Oleh: Noviyanto Aji
Di sebuah langgar, Nunuk duduk termenung. Sorot matanya tajam. Banyak teka teki belum terjawab atas apa yang barusan terjadi. Seperti, bagaimana seseorang diikuti malaikat. Apakah dia disukai malaikat. Sebagaimana Sahid yang mengayuh sepeda secepat kilat karena ditarik malaikat.
Nunuk memperhatikan gerak gerik pria tersebut. Pembawaan sangat kharismatik. Ada aura kuat dalam dirinya. Meski usianya tak lagi muda, sama sekali tidak terlihat kerut-kerutan di wajahnya. Badannya tegap. Tidak bongkok. Cara berjalannya biasa saja. Tidak mencerminkan orang-orang tua. Malah, seperti kebanyakan anak muda. Berjalan dengan langkah tegas. Kakinya menapak ke bumi bagai magnet yang tak bisa lepas.
Pancaran matanya mampu meneropong sudut-sudut jauh yang sulit dijamah manusia.
Jika di awal pertemuan Nunuk menganggap pria itu gila, lambat laun prasangkanya berubah. Dia bukan pria gila melainkan seorang linuwih. Ulama hebat. Pemikir. Pelaku spiritual. Segala gerak geriknya selalu dihitung. Semua panca indera pria itu tak luput dari hitungan. Seperti berdzikir dengan sendirinya.
Banyak pertanyaan menghinggapi pikiran Nunuk. Teka teki siapa sosok pria itu belum juga terjawab, tetapi Nunuk sudah disibukkan dengan pertemuan kedua kalinya yang tidak biasa. Bagai sebuah takdir. Dan, takdir pun terkadang tidak pernah selalu datang secara kebetulan hingga dua kali. Takdir pula yang mempertemukan mereka dengan jalan yang tidak terkira. Rahasia Allah benar-benar sulit ditebak.
Nunuk memperhatikan pria itu tanpa berkedip. Rasa penasarannya begitu tinggi. Diam-diam Nunuk memperhatikan pria itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tetapi dia tak berani menatap matanya. Mata itu terlalu tajam setajam belati. Bila beradu tatapan, Nunuk seperti dibelah pendalamannya. Dari perawakannya, usia pria itu seumuran Sahid. Atau, jangan-jangan mereka saling mengenal.
“Semua ulama mengenal Sahid. Beliau pasti juga mengenalnya,” gumam Nunuk.
Nunuk yang masih duduk di pojokan langgar, perhatiannya tiba-tiba teralihkan begitu melihat pria itu sedang bersiap-siap untuk sholat. Kali ini Nunuk tidak lagi melihat sosoknya bertelanjang dada. Malam ini dia mengenakan pakaian lengkap. Sarung dan kemeja warna abu-abu berikut kopyah yang menutupi rambutnya.
“Inikah pria gila yang aku temui di jalanan?” Batin Nunuk.
Di hadapan Tuhannya, pria itu mengenakan pakaian terbaiknya meski sangat sederhana. Berlebihan pun tidak. Jauh dari kesan gila.
“Aku belum sholat Isya,” pria itu memberitahu Nunuk yang sedari dari menguras pikirannya.
“Monggo Kyai, saya tadi sudah,” jawabnya singkat.
“Apa kamu mau menungguku?”
Nunuk agak ragu menjawab. Perempuan Bahu Laweyan itu mengangguk.
Tanpa menunggu jawaban Nunuk, pria itu langsung membalikkan badan. Tak lama kemudian terdengar suara menggema di seluruh ruangan “Allahuakbar”. Lalu, suasana menjadi hening. Dia pun larut bersama kekasihnya.
Cukup lama pria itu berdiri di depan pengimaman. Tidak ada tanda-tanda dia akan ruku’. Selama hampir setengah jam dia berdiri mematung. Tidak ada gerakan. Sangat khusyuk. Mendadak Nunuk teringat dengan suaminya Sahid saat sholat di hutan gunung Penanggungan.
Kala itu Sahid meminta istrinya untuk bersabar jika menjadi makmum. Nunuk mengiyakan. Dan yang tak disangka-sangka, Sahid kemudian membaca seluruh isi Alquran. Nunuk masih ingat betapa merdu suara Sahid ketika melantunkan ayat-ayat Allah. Seluruh hutan tiba-tiba sunyi. Suara binatang di dalam hutan yang sebelumnya saling sahut menyahut tiba-tiba berhenti. Waktu seketika terasa berhenti.
