Untaian Mutiara Sejarah Surabaya dari Masa ke Masa

Penemuan benda-benda arkeologi menjadi bukti tolak ukur ketuaan Surabaya.

Era Klasik Pra Islam (abad 13)

Penemuan satu satunya benda arkeologi di Surabaya adalah di kampung Pandean, kelurahan Peneleh. Wujudnya adalah sumur, yang disebut Sumur Jobong.

Sumur ini berbentuk satuan silinder yang terbuat dari terakota. Satuan silinder terakota ini ditumpuk hingga kedalaman pada sumber air. Karenanya dalam satu sumur terdapat tumpukan silinder terakota yang berbeda beda: ada 3 sampai 7 silinder, tergantung kedalaman. Sumur Jobong ini umumnya ditemukan di Trowulan, kabupaten Mojokerto, yang dipercaya sebagai ibukota kerajaan Majapahit.

Sumur Jobong Pandean. Foto: nanang

 

Sementara sumur Jobong yang ditemukan di Pandean Surabaya hanya bertumpuk 2 silinder. Ketika ditemukan, permukaan sumur Jobong ini berada pada kedalaman tanah sekitar 1 meter.

Pada saat ditemukan pada 2018, di dalam dan sekitar sumur terdapat fragmentasi tulang tulang manusia. Setelah dilakukan uji karbon pada fragmen tulang tulang di Australian National University, kota Canberra, Australia, ternyata kematian tertua dari manusia, yang tulangnya ditemukan di Sumur Jobong Pandean, teridentifikasi meninggal pada 1430 M.

Sumur Jobong Trowulan. Foto: nanang

 

Karena sumur Jobong ini diduga dipakai sebagai media ritual untuk kematian, maka diduga bahwa sumur itu sudah ada sebelum kematian manusia Pandean pada 1430. Namun tidak diketahui dengan jelas sejak kapan sumur ini ada.

Jika Von Faber dalam bukunya “Er Werd Een Stad Geboren”, menuliskan bahwa di Pandean Peneleh sudah ada permukiman pada 1270 M, maka kira kira sejak itu lah sumur itu ada sebagai kelengkapan domestik di permukiman itu.

Peristiwa lain di era ini adalah peristiwa historis yang dikaitkan dengan Hari Jadi Kota Surabaya pada 31 Mei 1293 M.

Tanggal tersebut dikaitkan dengan peristiwa pengusiran serdadu Tartar oleh Prajurit Raden Wijaya pada 31 Mei 1293 M, yang peristiwanya diduga di wilayah Surabaya.

Era Klasik Majapahit (abad 13-15)

Penanda otentik keberadaan Surabaya di era Majapahit adalah ditulisnya nama Surabaya pada prasasti Canggu yang berangka tahun 1358 M. Prasasti Canggu ini ditemukan di wilayah Canggu, yang tidak jauh dari aliran sungai, Kabupaten Mojokerto.

Penulisan nama Surabaya pada prasasti ini adalah yang pertama ditemukan. Disana nama Surabaya tertulis dalam bahasa Jawa Kuna dengan bunyi “Curabhaya”.

Prasasti Canggu 1358 M. Foto: ist

 

Prasasti ini menceritakan adanya desa desa di tepi kali (Brantas) yang melayani jasa penyeberangan (tambangan), yang kemudian disebut Naditira pradeca.

Sebetulnya naditira pradeca ini tidak hanya Curabhaya. Ada nama nama lain, yang sekarang masuk wilayah administrasi kota Surabaya. Nama nama naditira pradeca itu adalah i Gsang (Pagesangan), i Bkul (Bungkul) dan i Curabhaya (Surabaya).

Jika Gsang = Pagesangan dan Bkul = Bungkul, maka Dimanakah letak Naditira Pradeca Curabhaya, yang menjadi kota dengan wilayah sekitar 326, 8 km2?

Secara geografis, berdasarkan prasasti Canggu, Curabhaya berada di utara Bkul. Sedangkan Bkul berada di utara Gsang.

