REKAYOREK.ID Penulis spesialis sejarah dan romantika kota, Dukut Imam Widodo, mengungkap fakta mengejutkan di balik hilangnya semboyan pada lambang Kota Surabaya. Penulis buku Soerabaia Tempo Doeloe ini menjadi saksi hidup atas pengakuan sang perancang logo yang mengaku alpa menyertakan sesanti tersebut.
Perancang Tunggal di Balik Logo Kota
Menurut kesaksian Dukut, perancang lambang Surabaya saat ini bekerja secara mandiri tanpa tim. Momentum pertemuan mereka terjadi pada tahun 2002, bertepatan dengan momen penandatanganan buku karyanya oleh Walikota Surabaya saat itu, Cak Narto.
“Kayaknya ndak ada tim. Dia pemain tunggal. Saya ingat sekarang. Th 2002 saya ketemu orangnya pada waktu Cak Narto menandatangani pencanangan buku Soerabaia Tempo Doeloe”, jelas Dukut.
Secara visual, lambang tersebut berbentuk perisai segi enam berwarna biru yang menonjolkan Tugu Pahlawan serta ikon Hiu dan Buaya. Namun, berbeda dengan versi awal yang mencantumkan tulisan “Sura ing Baya”, versi terbaru ini justru tampil polos tanpa teks semboyan sama sekali.
Sejarah Singkat Penetapan Lambang
Secara historis, lambang Kota Surabaya ditetapkan melalui Putusan DPRDS Kota Besar Surabaya No. 34/DPRDS pada 19 Juni 1956. Desain ini muncul untuk mempertegas posisi Tugu Pahlawan sebagai ikon kota setelah diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1952.
Sebuah Pengakuan “Manusiawi”
Setelah membaca ulasan mengenai hilangnya semboyan tersebut di media ini, Dukut langsung memberikan tanggapan melalui pesan singkat. Ia mengonfirmasi bahwa hilangnya kalimat sakral tersebut murni karena faktor ketidaksengajaan dari sang desainer.
“Saya dapat informasi dari si pembuat logo terakhir Surabaya (logo sekarang), bahwa dia kelupaan mencantumkan sesanti tersebut. manusiawi.” tulis Dukut dalam pesan singkat WA.
Dukut menceritakan kembali momen saat dirinya diperkenalkan kepada sang perancang oleh Kepala Dinas Pariwisata kala itu. Saat ditanya mengenai ketiadaan sesanti pada logo Surabaya dibandingkan kota lain atau provinsi Jawa Timur, jawaban sang desainer justru sangat santai.
“Lha, iki aku sing lali jenenge. Karo KaDispar-waktu iku; aku dikenalno karo wong iki. Aku langsung takok nang dewek-e: “Kota Malang punya sesanti ‘Malang Kucecwara’. Jawa Timur sesantine ‘Suradiro…Lebur Dening Pangastuti’. Lha Surabaya sesantine opo?” Tanpa merasa bersalah dia njawab santai: “Aku lali, Mas…”, begitu cerita Dukut mengingat dialognya dengan orang yang ikut merancang logo kota Surabaya.
Sungguh ironis melihat bagaimana sebuah identitas adiluhung kota sebesar Surabaya bisa hilang hanya karena faktor lupa. Padahal, kota lain seperti Kediri tetap teguh mempertahankan sesanti “Djaja ing Baja”. “Sura ing Baya” sendiri memiliki makna mendalam: Berani Menghadapi Bahaya.
Urgensi Mengembalikan Makna
Jika kekhilafan ini terus dibiarkan tanpa koreksi, maka para pemangku kepentingan seolah membiarkan sejarah kota terputus. Sesanti tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan ruh yang memberikan arah bagi karakter warga dan pemimpinnya dalam menghadapi tantangan zaman.
Dukut memperingatkan bahwa tanpa adanya pengawalan makna melalui sesanti “Sura ing Baya” (Berani Menghadapi Bahaya), kata “Surabaya” secara leksikal bisa disalahartikan. Tanpa konteks kepahlawanan, “Sura” dapat berarti minuman keras dan “Baya” berarti buaya, yang secara filosofis bisa diartikan sebagai kondisi “mabuk”.
Keterangan ini disampaikan bukan untuk memicu emosi, melainkan sebagai pengingat pentingnya menjaga literasi sejarah dan makna filosofis di balik nama sebuah kota agar tidak melenceng dari nilai aslinya.@PAR/nng