Oleh: Balqis Humaira
GUE bener-bener gagal paham dan ngerasa ada yang konslet parah sama sistem kewarasan sosial kita hari ini. Pas gue ngebaca runtutan kronologi kasus Yuvita Tri Rezeki dan pacarnya yang bernama Taufik Hidayat, otak gue langsung dibanjiri sama ribuan pertanyaan yang saking absurdnya sampai bikin gue pusing sendiri. Lo bayangin aja situasinya. Kita hidup di tahun 2026. Ini adalah era di mana lo beli seblak di gang depan aja jejak riwayat transaksinya terekam di server aplikasi. Lo batuk di pinggir jalan aja kemungkinan besar terekam sama kamera dasbor mobil orang lewat atau CCTV minimarket. Kita ini hidup di zaman di mana jejak digital itu ibarat bayangan yang nggak bisa lepas dari tubuh kita.
Tapi gimana ceritanya, seorang perempuan dewasa berumur dua puluh sembilan tahun, bisa mendadak hilang ditelan bumi setelah nonton acara musik di tahun 2023, dan sama sekali nggak ada yang tahu dia di mana selama hampir tiga tahun berturut-turut?
Gue nyoba membedah misteri ini dari sudut pandang sosiologi perkotaan. Ada satu bagian dari kronologi ini yang bikin gue bener-bener merinding ngebayanginnya. Disebutkan kalau dugaan kuat lokasi penyekapan Yuvita itu ada di sebuah kamar indekos di daerah Cileunyi atau Cinunuk, Kabupaten Bandung.
Coba lo bayangin bentuk indekos di daerah padat mahasiswa dan pekerja kayak Cileunyi. Indekos itu bukan vila mewah yang jarak antar rumahnya dibatesin halaman rumput satu hektar. Indekos itu biasanya dempet-dempetan. Tembok kamar yang satu sama tembok kamar yang lain itu tipisnya minta ampun. Lo naruh gelas agak keras di meja aja tetangga sebelah lo bisa denger. Nah, pertanyaan gue yang paling mendasar adalah, gimana caranya seorang psikopat nyekap dan menyiksa anak orang selama lebih dari seribu hari di dalam kamar kos, dan NGGAK ADA SATU PUN TETANGGA YANG CURIGA?
Apakah Yuvita nggak pernah teriak minta tolong? Apakah nggak ada suara bantingan barang? Atau jangan-jangan, yang jauh lebih mengerikan dari itu semua, aslinya tetangga-tetangga kosan itu denger suara tangisan dan rintihan, tapi mereka memilih untuk menutup telinga, naikin volume musik di handphone mereka, dan pura-pura nggak tahu karena ngerasa itu bukan urusan mereka?
Dalam ilmu sosiologi, ada yang namanya THE BYSTANDER EFFECT alias efek pengamat. Ini adalah fenomena psikologis di mana semakin banyak orang di sekitar sebuah kejadian darurat, semakin kecil kemungkinan ada satu orang yang bakal bertindak buat nolongin korban. Semua orang bakal mikir, ah pasti nanti ada orang lain yang lapor polisi.
Atau mereka mikir, ah itu paling cuma pacaran yang lagi berantem wajar, gue nggak mau ikut campur urusan ranjang orang. Kematian empati sosial inilah yang aslinya ngasih karpet merah dan ngasih ruang kedap suara buat si pelaku, Taufik Hidayat, buat ngelakuin kebiadabannya dengan sangat leluasa selama bertahun-tahun.
Zygmunt Bauman, seorang sosiolog raksasa yang nulis soal modernitas cair, pernah bikin sebuah pernyataan yang menampar banget soal kehidupan kota. Bauman bilang kalau masyarakat modern hari ini hidup dalam kerumunan, tapi kita sebenarnya tidak pernah benar-benar bersama. Kita semua terisolasi di dalam gelembung individualisme kita sendiri. Kita tahu password WiFi tetangga kita, tapi kita nggak tahu siapa nama aslinya, dari mana dia berasal, dan apakah dia sedang meregang nyawa di balik tembok kamarnya. Tragedi Yuvita ini adalah bukti paling brutal dari tesis Bauman tersebut. Keramaian kota justru menjadi tempat persembunyian paling sempurna bagi seorang monster.