Dan kini, di depannya berdiri seorang pria sedang mengerjakan sholat persis yang dilakukan Sahid. Meski suaranya tidak terdengar, sayup-sayup Nunuk masih bisa mendengar desis suara keluar dari mulutnya. Saking cepatnya bacaan yang dilafadzkan dengan lirih, sehingga menghasilkan suara desisan. Nunuk meyakini pria itu sedang membaca seluruh isi Alquran. Karena suasana di sekeliling yang hening, suara desisan sesekali terdengar cukup nyaring. Membahana di dinding-dinding langgar.
“Mas Sahid,” Nunuk berucap lirih sambil menunduk dengan mata terpejam sembaru membayangkan wajah suaminya.
Lalu buru-buru dia mengucap istigfar, “Astagfirullah!”
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya pria itu selesai juga menunaikan hajatnya. Suara ‘Assalamualaikum’ menandakan sholatnya telah selesai. Nunuk tidak mengambil gerakan. Dia tetap duduk di tempatnya. Seperti orang sedang menunggu perintah.
Pria itu segera membalikkan badannya dan mengambil duduk bersila. Dia menatap Nunuk yang masih duduk menjauh di pojok mushola.
“Ke sini, Nuk!” Panggilnya sambil melambaikan tangan.
Nunuk terperanjat mendengar namanya disebut.
“Bagaimana dia tahu namaku?” Pikirannya seketika kacau.
Nunuk lalu bangkit, maju beberapa langkah dan kembali duduk di hadapan pria tersebut. Situasinya lebih menyerupai guru sedang memberi wejangan pada murid.
Mata Nunuk tetap diarahkan ke bawah. Tak berani dia menatap pria itu. Sesekali saja ketika diajak bicara, dia mengangkat matanya. Tetapi dia lebih banyak menunduk. Dia tahu persis pria di hadapannya bukan orang biasa. Rasa penasaran Nunuk kembali menyelinap. Dia memberanikan bertanya.
“Bagaimana kyai bisa tahu nama saya?” Tanyanya.
Pria itu tersenyum.
“Bagaimana kamu bisa tahu aku berada di sini?” Dia balik bertanya.
Dilempar pertanyaan balik, perempuan itu memilih diam. Dia menolak menjawab karena baginya proses pertemuan itu tidak bisa hanya diucapkan dengan rangkaian kata-kata.
“Kalau boleh tahu, nama kyai siapa?” Nunuk sebenarnya merasa tidak sopan tidak mengetahui nama sosok di hadapannya. Sementara pria itu sudah tahu nama Nunuk. Jadi, pertanyaan tadi dibalas dengan pertanyaan juga.
“Kita sudah bertemu dua kali. Bukan aku yang mencarimu, kau sendiri yang datang kemari. Bagaimana mungkin kau mencari orang yang tidak kau ketahui namanya?”
Lagi, pertanyaan dibalas pertanyaan.
“Yang namanya pertemuan pasti ada yang mengatur. Semua yang diciptakan pasti sudah diatur. Sekecil apapun keadaannya, yang diciptakan tidak bisa mengatur dirinya sendiri, meski ada yang berpendapat mereka memiliki kehendak bebas. Tetapi pada hakekatnya tidak ada kehendak bebas. Sebagaimana anak yang baru lahir, dia tidak memiliki kehendak bebas. Yang menciptakan Maha Mengetahui segalanya,” ucap Nunuk seperti menegaskan bahwa dia sendiri tidak tahu jawabannya.
“Kamu yakin pertemuan kita sudah diatur? Bagaimana cara Dia mengaturnya?”
“Bukankah semua karena iradatNya. Apabila Dia menghendaki, Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah!’, maka terjadilah ia.”
“Bagaimana bila Dia tidak menghendaki pertemuan ini. Apa yang terjadi?”
“Tidak ada yang akan terjadi. Semua kejadian tidak bisa diandai-andaikan. Manusia saja yang memandangnya itu sebagai sebuah kejadian. Sakit. Mati. Sedih. Bahagia. Kaya. Miskin. Tidak ada yang buruk dari semua itu. Pertemuan ini, ada atau tidak ada, Dia tetap Yang Maha Menyeimbangkan.”
“Apakah yang kau cari masih berada di depanmu?”
“Entahlah!”
