Xi Jinping, Pria “Membosankan” yang Mengelabui Seluruh Elit Tiongkok

Oleh: Balqis Humaira

SEBELUM kita masuk ke arena pertarungan politik, lo harus paham dulu dari mana “monster” ini lahir. Banyak orang ngira Xi Jinping itu birokrat kaku yang jalannya mulus karena dia anak pendiri negara (Pangeran Merah). Faktanya, masa remajanya dihancurkan sehancur-hancurnya oleh mesin politik ayahnya sendiri.

Saat Cultural Revolution meledak di bawah komando Mao Zedong, ayah Xi dituduh sebagai pengkhianat. Bayangin, dari anak pejabat elit di Beijing, Xi tiba-tiba jadi musuh masyarakat. Ayahnya diseret ke pengadilan jalanan (Sesi Perjuangan), dipermalukan, dan dipukuli di depan ribuan orang. Yang paling merusak kewarasan: ibu kandung Xi dipaksa oleh sistem untuk ikut meneriaki dan mencela suaminya sendiri di atas panggung.

Namun, puncak dari segala mimpi buruk itu—yang jarang banget diekspos oleh media mainstream—adalah nasib saudara perempuan tirinya, Xi Heping. Karena tak sanggup menahan persekusi, siksaan, dan tekanan mental yang biadab dari kelompok radikal Pengawal Merah, Xi Heping akhirnya bunuh diri.

Coba lo posisikan diri lo di sana. Keluarga lo hancur, bapak lo disiksa, nyokap lo dipaksa berkhianat, dan kakak perempuan lo mati gantung diri atau lompat dari gedung gara-gara partai komunis. Logika manusia normal pasti bakal benci setengah mati sama politik dan sistem itu. Lo bakal milih kabur, trauma, dan jadi oposisi seumur hidup.

Tapi, di titik nadir inilah otak Xi Jinping mengalami pergeseran radikal. Alih-alih membenci mesin pembunuh yang merenggut nyawa kakaknya, Xi menyadari satu realitas dingin: di dunia ini, kebenaran moral itu omong kosong jika lo lemah. Satu-satunya cara agar kejadian itu tidak terulang adalah dengan memiliki kekuasaan absolut atas mesin tersebut. Dia tidak memilih untuk menjadi korban; dia memutuskan untuk menguasai sistem yang telah menghancurkannya.

Pembuangannya ke desa Liangjiahe adalah ujian pertamanya. Dari kasur empuk di Beijing, dia dipaksa tidur di dalam gua tanah liat yang penuh kutu, makan bubur jagung encer, dan memikul kotoran babi sejauh berkilo-kilometer setiap hari.

Di sanalah dia “membunuh” egonya secara total. Untuk bisa masuk kembali ke dalam sistem partai yang menganiayanya, dia melamar menjadi anggota Liga Pemuda Komunis. Lo tahu apa yang terjadi? Dia ditolak mentah-mentah. Dia coba lagi, ditolak lagi. Dia mengajukan permohonan sampai belasan kali. Dia menelan harga dirinya bulat-bulat, tersenyum pada orang-orang yang mewakili sistem penghancur keluarganya, demi membuktikan bahwa dia adalah “kawan yang patuh”. Kesabaran ini bukanlah kebaikan hati; ini adalah stoikisme ekstrem yang lahir dari dasar neraka.

Setelah bertahun-tahun merangkak naik, tibalah kita di era 2000-an, di mana pertarungan memperebutkan tahta tertinggi dimulai. Di sinilah muncul tokoh antagonis yang sempurna: Bo Xilai.

Sama seperti Xi, Bo Xilai adalah seorang Pangeran Merah. Tapi, Bo Xilai adalah antitesis dari Xi. Bo itu ganteng, pintar, karismatik, dan tahu persis cara menjadi pusat perhatian. Bo adalah tipe politisi rockstar. Saat dia menjadi pemimpin di Chongqing, dia membuat kampanye teatrikal: memberantas mafia secara live di TV dan menghidupkan kembali lagu-lagu komunis lama untuk membakar nasionalisme. Rakyat memujanya. Bo Xilai bersinar sangat terang, ambisinya terlihat jelas oleh semua orang, dan dia merasa sangat pantas menjadi raja selanjutnya.

