REKAYOREK.ID — Aksara, bahasa, dan sastra merupakan tiga bidang yang memiliki objek berbeda. Namun, ketiganya memiliki keterkaitan erat dalam membentuk, merekam, sekaligus menjaga identitas dan kebudayaan suatu masyarakat.
Aksara menjadi salah satu medium untuk merekam bahasa dan pengetahuan. Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi sekaligus pembawa nilai, gagasan, serta identitas masyarakat. Sementara sastra menjadi ruang kreatif yang mengolah bahasa menjadi karya yang merekam pengalaman, pemikiran, dan dinamika kehidupan manusia.
Keterkaitan tersebut menjadi semakin relevan ketika upaya pelestarian aksara tradisional dilakukan dengan pendekatan yang kreatif dan dekat dengan kehidupan generasi muda.
Salah satunya melalui peluncuran Kartu Aksara Jawa, sebuah media edukasi yang dikemas dalam bentuk permainan kartu dengan mengangkat unsur aksara dan budaya Jawa.
Kartu Aksara Jawa diluncurkan pada Kamis, 23 Juli 2026, pukul 15.30 WIB, di Galeri Prabangkara, Jalan Genteng Kali Nomor 85, Genteng, Surabaya.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Dr. Dra. Sri Untari, M.A.P. Kehadiran Kartu Aksara Jawa diharapkan menjadi salah satu alternatif kreatif untuk memperkenalkan aksara Jawa secara lebih dekat kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Tidak sekadar menampilkan bentuk aksara Jawa, kartu tersebut juga mengangkat unsur visual serta simbol-simbol budaya Jawa. Pendekatan itu diharapkan dapat membuat proses pengenalan aksara menjadi lebih menarik, interaktif, dan mudah diterima oleh masyarakat luas.
Sri Untari menilai, pelestarian budaya tidak cukup hanya mengandalkan pembelajaran formal. Diperlukan inovasi dan kreativitas agar warisan budaya tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Pelestarian budaya harus dilakukan dengan cara-cara kreatif dan inovatif. Aksara Jawa merupakan bagian penting dari identitas dan warisan budaya kita. Karena itu, perlu ada upaya untuk membuatnya lebih dekat dengan generasi muda,” ujar Sri Untari.
Menurutnya, kehadiran media kreatif seperti Kartu Aksara Jawa dapat menjadi jembatan antara tradisi dan generasi masa kini. Pendekatan melalui permainan dan visual dinilai mampu membuka ruang interaksi yang lebih menyenangkan, terutama bagi anak-anak dan kaum muda untuk mulai mengenal aksara Jawa.
Upaya tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian aksara tidak dapat dilepaskan dari pelestarian bahasa dan sastra. Ketika aksara digunakan untuk merekam bahasa, di dalamnya tersimpan pula pengetahuan, cerita, dan nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan antargenerasi.
Bahasa sendiri bukan sekadar alat komunikasi. Di dalam bahasa terdapat cara pandang dan pengalaman sebuah masyarakat. Sementara sastra menjadi salah satu ruang yang memungkinkan bahasa terus hidup, berkembang, dan diwariskan melalui karya-karya kreatif.
Dalam konteks kebudayaan Jawa, hubungan antara aksara, bahasa, dan sastra dapat dilihat dari keberadaan berbagai karya dan pengetahuan yang diwariskan melalui tulisan maupun tradisi lisan. Karena itu, upaya mengenalkan aksara Jawa kepada generasi muda pada saat yang sama juga membuka pintu untuk mengenal lebih jauh bahasa dan kesusastraan Jawa.
Pihak penggagas Kartu Aksara Jawa menyampaikan, produk tersebut dirancang bukan sekadar sebagai permainan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan pengenalan budaya.
Melalui kartu tersebut, masyarakat diajak mengenal aksara Jawa dengan cara yang lebih menyenangkan. Konsep visualnya juga berupaya mempertemukan kekayaan seni tradisi Jawa dengan pendekatan desain yang lebih modern.
Peluncuran Kartu Aksara Jawa menjadi bagian dari upaya memperluas ruang pengenalan aksara Jawa di tengah perkembangan teknologi dan budaya populer yang bergerak semakin cepat.
Di tengah generasi muda yang semakin akrab dengan dunia digital, aksara tradisional menghadapi tantangan untuk tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, inovasi edukasi berbasis permainan dan visual dapat menjadi salah satu pilihan untuk membawa aksara keluar dari kesan sebagai pengetahuan yang hanya ditemukan di ruang kelas, buku pelajaran, atau literatur kebudayaan.
Lebih jauh, pendekatan kreatif semacam ini juga dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal warisan budaya secara lebih luas. Dari mengenal bentuk aksara, mereka dapat berlanjut memahami bahasa, membaca karya sastra, hingga mengenal nilai dan sejarah yang terkandung di dalamnya.
Dengan demikian, aksara, bahasa, dan sastra memang merupakan objek yang berbeda. Namun, ketiganya saling terhubung dalam satu ekosistem kebudayaan.
Aksara merekam bahasa dan pengetahuan, bahasa menjadi medium komunikasi sekaligus identitas, sedangkan sastra mengolah bahasa menjadi ekspresi kreatif yang dapat merekam perjalanan kehidupan manusia.
Peluncuran Kartu Aksara Jawa di Galeri Prabangkara menjadi salah satu contoh bagaimana keterhubungan tersebut dapat diterjemahkan melalui inovasi. Aksara tidak hanya dilihat sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga diperkenalkan sebagai bagian dari kebudayaan yang dapat terus hidup dan berkembang mengikuti zaman.
Pada akhirnya, menjaga aksara berarti ikut membuka jalan bagi keberlangsungan bahasa dan sastra. Sebaliknya, menghidupkan bahasa dan sastra juga dapat memperkuat keberadaan aksara sebagai bagian dari identitas kebudayaan.
Upaya kreatif seperti Kartu Aksara Jawa diharapkan dapat menjadi salah satu langkah untuk memastikan warisan budaya tidak hanya dikenang, tetapi juga dipahami, digunakan, dan diwariskan kembali oleh generasi masa kini kepada generasi berikutnya.@