Pondok Suro Kerennn, Membangun Generasi Berbudaya di Era Digital

Lima Pilar Pendidikan Budaya

REKAYOREK.ID – Yayasan Pasopati Cakra Nusantara kembali menggagas program “Pondok Suro Kerennn: Menembus Peradaban Zaman Milenial”, sebuah gerakan pendidikan kebudayaan yang diarahkan untuk membangun karakter generasi muda melalui penguatan etika, tata krama, wawasan budaya, hingga pelestarian tradisi Nusantara.

Dalam pelaksanaan acara tersebut di pandegani para pegiat kebudayaan antara lain Ketua Umum Pasopati Cakra Nusantara yang akrab di sebut Kanjeng Pangeran Arya Senopati Ki Bagus Mpu Batu. Selaku Pembina utama, Marsda TNI Dr.Ir. Tri Bowo Budi S. M.MM Tr (Han) Purn.

Selaku pembimbing Pondok Suro sekaligus Tutor Pemateri, Pak Subiyanto, Nyai Siti Zaenab, Kang Semut, Nyai Ngatina, Ki Ransiswanto. “Mereka adalah para pegiat budaya yang kapasitas dan loyalitasnya tidak perlu diragukan lagi. Tanpa dukungan beliau-beliau acara ini kurang greget,” papar Ki Bagus saat wawancara di Sanggar Seni Omah Ndhuwur, Dupak Bangunrejo, sembari menunjuka foto-foto kegiatan Pondok Suro bersama pemuda-pemudi.

Ketua Umum Yayasan Pasopati Cakra Nusantara Surabaya, Ki Bagus Mpu Batu, menyampaikan, bahwa Pondok Suro bukan sekadar kegiatan seremonial menyambut Bulan Suro, melainkan sebuah gerakan pendidikan karakter yang dikemas dalam pendekatan budaya agar lebih mudah diterima oleh generasi masa kini.

“Negara yang besar bukan hanya dilihat dari kemajuan teknologinya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga peradaban dan kebudayaannya. Ketika budaya tetap hidup di tengah masyarakat, di situlah sesungguhnya jati diri bangsa masih berdiri kokoh,” ujarnya lagi.

Menurutnya, Yayasan Pasopati Cakra Nusantara selama ini memiliki komitmen untuk turut mengambil bagian dalam program pemajuan kebudayaan nasional. Karena itu, momentum Bulan Suro dipandang sebagai waktu yang tepat untuk menghadirkan ruang pembelajaran budaya secara langsung kepada masyarakat, terutama kalangan muda.

Ia mengatakan, Pondok Suro dirancang sebagai wadah edukasi yang mempertemukan nilai-nilai tradisi dengan tantangan kehidupan modern. Dan dilakukan di beberapa Sanggar selain ada Sanggar Denbekang, Kodam V Brawijaya, juga ada Sanggar Seni Omah Ndhuwur.

“Kami ingin generasi muda tidak hanya mengenal budaya sebagai tontonan atau upacara adat semata, tetapi memahami makna filosofinya sehingga menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Ki Bagus menjelaskan, materi Pondok Suro dibangun melalui lima pokok pembelajaran utama yang saling berkaitan.

Pilar pertama adalah perilaku santun, yang menanamkan pentingnya kesopanan dalam berbahasa maupun bersikap. Menurutnya, kemajuan zaman tidak boleh menghilangkan etika dalam kehidupan sosial.

“Kesantunan adalah identitas bangsa. Orang boleh pintar, tetapi tanpa adab, kecerdasannya kehilangan makna,” ujarnya.

Materi kedua berkaitan dengan aksara, yakni pengenalan Aksara Jawa Carakan dan Aksara Kawi sebagai bagian dari kekayaan intelektual Nusantara yang perlu diwariskan kepada generasi penerus.

Selanjutnya peserta juga dikenalkan dengan busana budaya, baik busana tradisional Jawa maupun perkembangan busana kontemporer yang tetap menghargai nilai-nilai budaya lokal.

Pilar berikutnya adalah tatakrama, yang meliputi etika berdialog, bergaul, menghormati orang tua, hingga membangun hubungan sosial yang harmonis.

