TrenFastFashion: Maraknya Penggunaan Pakaian Fast Fashion di Kalangan Siswa SMA Negeri 1 Surabaya

Oleh : Mahasiswa Program Studi: S1-Statistika Universitas Airlangga*

Di tengah gempuran tren mode yang terus berkembang, fast fashion telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja, terutama bagi mereka yang ingin tetap up-to-date dengan gaya pakaian terkini. Salah satu fenomena yang sedang berkembang pesat adalah penggunaan pakaian fast fashion di kalangan siswa SMA, sebuah perilaku yang dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk harga terjangkau, tren yang cepat bergulir, dan tentunya pengaruh media sosial.

Di SMA Negeri 1 Surabaya, fenomena ini semakin mendapatkan perhatian. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga mengungkapkan bahwa 57% mahasiswa mendukung kampanye ini, yang mencerminkan tingginya minat terhadap produk fast fashion di kalangan pelajar. Berdasarkan penelitian ini, siswa cenderung membeli pakaian dengan alasan mengikuti tren mode dan harga yang terjangkau.

Fast fashion, yang mengedepankan produksi cepat, murah, dan mengikuti tren yang selalu berubah, memungkinkan perusahaan untuk memproduksi pakaian dalam jumlah besar yang siap dijual dengan harga yang sangat terjangkau. Fenomena ini didorong oleh kebutuhan akan pakaian yang modis, tetapi tidak memerlukan waktu lama untuk berproduksi dan cepat pula berganti model. Meski demikian, kesadaran akan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh industri ini semakin meningkat, terutama di kalangan Generasi Z, yang menjadi konsumen utama.

Pola konsumsi yang semakin konsumtif ini tidak hanya terlihat di kota besar seperti Jakarta, tetapi juga di Surabaya, di mana pusat perbelanjaan menjadi tempat utama bagi remaja untuk berbelanja pakaian fast fashion. Bahkan di beberapa wilayah, media sosial menjadi platform yang mempercepat penyebaran tren ini, membuat remaja merasa terdorong untuk membeli pakaian baru yang sesuai dengan tren terkini.

Dalam penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 1 Surabaya, ditemukan bahwa faktor seperti uang saku siswa turut mempengaruhi frekuensi mereka dalam membeli pakaian fast fashion. Metode One-Stage Cluster Sampling yang digunakan dalam penelitian ini mengelompokkan siswa berdasarkan kelas, dan kemudian memilih beberapa kelas secara acak untuk dijadikan sampel. Dari 8 kelas yang terlibat, data yang diperoleh menunjukkan bahwa sebagian besar siswa membeli pakaian fast fashion karena faktor harga yang terjangkau dan untuk mengikuti tren.

Namun, di balik tingginya tingkat konsumsi pakaian fast fashion, ada sisi lain yang perlu dicermati. Meskipun banyak siswa yang mengetahui dampak negatif dari penggunaan fast fashion, seperti kerusakan lingkungan dan limbah tekstil, mereka tetap melanjutkan perilaku konsumtif ini. Ini menunjukkan adanya kontradiksi antara kesadaran akan pentingnya keberlanjutan dan perilaku konsumen yang tetap terjebak dalam lingkaran konsumsi cepat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan mengenai konsumsi yang berkelanjutan sangat diperlukan. Selain itu, industri fashion juga diharapkan bisa beradaptasi dengan menciptakan produk yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, tanpa mengorbankan gaya dan tren yang dicari oleh konsumen.

Sebagai langkah ke depan, penting bagi pemerintah, sektor pendidikan, dan industri fashion untuk bekerjasama dalam mengedukasi masyarakat, terutama generasi muda, tentang pentingnya memilih produk yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan demikian, penggunaan pakaian fast fashion bisa lebih terkontrol, dan para remaja bisa lebih sadar dalam memilih produk yang mereka konsumsi.@

*) Tim Penulis: Mia Khoirunnisa, Bagas Maulana, Azryl Baiza Dian Pratama, Raaulia Gita Nafsi.