REAYOREK.ID — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya, menggelar Dies Natalis ke-30 pada Minggu (7/6/2026) pukul 18.00–21.00 WIB di lobi depan Gedung UIN Sunan Ampel Surabaya 2. Mengusung tema “Alur Asa”, perayaan ini menjadi momentum refleksi perjalanan tiga dekade Sabda Theatre dalam menjaga semangat berkesenian, kaderisasi, dan keberlanjutan teater kampus.
Di balik kemeriahan acara, terdapat cerita perjuangan yang menarik. Pihak fakultas hanya memberikan izin penggunaan lokasi selama satu hari, mulai pukul 12.00 WIB hingga 21.00 WIB. Dengan waktu yang sangat terbatas tersebut, seluruh kebutuhan teknis, penataan panggung, tata artistik, hingga pelaksanaan pertunjukan harus dipersiapkan dan diselesaikan dalam hitungan jam.
Meski bukan gedung pertunjukan, teras lobi kampus berhasil disulap menjadi ruang teater yang representatif dan memukau. Seluruh panitia, kru, pemain, dan pendukung acara bekerja secara gotong royong, memahami tugas masing-masing, dan menyelesaikannya dengan baik. Semangat kerja kolektif yang ditunjukkan mengingatkan pada kisah Roro Jonggrang yang harus menyelesaikan pekerjaan besar dalam waktu yang singkat. Bahkan sebelum batas waktu penggunaan lokasi berakhir, seluruh rangkaian acara dapat dituntaskan dengan baik.
Puncak acara diisi dengan pementasan teater berjudul “Kuning”, karya Mohamad Nizar Rahmanto, S.Hum., seorang seniman teater kampus Surabaya. Pementasan ini disutradarai oleh Ketua Sabda Theatre, Siti Zahrotul Janah.
Naskah Kuning mengisahkan perjalanan seorang gadis muda yang meninggalkan rumah dan keluarganya demi mengejar kehidupan yang dianggap lebih baik. Di tengah keinginannya meraih kebahagiaan dan kemakmuran, ia mengabaikan harapan sang ibu yang terus memintanya untuk pulang.
Dalam pengembaraannya, Kuning bertemu dengan Panji, sosok misterius yang menawarkan jalan pintas untuk mewujudkan segala impiannya. Terbuai oleh harapan dan ambisi yang besar, Kuning menaruh kepercayaan penuh kepada Panji tanpa menyadari bahwa di balik tawaran tersebut tersimpan bahaya yang mengancam dirinya.
Melalui perjalanan tokoh Kuning, pertunjukan ini menghadirkan refleksi tentang ambisi, godaan, dan pilihan hidup. Kisah tersebut mengajak penonton merenungkan pentingnya kebijaksanaan dalam mengambil keputusan serta menyadari bahwa kasih sayang keluarga sering kali menjadi pelindung paling tulus dalam kehidupan.
Selain pementasan teater, Dies Natalis ke-30 Sabda Theatre juga menghadirkan berbagai pertunjukan sastra dan budaya. Dewi membacakan puisi karya Wiji Thukul, sementara para alumni Sabda Theatre membawakan puisi-puisi karya WS Rendra.
Salah satu penampil, Menying Lucas, membacakan karya WS Rendra sekaligus memperkenalkan istilah “Merendra”, sebuah ajakan untuk kembali membaca, mengenal, dan menghidupkan karya-karya WS Rendra di kalangan generasi muda agar tetap relevan dan dikenang sepanjang masa.
Acara juga menghadirkan kolaborasi pembacaan puisi berjudul Tanpa Judul yang dibawakan oleh mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, sastra inggris, Program Studi Sejarah Peradaban Islam. Kolaborasi ini menjadi simbol perjumpaan lintas disiplin ilmu melalui ruang sastra dan kesenian.
Sebagai pembuka acara, ditampilkan Tari Milu Sarju dari Banyuwangi. Tarian ini mengandung makna sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, perayaan atas keberhasilan yang diraih melalui perjuangan, serta simbol ketekunan hidup yang membuahkan hasil. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan perjalanan Sabda Theatre yang telah bertahan dan berkembang selama tiga puluh tahun.
Tema “Alur Asa” menjadi benang merah seluruh rangkaian Dies Natalis tahun ini. Menjaga alur dimaknai sebagai upaya melanjutkan nilai, tradisi, dan perjuangan yang telah dibangun oleh generasi-generasi sebelumnya. Sementara merawat asa berarti tetap percaya pada mimpi, menjaga fokus terhadap tujuan, dan menatap masa depan Sabda Theatre dengan optimisme meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan dan keterbatasan.
Dalam sesi wawancara, Ketua Sabda Theatre, Siti Zahrotul Janah, menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan seni di Surabaya, khususnya dunia teater.
“Saya melihat perkembangan seni di Surabaya, khususnya teater, cukup positif. Saat ini semakin banyak ruang bagi anak muda untuk berekspresi, baik melalui pertunjukan, festival, maupun media digital yang membantu karya-karya seni dapat dijangkau lebih banyak orang,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi komunitas teater saat ini adalah menjaga semangat berkesenian dan regenerasi.
“Tantangannya tentu tidak sedikit. Namun, tantangan terbesar saat ini yang saya rasakan adalah menjaga semangat berkesenian dan regenerasi komunitas. Di sisi lain, saya melihat banyak peluang melalui kolaborasi dan kreativitas generasi muda. Perubahan yang terjadi justru mendorong kami untuk terus beradaptasi, berkembang, dan menjaga teater tetap hidup di tengah masyarakat,” tambahnya.
Pada usia yang ke-30 tahun, Sabda Theatre menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang belajar, berkarya, dan bertumbuh bagi generasi muda. Tiga dekade perjalanan ini menjadi bukti bahwa teater kampus tidak hanya bertahan sebagai organisasi, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter, pengembangan kreativitas, dan pengabdian kebudayaan.
“Saya bersyukur bisa menyaksikan Sabda Theatre tetap bertahan hingga usia 30 tahun. Di tengah berbagai tantangan yang ada, saya percaya bahwa selama masih ada orang-orang yang mau belajar, berkarya, dan menjaga kecintaannya terhadap teater, maka harapan itu akan selalu ada,” tutup Siti Zahrotul Janah.
Perayaan Dies Natalis ke-30 ini menjadi bukti bahwa semangat berkesenian di lingkungan kampus masih terus hidup. Dengan segala keterbatasan yang ada, Sabda Theatre menunjukkan bahwa kerja kolektif, proses kaderisasi, dan kecintaan terhadap seni mampu melahirkan pertunjukan yang bermakna. Sejarah tidak mencatat siapa kita, melainkan apa yang kita lakukan.@peq