Renungan Pagi : Yang Sedang Dipahat oleh Waktu

REKAYOREK. ID –  Pagi ini, sebelum kesibukan mengambil alih, aku memandangi sebuah keris dhapur Sangkelat berpamor Wos Wutah. Di balik keindahannya, aku teringat bahwa tidak ada keris agung yang lahir dalam sehari.

Besi ditempa berkali-kali. Dipanaskan hingga memerah, dipukul tanpa henti, lalu didinginkan. Proses itu terasa seperti penderitaan jika besi mampu merasakannya. Namun justru dari proses itulah lahir bilah yang kuat, indah, dan bernilai.

Mungkin hidup kita pun sedang mengalami hal yang sama.

Ada hari ketika segala sesuatu terasa lambat. Ada rencana yang belum tercapai, doa yang belum terjawab, dan harapan yang masih menunggu. Sering kali kita mengira waktu sedang menunda kebahagiaan kita.

Padahal, mungkin waktu tidak sedang menunda. Waktu sedang memahat.

Dhapur Sangkelat, yang dalam tradisi perkerisan dipandang sebagai salah satu bentuk yang agung dan matang, mengingatkanku bahwa kemuliaan selalu datang setelah perjalanan yang panjang. Ia bukan simbol kesempurnaan yang instan, melainkan lambang kedewasaan yang ditempa oleh pengalaman.

Di atas bilah itu, pamor Wos Wutah menyebar seperti butiran beras yang ditaburkan. Beras adalah lambang kecukupan, rezeki, dan kehidupan. Namun butiran itu baru bermakna setelah padi melewati musim, hujan, panas, dan waktu panen.

Begitu pula karakter manusia. Kebijaksanaan tidak lahir dari hidup yang selalu mudah, tetapi dari hati yang tetap lembut meski berkali-kali ditempa oleh kehidupan.

Pagi ini aku belajar untuk tidak terburu-buru ingin menjadi “selesai”. Mungkin bagian terindah dari hidup justru bukan saat kita telah mencapai tujuan, melainkan saat kita bersedia menjalani proses pembentukan dengan penuh kesadaran.

Karena pada akhirnya, bukan waktu yang mengubah kita.

Cara kita menerima tempaan waktulah yang membentuk siapa diri kita.

Pertanyaan sunyi:

“Bagian mana dari hidupku yang selama ini kuanggap sebagai beban, padahal mungkin itulah pahatan yang sedang membentuk jati diriku?”

> “Waktu tidak pernah tergesa membentuk mahakarya. Maka jangan terburu-buru menghakimi perjalananmu sendiri.”
Rivo Cahyono & Teman Seperjalanan