Jika dilacak keberadaan nama nama itu sekarang, maka benar adanya bahwa Bungkul berada di utara Pagesangan. Sedangkan di utara Bungkul, disana ada Surabaya.

Lantas dimanakah Curabhaya atau Surabaya?

Menurut GH Von Faber dalam buku “Er Werd Een Stad Geboren” (Lahirnya Sebuah Kota…), Surabaya berada di antara Kalimas dan Pegirian, tepatnya di lingkungan Pengampon (1275). Surabaya adalah tempat permukiman baru yang dibuka oleh Raja Kertanegara pada 1275 M untuk menampung para jawara yang sebelumnya bermukim di Peneleh Pandean yang berada di selatan Pengampon. Pemukiman Peneleh Pandean ini sudah ada, menurut Faber, pada 1270 M.

Karena nama nama Churabhaya, Bkul dan Gsang menggambarkan desa dengan layanan penyeberangan sungai, maka layanan jasa tambangna yang masih ada di sungai Kalimas yang ada di wilayah Ngagel Surabaya perlu dilestarikan. Tambangan ini adalah bentuk peradaban maritim Majapahit yang masih ada di Surabaya.

Selain tersurat dalam prasasti Canggu (1358), keberadaan Surabaya di era Majapahit juga tertulis pada kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Prapanca pada 1365 M yang menceritakan tentang perjalanan Raja Hayam Wuruk ke daerah daerah kekuasaannya.

Sebagaimana tertulis pada pupuh 17 (seloka 5, bait terakhir) yang berbunyi: “yang ring Janggala lot sabhaurpati ring Surabhaya manulus maring Buwun”, yang menurut Prof. Kem, terjemahan harfiahnya aberarti: “Ketika raja berada di Janggala, dia tinggal di Surabaya, lalu dia meneruskan perjalanan menuju Buwun”.

Era Klasik Islam (sunan Ampel)

Kronolofi berikutnya adalah mulai berkembangnya ajaran Islam yang diceritakan dengan hadirnya Raden Rachmad bersama warga yang berjumlah 3000 keluarga dari Trowulan di Ampel Denta. (Von Faber).

Kemudian di Ampel Denta, Raden Rahmad mendirikan masjid sederhana (1420) dan pesantren. Itulah mulai berkembangnya Islam di tanah perdikan Ampel Denta. Ampel Denta adalah kampung yang bersifat Hinduisme, yang selanjutnya seiring dengan datangnya Raden Rachmad menjadi kampung yang bersifat Islami.

Selain mengajarkan agama Islam, Raden Rahmad juga menjadi seorang pemimpin daerah (kampung Ampel Denta) yang selanjutnya Ia juga dikatakan sebagai bupati di sana. Konon nama Ampel Denta (Hinduisme) dirubah menjadi Surabaya (Islami) – Von Faber: Oud Soerabaia.

Selain pendirian masjid Ampel, Raden Rahmad juga dikabarkan mendirikan masjid di Peneleh yang dikenal dengan nama Masjid Agung Peneleh. Selain itu juga mendirikan masjid di Kembang Kuning, yang disebut Masjid Rahmad. Kata Rahmad di ambil dari nama Raden Rahmad.

Tidak jauh dari masjid Rahmad ada komplek pemakaman kuno yang bernama makam Mbah Karimah, yang memiliki kaitan dengan Raden Rahmad.

Pada awal masa Islam, bentuk bangunan Masjid secara fisik masih seperti pendopo yang bersifat Hinduisme. Contoh gambar masjid yang masih seperti pendopo nampak pada sebuah relief di masjid Rahmad. Begitu pula dengan penggambaran masjid Ampel dan Peneleh.

Dalam buku Oud Soerabaia, terkabar (menurut laporan pendeta Valentijn dari Batavia) bahwa pembangunan masjid Ampel pada 1870 M adalah untuk menggantikan masjid yang sudah ada sebelumnya yang sangat tua, kecil dan sederhana.

