Surapringga Sebuah Negeri Besar

REKAYOREK.ID Nama lama Surabaya, yang dikenal dengan Surapringga, bukan sekedar cerita tutur. Nama Surapringga nyata adanya. Nama Surapringga tertulis dalam Aksara Jawa. Setidaknya, atas pelacakan Puri Aksara Rajapatni, ada tiga sumber otentik yang bisa menjadi rujukan.

Pertama, Surapringga tertulis pada sebuah prasasti terbuat dari logam tembaga saat pendirian Masjid Kemayoran Surabaya pada 1848 M.

Kedua, Surapringga tertulis pada uang logam dirham Inggris yang berangka tahun 1808.

Uang logam beraksara Jawa tahun 1808. Foto: dok Rajapatni

 

Ketiga, tertulis di dalam manuskrip yang ditulis di Pondok Pesantren Bureng Surabaya yang kini tersimpan di Qatar National Library (QNL) di kota Doha, Qatar. Dalam manuskrip itu, menurut pembacaan Diaz Naw Aksara, founder Nawaksara.id, Surapringga adalah sebuah Negari Gede (besar).

Di eranya, Aksara Jawa adalah alat komunikasi tertulis sehingga pencatatan, pendokumentasian dan lainnya ditulis menggunakan Aksara Lokal, yaitu Aksara Jawa. Namun seiring dengan berkembangnya literasi Eropa, Aksara Latin lambat lain menyisihkan Aksara Jawa.

Namun, jejak Aksara Jawa sebagai Aksara Resmi masih terbukti. Diantaranya adalah pada mata uang dirham Inggris dan pada prasasti pembangunan Masjid Kemayoran Surabaya.

Surapringga adalah nama lain dari Surabaya. Tapi nama itu sudah tenggelam. Hilang. Tapi jejak nama itu masih terdokumentasikan dengan baik pada prasasti di masjid kemayoran. Disana dituliskan “Negari Surapringga” dan ada juga tulisan “Bupati Surapringga”.

Sebagai kota besar pada zaman itu, maka pendirian masjid besarnya pun mendapat perhatian pejabat dari pemerintah pusat. Kehadiran masjid sebagaimana ditulis pada prasasti:

“Punika sih peparingipun Kanjeng Gubernemen Landa dhumateng sarupining bangsa Islam, kala pinaringaken wau duk nalika panjenenganipun Kanjeng Tuwan ingkang wicaksono Jan Jacob Ruchussen, Gubernur Jendral ing tanah Nederlan Hindia; Mister Daniel Franscois Willem Pietermaat, Residen ing Surapringgo; Radyan (Raden) Tumenggung Kramajoyodirono, bupati ing negari Surapringga”.

Nama Surapringga disebut dua kali dan ini adalah masjid negara yang berdiri di negara besar Surapringga.

Status Surapringga sebagai negeri besar ini tidak hanya disebut pada prasasti di masjid Kemayoran, tapi juga ditemukan pada manuscript di kota Doha, Qatar, tepatnya di Qatar National Library (QNL) sebagai koleksinya. (jabar.nu.or.id).

Sebuah copy manuskrip pendek beraksara Pegon, koleksi Qatar National Library (QNL), yang diterjemahkan oleh ahli aksara Pegon, Diaz Nawaksara, founder Nawaksara.id, mendapati nama Surapringga sebagai Negari Gede (besar) Surapringga.

Negeri Surapringga kala itu memiliki sistem pemerintahan yang berpusat di kawasan yang memiliki alun alun dengan tata makro dan mikro kosmos sebagai wujud tata kota klasik di Jawa. Di sana pernah ada sebuah masjid besar, keraton dan alun-alun yang menjadi ikon wilayah tersebut. Saat ini, tidak lagi ditemukan bekas bangunan masjid, keraton dan bahkan alun-alun Surapringga. Sekarang, bekas kawasan tersebut sudah berubah menjadi kawasan tugu pahlawan di kota Surabaya.

Kebesaran dan kekuatan Surapringga ditandai dengan terbitnya mata uang yang secara nyata mencantumkan nama Surapringga. Karena terbit dalam pengaruh Inggris, maka mata uang ini bernama Dirham Inggris. Mata uang ini unik karena ditulis dalam dua Aksara. Jawa di satu sisi dan Pegon di sisi lainnya.

Bukti otentik ini menunjukkan bahwa Aksara Jawa pernah digunakan di Surabaya (Surapringga). Bukti berupa prasasti masih tersimpan di Masjid Kemayoran. Sedangkan yang berupa koin hanya berupa hasil foto. Sementara Manuskrip nya tersimpan di Kota Doha, Qatar.@nanang