Sekarang coba kita geser bedahannya ke arah psikologi kriminal dari sudut pandang si pelaku.
Banyak banget asumsi liar yang beredar di media sosial. Ada yang bilang pelaku ini gila, sakit jiwa, atau kesurupan. Jujur aja, gue nggak suka sama pelabelan gila yang buru-buru kayak gitu. Menganggap Taufik Hidayat cuma sekadar orang gila itu sama aja kita ngasih keringanan alasan buat kejahatannya. Orang gila itu kehilangan kontak sama realita. Tapi orang yang bisa nyekap anak orang selama tiga tahun, bisa ngasih makan sekadarnya biar korbannya nggak mati, dan bisa ngelabuin tetangga kosan selama ribuan hari, itu bukan orang gila. Itu adalah seorang manipulator yang sangat sadar, rasional, dan punya kecerdasan sosiopat yang mengerikan.
Motif utamanya hampir bisa dipastikan berakar pada KONTROL ABSOLUT. Dalam kasus kekerasan dalam hubungan asmara yang ekstrem, pelaku itu nggak cuma pengen nyakitin fisik korbannya. Nyakitin fisik itu cuma metode. Tujuan utamanya adalah untuk menghapus eksistensi kemanusiaan dari si korban. Taufik ini kemungkinan besar punya delusi kepemilikan yang sangat toksik. Di kepalanya, Yuvita itu bukan lagi manusia merdeka, melainkan sebuah properti.
Gue jadi inget teori dari psikolog Martin Seligman soal LEARNED HELPLESSNESS atau ketidakberdayaan yang dipelajari. Ini penting banget buat ngejawab pertanyaan kenapa Yuvita mungkin pada akhirnya berhenti mencoba untuk kabur atau berhenti berteriak. Seligman ngelakuin eksperimen yang ngebuktiin kalau makhluk hidup yang terus-terusan dikasih hukuman fisik secara acak dan nggak bisa dihindari, lama-kelamaan bakal nyerah secara mental. Otak mereka bakal mati rasa. Mereka bakal percaya kalau apapun usaha yang mereka lakuin buat kabur, hasilnya pasti gagal dan mereka bakal disiksa lebih parah. Trauma ekstrem yang dialami Yuvita selama tiga tahun itu aslinya udah ngerusak struktur saraf di otaknya, bikin dia kehilangan kehendak bebasnya. Tubuhnya mungkin masih hidup, tapi jiwanya udah dipenjara dalam keputusasaan yang gelap gulita.
Dan ngomong-ngomong soal tubuh fisik, ini bagian yang bikin perut gue beneran mual pas ngebaca rumornya.
Di bulan Juni 2026 ini, beredar narasi di media sosial kalau Yuvita ditemuin dalam kondisi kritis dan dilarikan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Dibilang kalau pihak rumah sakit baru ngehubungin keluarga setelah ngeliat pasien ini nggak bisa ngomong dan nggak bisa mengidentifikasi dirinya sendiri. Narasi yang beredar liar di jagat maya itu ngeklaim kalau Yuvita ngalamin buta permanen di salah satu matanya, bibir atasnya hilang terpotong, banyak luka bacokan senjata tajam di kaki, sampai menderita demensia tingkat lanjut karena trauma otak.
Gue harus garis bawahi di sini, sebagai orang yang selalu bersandar pada data, gue nggak mau asal telan rumor dari grup WhatsApp atau dari ketikan anonim di Threads. Rumah sakit emang punya protokol kerahasiaan medis yang super ketat, jadi wajar kalau mereka belum rilis rekam medis resmi ke publik. Tapi, kalau misal aja, kalau aja sepuluh persen dari klaim luka fisik itu beneran nyata, ini udah bukan lagi masuk kategori penganiayaan biasa. Ini adalah penyiksaan ala kamp konsentrasi yang terjadi di sebuah kamar kos di Jawa Barat. Memotong wajah seseorang dan membutakan mata itu adalah bentuk hukuman simbolis dari psikopat yang pengen ngancurin identitas visual korbannya secara permanen.