Era Kedatangan Bangsa Eropa dan Perang Surabaya vs Mataram (abad 16-17)

Pada abad 16, Surabaya sudah dikenal sebagai kota pelabuhan yang mulai ramai seperti kota kota pelabuhan lainnya di pantai utara seperti Jourtan, Tuban, Gresik dan Pasuruan.

Mulanya, adalah orang orang Portugis yang menapakkan kaki di kota kota Bandar ini. Adalah Alfonso De Albuquerque, raja muda Portugis di India, pada 1511, mengirim kapal kapal di bawah pimpinan d’ Abreu.

Pada 1521 datang lagi kapal kapal Portugis dibawah panglima Antonio de Brito. Kedatangan mereka ke kota kota Bandar ini disambut baik oleh raja raja (pimpinan) setempat.

Berikutnya pada 1598 datanglah orang orang Belanda, termasuk ke Surabaya, dengan tujuan mencari komoditas dagang. Pertama tama orang orang Belanda ini diterima dengan kurang bersahabat oleh orang orang setempat.

Sikap kurang bersahabat ini akhirnya menjadi cair ketika Hendrik Brouwer, penguasa VOC, menawarkan sebuah meriam besi kepada raja di Surabaya atas perintah gubernur Jendral Pieter Booth (GJ pertama). Bahkan ketika gubernur Jendral berikutnya, Jan Pieterzoon Coen, menghadiahkan sebuah kapal kepada penguasa Surabaya dengan tujuan mendapat kemudahan dalam urusan dagang, ternyata sikap ini membuat marah penguasa Mataram (raja besar) karena Mataram ini berusaha untuk menguasai Surabaya (raja kecil).

Perseteruan Mataram (raja besar) dan Surabaya (raja kecil) sudah terlihat. Perang antara keduanya terus terjadi. Kemenangan juga silih berganti sampai pada akhirnya pada 1625 Surabaya dapat ditaklukkan Mataram dengan cara membendung sungai dari bagian hulunya.

Peperangan Mataram vs Surabaya ini menjadi catatan Gubernur Jendral selanjutnya, Pieter de Carpenter, (pengganti Coen) yang menuliskan bahwa kemenangan silih berganti dan Surabaya sempat mampu bertahan. Surabaya kuat.

Sejak itu Mataram menguasai Surabaya, tapi Surabaya masih saja tidak mau. Mereka selalu berontak dan berupaya melakukan perlawanan. Perlawanan besar terjadi ketika Trunojoyo hadir. Trunojoyo sangat ditakuti Kompeni. Untuk menghadapi Trunojoyo, pada 1677, Laksamana Speelman turun tangan ke Surabaya dan menghadapi Trunojoyo.

Dalam laporan Speelman sebagaimana ditulis GH Von Faber dalam “Oud Soerabaia”, yang berupa peta yang mengambarkan strategi peperangan dari kedua belah pihak. Tergambar pos pos yang menjadi Benteng pertahanan Trunojoyo termasuk pos di kraton Surabaya.

Kraton ini terletak di kawasan yang sekarang menjadi kawasan Tugu Pahlawan. Lokasi kraton Surabaya ini berada di area yang sudah pernah dipakai oleh pemerintahan pra Mataram. Pra Mataram diduga adalah era Majapahit.

Jadi di tempat yang sekarang menjadi kawasan pusat pemerintahan Jawa Timur yang ditandai dengan adanya kantor gubernur Jawa Timur, dulunya adalah kawasan kraton di masa pemerintahan klasik Surabaya sebagai kelanjutan dari pemerintahan lokal di era Majapahit. Kraton menjadi pusat pertahanan Trunojoyo.

Era VOC dan Hindia Belanda (abad 18-20)

11 November 1743 adalah momentum dan bersejarah. Ini adalah tanggal penyerahan kekuasaan wilayah Ujung timur Jawa dari Mataram kepada VOC. Surabaya adalah ibukota wilayah Ujung Timur Jawa dengan kepala daerah yang disebut Sakeber (Gezaghebber). Menurut Prof Purnawan Basundoro, sejarawan Universitas Airlangga, sejak itulah pembangunan dan perkembangan Surabaya terlihat semakin pesat.

