Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) Terima Anugerah Gelar Adat Kehormatan “Baginda Pemuka Bangsa”

Tak ada Panggung Kampanye

REKAYOREK.ID – Di tengah berbagai dinamika politik yang masih mewarnai ruang publik setelah menuntaskan masa pengabdiannya sebagai Presiden Republik Indonesia, kehadiran Joko Widodo di Lampung menghadirkan pemandangan yang berbeda. Tidak ada panggung kampanye, tidak pula agenda kenegaraan. Yang tersaji justru sebuah perjumpaan antara pemimpin nasional dan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat adat.

Sejak pagi hari, kawasan Kedatun Keagungan di Lampung dipadati para penyimbang adat, tokoh masyarakat, budayawan, serta warga yang datang dari berbagai penjuru daerah. Suasana berlangsung khidmat, diwarnai nuansa adat yang kuat dan penghormatan terhadap tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Lampung selama berabad-abad.

Dalam prosesi tersebut, lima kerajaan adat Lampung menganugerahkan gelar kehormatan Baginda Pemuka Bangsa kepada Joko Widodo. Pemberian gelar itu menjadi simbol penghargaan atas peran dan pengabdiannya selama memimpin Indonesia selama dua periode, sekaligus mencerminkan penghormatan masyarakat adat terhadap sosok yang dinilai memiliki kontribusi bagi bangsa dan negara.

Kunjungan Joko Widodo ke Lampung kali ini menghadirkan suasana yang berbeda dari agenda politik pada umumnya. Mantan Presiden Republik Indonesia itu hadir bukan untuk menghadiri kegiatan pemerintahan maupun pertemuan politik, melainkan memenuhi undangan masyarakat adat Lampung dalam sebuah prosesi budaya yang sarat nilai dan makna.

Ratusan tokoh adat, penyimbang, budayawan, dan warga memadati kawasan Kedatun Keagungan sejak Sabtu pagi. Mereka berkumpul untuk menyaksikan prosesi penganugerahan gelar adat yang berlangsung khidmat dan penuh penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Dalam kesempatan tersebut, lima kerajaan adat Lampung menganugerahkan gelar kehormatan Baginda Pemuka Bangsa kepada Joko Widodo. Gelar itu diberikan sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian dan kontribusinya selama memimpin Indonesia dalam dua periode pemerintahan.

Tanpa Panggung Kampanye

Bagi masyarakat adat Lampung, sebuah gelar bukan sekadar penghormatan yang disematkan dalam sebuah upacara seremonial. Di baliknya terdapat nilai, tanggung jawab, serta doa yang menyertai penerimanya agar senantiasa memberikan manfaat, keteladanan, dan pengabdian bagi masyarakat serta bangsa.

Rangkaian prosesi adat diawali dengan semangat Nemui Nyimah, falsafah hidup masyarakat Lampung yang menempatkan keramahan, penghormatan kepada tamu, dan keterbukaan terhadap sesama sebagai nilai utama dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut telah diwariskan lintas generasi dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Lampung.

Filosofi itu pula yang selama ini mengikat kehidupan masyarakat di Sai Bumi Ruwa Jurai, sebutan bagi Lampung yang mencerminkan persatuan dan harmoni antara dua komunitas adat besar, yakni Pepadun dan Saibatin.

Di mata masyarakat adat Lampung, gelar adat bukanlah sekadar simbol kehormatan yang berhenti pada sebuah prosesi. Ia adalah amanah yang memuat harapan, doa, dan tanggung jawab moral agar pemiliknya terus menebarkan manfaat bagi sesama serta menjaga nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Prosesi tersebut dibingkai oleh semangat Nemui Nyimah, falsafah hidup masyarakat Lampung yang mengajarkan pentingnya menghormati tamu, menjunjung kebersamaan, dan membuka diri terhadap perbedaan. Nilai itu telah hidup dan bertahan selama ratusan tahun, menjadi perekat kehidupan masyarakat Sai Bumi Ruwa Jurai—tanah yang menaungi keberagaman dua tradisi besar Lampung, Pepadun dan Saibatin

Jokowi tampak mengikuti setiap tahapan prosesi dengan penuh penghormatan terhadap tata cara adat yang berlaku. Mengenakan busana adat Lampung lengkap, ia menjalani rangkaian ritual yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat, mulai dari prosesi penyambutan hingga pengukuhan gelar kehormatan yang diberikan oleh para penyimbang adat.