Lalu, apa yang dilakukan Xi Jinping melihat saingannya meroket? Apakah dia panik? Apakah dia ikut-ikutan bikin sensasi di media?
Sama sekali tidak.

Xi Jinping memilih strategi kamuflase tingkat dewa. Mengikuti hukum Robert Greene dalam The 48 Laws of Power: “Bermainlah sebagai orang bodoh untuk menangkap orang bodoh”. Xi memilih untuk terlihat biasa saja, membosankan, dan tidak mengancam. Dia mengambil tugas-tugas birokrasi yang tidak seksi di provinsi-provinsi pesisir seperti Fujian dan Zhejiang. Dia hanya mengurus investasi pabrik, jarang bicara di media, dan selalu tersenyum mengangguk pada seniornya. Di mata para elit partai, Xi Jinping hanyalah birokrat medioker yang lurus-lurus saja.

Dan di situlah jebakannya mulai bekerja.
Apa yang terjadi jika lo terlalu bersinar di kolam yang penuh dengan serigala paranoid? Para tetua partai mulai merasa gerah dan ketakutan melihat Bo Xilai.

Mereka sadar, jika politisi se-karismatik dan se-ambisius Bo Xilai naik ke puncak, mereka tidak akan bisa mengendalikannya. Bo Xilai terlalu kuat, dan itu mengancam posisi para elit tua tersebut.

Saat para tetua partai mencari alternatif, mata mereka tertuju pada pria yang selama ini diam di pojokan. Mereka melihat rekam jejak Xi Jinping yang “datar”, selalu patuh, dan tidak pernah membuat masalah. Mereka memilih Xi Jinping justru karena dia dianggap lemah. Para tetua dengan angkuhnya mengira bahwa jika mereka menjadikan Xi sebagai pemimpin, mereka akan tetap bisa menyetirnya dari belakang layar layaknya sebuah boneka.

Di saat yang bersamaan, ada juga kandidat lain yang sangat jenius, Li Keqiang (seorang doktor ekonomi lulusan top). Tapi para tetua membuang si jenius ini karena orang pintar biasanya keras kepala. Mereka sepakat memilih si pria membosankan yang terlihat gampang diatur: Xi Jinping.

Nasib Bo Xilai? Hancur lebur. Karena ambisinya yang terlalu terang, sistem itu sendiri yang menyingkirkannya. Istrinya terjerat skandal pembunuhan, dan Bo Xilai diseret ke pengadilan, dipermalukan, dan divonis penjara seumur hidup. Bo Xilai terbakar oleh ambisinya sendiri, sementara Xi Jinping melangkah ke tahta tertinggi tanpa perlu mengeluarkan setetes keringat untuk membunuhnya.

Dan di sinilah plot twist paling epik dalam sejarah politik modern terjadi.
Saat palu diketuk dan Xi Jinping resmi dilantik sebagai pemimpin tertinggi Tiongkok, dia langsung melepas topeng yang telah ia pakai selama lebih dari 30 tahun. Para elit tua yang mengira telah mengundang seekor domba jinak ke istana, mendadak pucat pasi. Mereka baru sadar telah menyerahkan kunci kerajaan kepada seekor naga yang selama ini hanya pura-pura tidur.

Manuver pertamanya bukanlah mematuhi para senior itu. Xi Jinping meluncurkan kampanye anti-korupsi paling brutal dalam sejarah modern. Jutaan kader partai dihukum. Ratusan jenderal, menteri, dan pejabat senior yang dulu pernah meremehkannya disapu bersih tanpa ampun. Dia membersihkan semua faksi lawan dengan legitimasi hukum negara, mengubah sistem partai yang tadinya dikelola bersama menjadi The One Man Show. Dia melakukan persis apa yang dulu dilakukan sistem terhadap keluarganya, namun dengan cara yang jauh lebih dingin dan tak tersentuh.@

*) Tulisan ini diambil dari Facebook Balqis Humaira