Perkembangan itu ditandai dengan pembangunan infrastruktur kota (dibatasi tembok untuk menunjukkan wilayah teritorial, bangunan fungsional mulai pemerintahan, peribadatan dan kemasyarakatan serta utilitas kota Surabaya) dan sistim administrasi kota.

Pusat kota, terkonsentrasi di kawasan Jembatan Merah (terfokus di kawasan tua kota karena di sana sudah ada pemukim Tionghoa di sebrang Kalimas) tepatnya di barat Kalimas yang selanjutnya disebut Kampung Eropa.

Sementara sistim pemerintahan lokal pribumi masih berjalan dan beroperasi di kawasan kunonya, yaitu di kawasan Tugu Pahlawan. Di tempat itu masih bersiri pendopo Kasepuhan (eerstregentschap) dan Kanoman (tweeregentschap).

Ketika pemerintahan swasta VOC bangkrut (1799) dan diambil alih oleh pemerintahan Bindia Belanda, maka sejak 1800 Surabaya semakin berkembang dan mekar. Pemekaran kota terjadi ke Selatan mengikuti aliran Kalimas. Akhirnya, pusat pemerintahan kolonial pun ikut berkembang dan berpindah ke selatan.

Berikutnya dibangunlah kantor pemerintah di kawasan tugu Pahlawan untuk pemerintahan propinsi karena sejak VOC (1743) Surabaya sudah menjadi ibukota wilayah Ujung Timur Jawa (Java’s Oosrhook) yang wilayahnya pantau utara Jawa sisi timur hingga Situbondo.

Wilayah ini dikepalai okeh Gezaghebber (Sakeber). Salah seorang Gezaghebber yang namanya terukir pada batu nisan adalah Abraham Christopher Coertsz. Nisan yang awalnya di kawasan Kota tua Surabaya, kemudian dipindah ke gereja Bubutan dan bendanya masih ada disana.

Sementara kantor pemerintahan kota Surabaya berpindah di Ketabang pada 1920-an. Kini menjadi Balai Kota.

Era Kemerdekaan dan Panca Kemerdekaan (abad 20-21)

Pada era ini menunjukkan proklamasi 17 Agustus 1945 dan perang Surabaya 10 November 1945 untuk mempertahankan kedaulatan. Pada masa pasca kemerdekaan, sistim pemerintahan masih berbentuk karesidenan (peninggalan kolonial) dengan Ibukotanya Surabaya di wilayah Kabupaten Surabaya.

Karesidenan Surabaya wilayahnya meliputi Kabupaten Surabaya, Gresik, Lamongan, Sidoarjo, Mojokerto dan Jombang. Makanya dalam kisah pertempuran Surabaya ada sosok pejuang yang bernama Residen Sudirman yang namanya diabadikan menjadi nama jalan Residen Sudirman.

Sebagai wilayah yang pemerintahannya berbentuk pemerintahannya Kabupaten, hingga sekarang peninggalan kantor Kabupaten Surabaya masih berdiri di jalan Gentengkali.

Dalam sistim pemerintahsn kolonial yang kepala pemerintahannya dipegang oleh warga Belanda yaitu ketika terjadi desentralisasi pada awal abad 20, di saat itulah ada sistim pemerintahan kota Surabaya yang lebih moderen. Yaitu tertangal 1 April 1906. Kemudian di tahun 1920 an, pemerintah kota Surabaya memiliki kantor di Ketabang yang selanjutnya di kenal dengan nama Balai Kota.

Dalam perkembangannya sistim pemerintahan Kabupaten Surabaya ditinggalkan. Namun bukti sebagai pemerintahan Kabupaten dapat diidentifikasi dari makam makam para bupati Surabaya di pemakaman Bibis, Botol Putih dan Ampel.[nanang]

kalimasmajapahitprasasti canggusejarah surabayasumur jobong
Komentar (0)
Tambah Komentar