Namun bagi masyarakat yang hadir, peristiwa itu memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar penganugerahan gelar kepada seorang mantan presiden. Di balik setiap tahapan prosesi, tersimpan pesan tentang pentingnya menjaga warisan budaya di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.

Di era globalisasi, masyarakat adat di berbagai daerah kerap dihadapkan pada tantangan antara mempertahankan identitas budaya atau menyesuaikan diri dengan arus modernisasi. Karena itu, setiap ruang yang menghadirkan tradisi ke tengah kehidupan publik menjadi pengingat bahwa budaya lokal bukanlah peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari masa depan yang harus terus dirawat.

Lampung sendiri dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki kekayaan budaya yang kuat dan beragam. Kain tapis yang menjadi kebanggaan masyarakat Lampung, rumah adat Nuwo Sesat, hingga aksara Lampung merupakan sebagian dari warisan leluhur yang hingga kini terus dijaga keberlangsungannya oleh masyarakat, budayawan, dan kalangan akademisi.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat adat yang tetap teguh menjaga tradisi dan nilai-nilai warisan nenek moyang. Menurutnya, pembangunan bangsa tidak cukup hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan infrastruktur semata.

Pembangunan kebudayaan, kata dia, memiliki posisi yang sama pentingnya. Jalan dapat dibangun, jembatan dapat menghubungkan wilayah, dan gedung-gedung dapat berdiri megah, tetapi jati diri sebuah bangsa hanya akan tetap bertahan apabila masyarakatnya terus menjaga akar budaya yang dimilikinya.

Pandangan tersebut mendapat sambutan hangat dari para tokoh adat yang hadir. Mereka meyakini bahwa penghormatan terhadap adat dan budaya lokal merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga persatuan Indonesia yang dibangun di atas keberagaman suku, bahasa, dan tradisi.

Jumpa Lintas Budaya

Antusiasme masyarakat pun terlihat sejak pagi hari. Warga dari berbagai daerah di Lampung memadati lokasi acara untuk menyaksikan secara langsung prosesi adat tersebut. Sebagian datang bersama keluarga, sementara yang lain mengabadikan momen bersejarah itu melalui telepon genggam mereka.

Bagi sebagian masyarakat Lampung, kehadiran Jokowi juga memiliki makna emosional tersendiri. Hubungan yang terjalin selama masa pemerintahannya meninggalkan kesan bagi sebagian warga, terutama ketika berbagai persoalan pembangunan di daerah tersebut sempat menjadi perhatian nasional.

Terlepas dari beragam pandangan politik yang berkembang di masyarakat, prosesi adat di Kedatun Keagungan memperlihatkan bahwa budaya sering kali mampu menghadirkan ruang perjumpaan yang melampaui batas-batas politik dan perbedaan pilihan.

Di hadapan para sultan, penyimbang adat, dan masyarakat yang memenuhi halaman rumah adat, yang tampak bukan semata seorang mantan kepala negara yang menerima penghormatan. Yang terlihat adalah pertemuan antara seorang anak bangsa dengan masyarakat adat yang tengah menunjukkan kepada publik bahwa tradisi mereka masih hidup, masih dijaga, dan tetap memiliki tempat terhormat di tengah kehidupan modern.

Barangkali itulah pesan paling penting dari peristiwa tersebut: bahwa di tengah perkembangan teknologi, dinamika politik, dan perubahan zaman yang begitu cepat, Indonesia tetap berdiri di atas fondasi yang sama, yakni keberagaman budaya yang dirawat oleh masyarakatnya sendiri.

Dari Lampung, pesan itu kembali dipertegas bahwa sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh jalan raya, gedung pencakar langit, atau angka pertumbuhan ekonomi. Bangsa juga dibangun oleh adat, tradisi, dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sebab selama budaya tetap hidup, identitas bangsa pun akan tetap terjaga.@

Anugerah BagindaJokowi