Prasasti Canggu dan Catatan Ma Huan Tentang Kali Surabaya

Ada empat "kota" di Jawa (Jawa Timur) yang tidak memiliki tembok tapi merupakan kota kota penting di Jawa. Kota kota tersebut adalah Tuban, Gresik, Surabaya dan Majapahit.

REKAYOREK.ID Pelabuhan Canggu yang tersebut dalam Prasasti Canggu (1358 M), yang dibuat oleh Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit, dideskripsikan letaknya oleh Ma Huan (1415 M) dalam kitab Ying Yai Sheng Lan.

Ma Huan merupakan penerjemah resmi yang mendampingi Cheng Ho. Pada 1412, dia menerima tugas pertama dari Kerajaan Ming untuk menemani sang laksamana berlayar ke banyak negeri, termasuk ke Jawa.

Dalam catatan Ma Huan (1415), bahwa ada empat “kota” di Jawa (Jawa Timur) yang tidak memiliki tembok tapi merupakan kota kota penting di Jawa. Kota kota tersebut adalah Tuban, Gresik, Surabaya dan Majapahit. Tuban adalah pelabuhan laut besar yang menjadi pendaratan kapal kapal dari manca negara.

Dari Tuban, bila berlayar ke timur selama setengah hari, maka akan sampai di Xincun (desa baru), atau apa yang disebut oleh penduduk setempat sebagai Gresik. Pada awalnya tempat itu hanyalah wilayah pantai berpasir yang kosong. Orang Tionghoa lalu datang. Mereka menetap di sana dan menamakannya Xincun.

Ma Huan mencatat ada empat “kota” di Jawa (Jawa Timur) yang tidak memiliki tembok tapi merupakan kota kota penting di Jawa. Foto: Ist

 

Dari Xincun atau Gresik bila berlayar ke selatan lebih dari 20 li (12 km), akan tiba di Su-lu-ma-yi. Tempat itu diberi nama oleh penduduk setempat Su-er-ba-ya (Surabaya). Di sana terdapat seorang kepala desa. Dia mengatur penduduk yang jumlahnya 1000 keluarga. Di antaranya, juga ada orang-orang Tiongkok.

Dari Surabaya, dengan perahu kecil menyusuri sungai ke arah selatan sejauh 70-80 li (42 km), maka akan sampai di sebuah pasar yang juga sebuah pelabuhan bernama Zhang-gu (Canggu).

Canggu terletak lebih dekat dengan pusat kota Majapahit dibandingkan dengan kota kota lain seperti Surabaya, Gresik dan Tuban. Posisi Canggu berada di utara kota raja Majapahit.

Setelah turun dari perahu di pelabuhan Canggu, lalu berjalan kaki ke arah selatan selama satu setengah hari, maka sampailah di kota raja Majapahit. Dalam catatan Ma Huan, di Majapahit tinggallah seorang raja dengan penduduk sebanyak 300 keluarga. Tujuh atau delapan orang tetua membantu raja.

Demikianlah isi catatan Ma Huan “Ying Yai Sheng Lan”, yang merupakan sumber penting dari Tiongkok yang banyak bercerita tentang kerajaan Majapahit.

Dari deskripsi Ma Huan ini, kita bisa mengetahui bahwa Kali Surabaya, yang merupakan anak Kali Brantas dan bermuara di selat Madura, menjadi urat nadi pelayaran sungai dan sekaligus perdagangan dan perekonomian bagi Majapahit. Meski yang menyusuri Kali Surabaya ini adalah perahu perahu kecil. Sementara kapal kapal besar, yang pada akhirnya bisa sampai langsung ke Pelabuhan Canggu, aksesnya melalui Kali Brantas yang bermuara di Laut Jawa. Termasuk kapal kapal dari Nusantara bagian timur yang membawa komoditas rempah rempah.

Prasasti Canggu. Foto: Ist

 

Komoditas yang diperdagangkan di pelabuhan Canggu selain rempah rempah, meliputi beras, kelapa, pisang untuk skala lokal dan kain, keramik serta logam untuk skala internasional seperti dari India dan Tiongkok.

Dari kedua catatan, Prasasti Canggu yang dibuat oleh Raja Hayam Wuruk (1358 M) dan “Ying Yai Sheng Lan” yang ditulis Ma Huan (1415 M) ada kesamaan mengenai jalur sungai yang menjadi lalu lintas air yang menghubungkan Canggu (Majapahit) dan Surabaya sebagai pelabuhan yang dekat dengan Laut lepas. Jalur air ini tidak lain adalah Kali Surabaya yang merupakan anak Kali Brantas.

Hingga memasuki masa kolonial (1612 – 1950), Kali Surabaya ini masih tetap dimanfaatkan sebagai jalur transportasi dan komunikasi air. Bahkan untuk mengatur lalu lintas air, di Mirip yang merupakan hulu Kali Surabaya sebagai perpecahan (anak) Kali Brantas dibangun pintu air (Sluis) yang cukup besar.

Melihat temuan di lapangan, bahwa proyek pintu air (sluis) ini dibangun pada 1840 an. Tidak cuma di Mirip, di Gunungsari, Ngagel dan Gubeng (Surabaya), juga dibangun infrastruktur transportasi dan komunikasi air. Hingga sekarang bekas dari bangunan sluis di Mirip, Gunungsari, Ngagel dan Gubeng masih bisa dilihat, tapi sudah tidak bisa beroperasi lagi.

Gambaran pelabuhan rakyat. Foto: Ist

 

Pembangunan sluis di masing masing titik ini selalu sepasang. Ada jalur untuk ke arah utara dan juga ada jalur untuk perahu perahu yang bergerak ke arah selatan.

Semua ini menunjukkan bahwa Kali Surabaya, yang berhulu dekat Pelabuhan Canggu, adalah jalur lalu lintas air yang sangat penting.

Melalui jalur inilah perkembangan dan pembangunan baik di Surabaya maupun di daerah daerah yang dilalui Kali Surabaya terjadi cukup pesat. Maklum, kala itu, sungai masih menjadi urat nadi perekonomian, perdagangan, perhubungan dan komunikasi.

Bagaimana sekarang? [nanang]

kali surabayasurabaya
Komentar (0)
Tambah Komentar