu memandang habitus sebagai “sistem disposisi yang berlangsung lama dan berulang-ulang yang berfungsi sebagai basis generatif bagi praktik-praktik yang terstruktur” (hlm. 202).

Bagian kedelapan mengupas Post-Strukturalisme Derrida dan Foucault oleh Moch. Muwaffiqillah, dengan fokus pada dekonstruksi Derrida dan genealogi Foucault.

Bagian kesembilan membahas Strukturalisme Claude Lévi-Strauss dalam Antropologi oleh Joni Rusmanto dan Ester Sonya Ulfaritha.

Bagian Kesepuluh mengupas Fenomenologi Sosial Alfred Schutz oleh Muhammad Farid, dengan penekanan pada konsep lifeworld dan intersubjektivitas (hlm. 266-268).

Di sini setiap bab mengikuti anatomi teori yang sistematis: konteks sosial, pengaruh pemikiran, latar belakang sosial teoretisi, pertanyaan teoretik, jenis penjelasan, kata kunci dan proposisi, jenis realitas sosial, lingkup realitas sosial, aktor otonom, lokus penjelasan otonom, asumsi tentang individu dan masyarakat, metodologi, bias nilai, serta kritik terhadap teori. Struktur ini memudahkan pembaca untuk membandingkan teori satu dengan lainnya secara sistematis.

Evaluasi Buku

Sekarang perhatikan. Kekuatan utama buku ini terletak pada metode “bedah teori” yang sistematis dan komparatif. Tidak seperti buku teori sosial pada umumnya yang hanya memaparkan teori secara naratif, buku ini membedah setiap teori ke dalam komponen-komponen analitis yang sama, sehingga pembaca dapat dengan mudah membandingkan posisi ontologis, epistemologis, dan aksiologis masing-masing teori. Sebagaimana ditegaskan dalam Pengantar oleh Prof. Bagong Suyanto, “buku ini telah disusun dengan baik dan sistematis” (hlm. viii).

Kekuatan lain adalah kolektivitas penulisan. Dengan sembilan penulis dari berbagai latar belakang keilmuan, buku ini menawarkan perspektif yang kaya dan beragam. Setiap penulis menulis sesuai dengan bidang keahliannya, sehingga pembahasan menjadi mendalam dan otoritatif. Buku ini juga lengkap dengan kritik terhadap setiap teori, baik kritik internal dari para pemikir lain maupun kritik eksternal dari perspektif yang berbeda. Misalnya, dalam bab tentang Struktural Fungsional Merton, penulis memaparkan kritik dari C. Wright Mills, Szymanski, George Homans, David Lockwood, hingga Jürgen Habermas (hlm. 45-47).

Namun, jika dicermati, buku ini bukannya tanpa kelemahan. Pertama, meskipun teori struktur anatomi sudah sistematis, terdapat inkonsistensi gaya penulisan antarbab. Sebagaimana dicatat oleh Prof. Bagong Suyanto dalam Pengantarnya, “terdapat sejumlah bab memiliki gaya penulisan yang berbeda, baik dalam hal struktur maupun penggunaan bahasa” (hlm. viii). Kedua, kedalaman analisis kritis antar bab tidak merata. Beberapa bab sangat tajam dalam mengkritik teori yang dibahas, sementara bab lainnya cenderung deskriptif.

Ketiga, contoh penerapan teori dalam konteks Indonesia masih sangat minim. Buku ini lebih banyak berbicara tentang teori dalam konteks asalnya (Barat), tanpa banyak memberikan ilustrasi bagaimana teori-teori tersebut dapat diaplikasikan untuk memahami realitas sosial Indonesia. Keempat, buku ini sangat padat dan mungkin terasa berat bagi pembaca pemula yang baru pertama kali mengenal teori sosial.

Rekomendasi

Buku ini sangat direkomendasikan untuk mahasiswa S1, S2, dan S3 di bidang ilmu sosial (sosiologi, antropologi, ilmu politik, komunikasi, dan kependidikan) yang sedang mempelajari teori sosial atau menyusun proposal penelitian. Para peneliti sosial akan mendapatkan manfaat besar dari kerangka “bedah teori” yang ditawarkan, terutama dalam hal memilih dan merekonstruksi teori untuk kepentingan penelitian mereka. Dosen dan pengajar dapat menggunakan buku ini sebagai referensi utama dalam mata kuliah Teori Sosial, karena setiap bab sudah dilengkapi dengan pertanyaan teoretik, kata kunci, proposisi, hingga kritik terhadap teori.

Bagi pembaca yang menginginkan pengantar teori sosial yang lebih ringan dan aplikatif, buku ini mungkin terasa terlalu teknis dan terlalu padat. Namun, bagi mereka yang serius ingin mendalami teori sosial secara sistematis dan komparatif, Anatomi Teori Sosial II adalah salah satu buku rujukan berbahasa Indonesia terbaik yang tersedia saat ini. Sebagai “sekuel” dari buku pertama yang terbit 15 tahun sebelumnya, buku ini menegaskan bahwa tradisi bedah teori sosial di Indonesia tidak hanya hidup, tetapi juga berkembang.@

*) Much. Khoiri (nama pena Dr. Drs. Much. Koiri, M.Si.) adalah penulis & editor, dosen Kajian Sastra/Budaya dan Menulis Kreatif dari Unesa Surabaya; founder Rumah Virus Literasi.