Di titik inilah otak analitis intelijen gue mulai ngerasa ada banyak banget bolong atau gap informasi yang aneh dari sisi penegakan hukum dan forensik digital.
Coba lo pikirin deh misteri soal jejak digitalnya. Kasus ini bener-bener kayak lubang hitam informasi. OSINT atau Open Source Intelligence yang biasanya jadi andalan netizen Indonesia mendadak lumpuh di kasus ini. Nggak ada arsip media sosial Yuvita yang bisa diakses buat ngecek kapan terakhir kali dia update status. Nggak ada jejak lokasi terakhir akun Taufik Hidayat. Di era di mana netizen kita biasanya lebih jago dari FBI buat ngelacak wajah pelaku kriminal kurang dari dua puluh empat jam, kasus Taufik ini sepi banget dari bukti digital yang valid.
Ini nimbulin kecurigaan yang gede banget di kepala gue. Gimana caranya seorang pelaku kelas teri kayak gini bisa ngilang tanpa ninggalin jejak elektronik sama sekali? Apakah dia sengaja ngehancurin semua handphone dan memutus akses internet sejak awal penyekapan? Atau jangan-jangan dia emang nggak pernah pakai identitas aslinya buat nyewa kamar kos itu?
Yang bikin gue makin gemes adalah kontradiksi dan bolongnya timeline pelaporan. Keluarga ngeklaim kalau Yuvita hilang sejak dua ribu dua puluh tiga setelah nonton konser. Nah, pertanyaan gue yang paling keras buat pihak keluarga dan pihak kepolisian adalah: APAKAH ADA LAPORAN ORANG HILANG YANG DIBUAT PADA TAHUN DUA RIBU DUA PULUH TIGA ITU?
Gue sama sekali nggak bermaksud nyalahin keluarga korban, karena duka mereka pasti luar biasa berat. Tapi logika proseduralnya begini, kalau anak lo hilang tanpa kabar berhari-hari aja lo pasti udah panik lapor polisi, apalagi ini hilang sampai tiga tahun. Kalau emang udah ada laporannya dari tahun dua ribu dua puluh tiga, kenapa polisi gagal ngelacak posisi terakhir handphone korban lewat BTS operator seluler waktu itu? Melacak posisi handphone di dua puluh empat jam pertama orang hilang itu adalah standar paling dasar dari investigasi modern. Kenapa hal itu kayaknya terlewatkan begitu aja?
Terus soal penemuannya di bulan Juni ini. Narasi yang beredar bilang kalau tiba-tiba korban udah ada di Rumah Sakit Hasan Sadikin. Pertanyaan gue, SIAPA YANG NGEBAWA DIA KE RUMAH SAKIT? Orang yang disekap dalam kondisi buta, cacat, dan kurang gizi parah nggak mungkin bisa mesen GrabCar atau jalan kaki sendiri sampai ke rumah sakit rujukan provinsi. Pasti ada pihak ketiga. Apakah itu tetangga kos yang akhirnya sadar setelah nyium bau busuk? Apakah itu supir ambulans puskesmas daerah? Atau jangan-jangan, pelaku itu sendiri yang ngebawa Yuvita ke rumah sakit karena panik ngeliat korbannya mau mati, terus pelakunya langsung kabur ninggalin korban di IGD? Ini kepingan puzzle yang sangat krusial tapi entah kenapa nggak pernah diungkap dengan jelas di media massa.
Gue juga ngerasa aneh sama statement kepolisian. Polda Jabar lewat Kabid Humasnya cuma bilang kalau pelaku masih buron dan lagi dalam pengejaran. Terus ada desas-desus kalau laporannya malah masuk ke Polda Metro Jaya di Jakarta, padahal TKP-nya jelas-jelas di Bandung. Kebingungan yurisdiksi kayak gini aslinya bahaya banget karena ngulur-ngulur waktu emas atau golden time buat nangkep pelaku sebelum dia nyebrang pulau atau ganti identitas.
