Sanggar Seni Omah Ndhuwur Hidupkan Tradisi Jamasan Keris dan Sarasehan Budaya

REKAYOREK.ID – Bagi masyarakat Jawa, datangnya Bulan Suro bukan sekadar penanda pergantian kalender Jawa. Suro dipandang sebagai ruang untuk menata batin, merawat warisan leluhur, serta mempererat persaudaraan dalam bingkai budaya. Di bulan yang diselimuti nilai-nilai spiritual ini, pusaka dibersihkan, doa dipanjatkan, dan laku kebijaksanaan kembali dihidupkan agar manusia senantiasa eling lan waspada dalam menjalani kehidupan.

Semangat itulah yang akan dihadirkan Sanggar Seni Omah Ndhuwur melalui kegiatan Silaturahmi dan Sarasehan Budaya pada Minggu, 12 Juli 2026, pukul 19.00–22.00 WIB, di Sanggar Seni Omah Ndhuwur, Jalan Dupak Bangunrejo Gang I Nomor 30, Surabaya.

Malam budaya tersebut akan diawali dengan prosesi jamasan keris yang dipandu Padepokan Gema Qolbu Pasuruan. Dalam tradisi Jawa, jamasan tidak dimaknai sekadar membersihkan bilah pusaka, melainkan menjadi simbol penyucian diri, penghormatan kepada warisan leluhur, dan pengingat agar manusia senantiasa menjaga budi pekerti.

Suasana kemudian berlanjut dalam sarasehan budaya, tempat para pegiat seni, budayawan, pemerhati tradisi, dan masyarakat saling berbagi pandangan mengenai makna Bulan Suro, nilai-nilai kearifan lokal, serta pentingnya menjaga jati diri budaya Nusantara di tengah perkembangan zaman.

Memasuki malam, peserta akan mengikuti meditasi dan semadi bersama sebagai ikhtiar menenangkan hati, memperkuat kepekaan batin, dan membangun harmoni antara manusia, alam, serta Sang Pencipta. Rangkaian kegiatan ditutup dengan tumpengan dan ramah tamah, sebagai simbol rasa syukur sekaligus mempererat tali persaudaraan antarsesama.

Ketua Sanggar Seni Omah Ndhuwur, Abdoel Semut, mengatakan bahwa kegiatan Bulan Suro sengaja dirancang sebagai ruang perjumpaan lintas komunitas budaya agar masyarakat tidak hanya mengenal tradisi sebagai seremoni tahunan, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Menurutnya, jamasan pusaka bukanlah bentuk pemujaan terhadap benda, melainkan simbol penghormatan terhadap sejarah, jati diri, dan perjuangan para leluhur. “Pusaka adalah media untuk mengingat perjalanan budaya bangsa. Yang paling penting bukan kerisnya, melainkan bagaimana manusia mampu membersihkan hati, menjaga akhlak, dan memperkuat persaudaraan. Nilai itulah yang ingin kami hidupkan setiap Bulan Suro,” ujarnya.

Abdoel Semut juga berharap semakin banyak generasi muda yang hadir dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan kebudayaan. Menurutnya, pelestarian budaya tidak akan berhasil jika hanya dilakukan para sesepuh, tetapi harus menjadi gerakan bersama lintas generasi agar warisan budaya Nusantara tetap lestari di tengah arus modernisasi.

Panitia menginformasikan, masyarakat yang ingin mengikuti prosesi jamasan pusaka dapat menyerahkan pusakanya mulai Sabtu atau paling lambat Minggu pagi sebelum acara berlangsung. Donasi sebesar Rp30.000 per bilah diperuntukkan bagi penyediaan ubo rampe prosesi jamasan.

Seluruh peserta diharapkan mengenakan busana adat Jawa. Apabila tidak memiliki, peserta dapat mengenakan pakaian bebas yang bersih, sopan, dan rapi sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang dijunjung dalam kegiatan tersebut.

Melalui Silaturahmi dan Sarasehan Budaya Bulan Suro ini, Sanggar Seni Omah Ndhuwur berharap tradisi tidak berhenti sebagai romantisme masa lalu, melainkan terus hidup sebagai napas kebudayaan yang mampu menyatukan masyarakat, memperkuat karakter bangsa, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang.@

Abdoel SemutbudayaJamasan KerisOmah NdhuwurSarasehanTradisi