Sementara pada materi kelima, peserta memperoleh wawasan budaya yang lebih luas, mulai dari pemahaman mengenai cok bakal sebagai sarana pengantar ritual budaya, jamasan, ruwatan, kirab budaya, pusaka dan keris Nusantara, arca, relief, candi, petilasan, pesarean, seni wayang, reog, jaranan, bantengan, gamelan, hingga pengenalan terhadap regulasi mengenai pemajuan kebudayaan.

Menurut Ki Bagus, seluruh materi tersebut diberikan secara bertahap melalui proses pengenalan, penerapan, hingga pemantapan sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi mampu mengimplementasikan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Ki Bagus menilai derasnya perkembangan teknologi digital membawa banyak manfaat, tetapi juga memunculkan tantangan serius berupa lunturnya identitas budaya.

Karena itu, Pondok Suro hadir sebagai ruang pembelajaran yang relevan bagi generasi milenial maupun Generasi Z.

“Kami tidak mengajak anak muda kembali ke masa lalu. Justru kami ingin mereka maju bersama teknologi, tetapi tetap memiliki akar budaya yang kuat. Modern boleh, tetapi jangan kehilangan jati diri,” tegasnya.

Ia menambahkan, penguatan mental, moral, dan spiritual menjadi bagian penting dalam konsep pendidikan budaya yang diusung Yayasan Pasopati Cakra Nusantara.

Menurutnya, karakter bangsa tidak dapat dibangun hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui pendidikan kebudayaan yang diwariskan secara langsung.

Sejalan dengan Amanat Undang-Undang

Ki Bagus menyebut pelaksanaan Pondok Suro juga merupakan implementasi semangat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Menurutnya, regulasi tersebut memberikan dasar hukum yang kuat bagi seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga, melestarikan, mengembangkan, memanfaatkan, dan membina kebudayaan Indonesia.

“Kami ingin menjadi mitra pemerintah dalam membangun karakter bangsa melalui jalur kebudayaan. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat,” jelasnya.

Dilaksanakan di Berbagai Sanggar dan Komunitas

Program Pondok Suro akan diselenggarakan menyesuaikan jadwal masing-masing sanggar, paguyuban maupun komunitas budaya.

Kegiatan meliputi pelaksanaan Pondok Suro, pemasangan papanisasi Aksara Jawa, hingga penyucian dan penyelarasan kawasan gapura petilasan maupun patirtan sebagai bagian dari pelestarian situs budaya.

Peserta yang dilibatkan berasal dari berbagai kalangan, mulai generasi muda, pelaku seni, pegiat budaya, karang taruna, paguyuban, sanggar, padepokan hingga komunitas budaya dari berbagai daerah.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, panitia menyiapkan berbagai sarana, antara lain materi pembelajaran, sistem tata suara, alas duduk, perlengkapan budaya, banner, bendera organisasi, piagam peserta hingga dapur umum.

Lebih jauh, Ki Bagus menjelaskan bahwa tujuan utama Pondok Suro adalah membentuk generasi yang berbudaya, berkarakter, santun, serta memiliki kepedulian terhadap pelestarian warisan leluhur.

Selain memberikan pendidikan budaya, kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat sinergi antarlembaga budaya, komunitas, sanggar, dan pemerintah dalam membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan.

“Kami ingin melahirkan generasi yang bangga terhadap budayanya sendiri. Mereka memahami siapa dirinya, menghargai leluhurnya, dan mampu membawa nilai-nilai itu ke masa depan,” tutur Ki Bagus.

Ia menegaskan bahwa Pondok Suro bukan hanya berbicara mengenai ritual budaya, melainkan proses pendidikan yang menanamkan budi pekerti luhur, etika sosial, rasa kebersamaan, serta tanggung jawab menjaga identitas bangsa.

Mengakhiri wawancara, Ki Bagus Mpu Batu mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut mengambil bagian dalam gerakan pelestarian budaya.

“Kalau bukan kita yang menjaga budaya bangsa, lalu siapa lagi? Warisan leluhur adalah identitas yang harus terus hidup. Pondok Suro kami hadirkan sebagai gerbang membangun kesadaran itu, agar generasi masa depan tetap memiliki akar budaya yang kuat sekaligus mampu bersaing di era global,” pungkasnya.@

budayaKi Bagus Mpu BatuPasopati Cakra NusantaraPondok Suro