Kalau kita mau jujur ngebedah fenomena pemberitaan ini, ini adalah contoh betapa rapuhnya kebenaran di era algoritma media sosial.
Publik itu lagi disuapin sama campuran antara fakta yang tragis dan fiksi dramatis dari akun-akun anonim. Algoritma media sosial itu nggak peduli sama hasil visum forensik dokter. Algoritma cuma peduli sama narasi yang memancing emosi. Narasi tentang perempuan cantik yang dibutakan matanya dan dibuang di kamar kos itu jauh lebih cepat viral daripada klarifikasi birokrasi kepolisian. Masalahnya, ketika kebenaran medis dicampur aduk sama spekulasi liar netizen, arah investigasi bisa jadi kabur. Polisi harus kerja dua kali lipat lebih keras, nggak cuma buat nangkep Taufik Hidayat, tapi juga buat ngelurusin kebingungan massal ini pakai rilis barang bukti yang transparan.
Gue bener-bener berharap pihak kepolisian segera ngebuka hasil olah TKP di kamar indekos Cileunyi itu ke publik. Kita butuh tahu bentuk kamarnya kayak apa. Apakah pintunya digembok dari luar? Apakah ada peredam suara? Siapa nama pemilik indekos itu dan apakah dia pernah ngecek kamar yang disewa Taufik selama tiga tahun terakhir? Pemilik indekos yang ngebiarin kamarnya jadi kamp penyiksaan tanpa pernah ngelakuin inspeksi bulanan itu secara moral juga punya andil dosa dalam tragedi ini.
Michel Foucault, seorang filsuf jenius dari Prancis, pernah nulis sebuah analisis yang tajem banget soal relasi kuasa atas tubuh manusia di bukunya Discipline and Punish. Foucault bilang kalau kekuasaan yang paling mengerikan itu bukan sekadar kekuasaan politik seorang raja atau presiden. Kekuasaan yang paling absolut adalah ketika seseorang bisa menaklukkan, mendisiplinkan, dan menghukum tubuh fisik manusia lain sedemikian rupa, sampai tubuh itu kehilangan esensinya sebagai manusia.
Apa yang dialami sama Yuvita di dalam kamar kos berukuran beberapa meter persegi itu adalah manifestasi paling murni dari teori Foucault tersebut. Tubuhnya dikurung, matanya mungkin dirusak agar dia tidak bisa lagi melihat dunia luar, dan bibirnya mungkin dipotong agar dia kehilangan kemampuannya untuk bersuara. Taufik Hidayat mencoba menjadi tuhan kecil di dalam kamar indekos itu. Dia menciptakan neraka pribadinya sendiri, dan masyarakat kita dengan segala ketidakpeduliannya, tanpa sadar menjadi satpam penjaga gerbang neraka tersebut.
Tragedi Yuvita ini harusnya jadi tamparan paling keras ke muka kita semua. Kita ini sering banget bangga nyebut diri kita sebagai makhluk sosial yang saling peduli, bangsa yang ramah tamah, dan punya budaya gotong royong yang kuat.
Tapi di balik layar handphone kita yang selalu online dua puluh empat jam, kita aslinya adalah sekumpulan manusia buta yang gagal ngeliat penderitaan tetangga di balik tembok kamar sebelah.
Kasus ini bukan cuma soal tugas polisi buat nyeret sosok Taufik Hidayat ke pengadilan dan menuntutnya dengan hukuman paling berat. Ini adalah tugas kita semua buat merenung ulang. Karena kalau sistem sosial dan birokrasi kita masih setolol dan secuek ini, Taufik Hidayat mungkin cuma satu dari sekian banyak monster yang saat ini lagi duduk santai di ruang tamu mereka, ngunci pintu rapat-rapat, sementara ada nyawa manusia lain yang lagi pelan-pelan meredup di dalam ruang kedap suara.@
*) Dari Facebook Balqis Humaira