“Kau bicara soal ada dan tiada. Bahwa semua itu adalah ketetapanNya. Tetapi kau tidak tahu dengan keadaanmu sendiri.”
Nunuk menunduk mendengar ucapan pria di hadapannya.
“Kita semua dihadapkan pada suatu keadaan untuk patuh dan tunduk. Tidak ada satu nafas pun yang kita hembuskan kecuali atas catatan takdir. Sayangnya, terkadang kita setia hanya dalam keadaan sempit. Saat sakit. Saat musibah datang. Padahal yang namanya kepatuhan itu apabila ia menyadari waktu dan keadaannya dengan keimanan total,” ucap pria itu.
“Saya telah melakukan banyak dosa. Entah apakah dosa-dosa ini bisa dimaafkan.”
“Di dunia ini tidak ada kondisi senang dan nyaman yang bisa diandalkan. Semua pengalaman dan peristiwa yang kau alami selalu berada pada dua sifat yang berlawanan. Jika kau mengandalkan permintaan pada kemampuanmu sendiri, dipastikan banyak kegagalan. Sebaliknya, takkan ada kegagalan atas permintaan yang kau sandarkan semata-mata karena karuniaNya. Caranya menyembah dengan rendah diri secara terus menerus dan tidak putus sedetik pun. Karena Dia Yang Awal, Yang Akhir dan meliputi waktu.”
Kata-kata pria itu seperti menampar wajah Nunuk. Dia seolah tahu alur kehidupan yang selama ini dijalani Nunuk.
“Usahamu untuk memperhatikan aib yang ada dalam dirimu itu sejatinya lebih baik daripada usahamu agar terbukanya tirai gaib untukmu. Alam gaib yang terbuka dari kita justru akibat kesalahan-kesalahan, selubung-selubung, serta kerusakan pikiran dan hati kita,” tutur pria itu.
Pria itu bangkit. Menatap sekelilingnya. Mengambil nafas dalam. Nunuk melihat gerakan tiba-tiba seperti itu, menjadi gelagapan. Dia mendongakkan kepala menatap pria itu lantas ikut bangkit.
“Di sini hening. Aku suka, Nuk. Keheningan ini cocok untuk kita berolahrahsa.”
Nunuk mengangguk.
“Namaku Wahid,” pria itu mengenakan dirinya tetapi tidak menatap orang yang diajak bicara.
Nunuk menatap sekilas wajah Wahid, sekedar memastikan dan mengingat wajah pria di hadapannya. Namun Nunuk buru-buru membuang mukanya. Takut Wahid balik menatapnya.
“Dan ya…” sambil menghembuskan nafas panjang, “aku memang kenal dengan suamimu,” sahutnya.
“Apa benar kyai?”
“Ikutilah denganku,” ajak Wahid tanpa menjawab pertanyaan Nunuk.
Wahid melangkah keluar. Diikuti Nunuk. Keduanya berjalan menyusuri jalanan yang lengang. Rupanya malam sudah larut. Nunuk baru sadar ternyata dia menunggu Wahid terlalu lama.
“Kita mau ke mana, kyai?” Tanya Nunuk.
“Kita jalan-jalan saja malam ini!” Serunya.
“Apakah kyai tidak kembali mengajar ke atas sana?” Nunuk menoleh ke bukit Giri Kedaton.
“Kau bilang sudah ada yang mengajar mereka,” balas Wahid singkat.
“Malaikat bumi!” Nunuk menjawab dengan ragu.
“Nah, kau sudah tahu.”
“Kyai yang bilang tadi.”
***
Lama mereka berjalan. Nunuk hanya mengikuti langkah Wahid tanpa berani lagi bertanya arah dan tujuan.
Mereka keluar masuk perkampungan. Di luar, nyaris tidak ada orang. Keadaannya sepi.
Sambil berjalan, Wahid membuka obrolan, “aku sudah lama kenal suamimu, Nuk!”
Nunuk diam. Telinganya dibuka lebar-lebar. Dalam hati, dia menduga pasti Wahid pernah bertemu Sahid dan menceritakan tentang dirinya.
“Setelah kau membinasakan Gendro Swara Pati, aku yakin kau bukan orang biasa.”
Nunuk kaget. Bagaimana Wahid tahu Gendro Swara Pati sudah mati. Bagaimana dia tahu soal jin jahat itu. Bukankah waktu itu dia berada di Tuban. Sedangkan Wahid di Gresik. Dan Sahid entah berada di mana. Tidak mungkin Wahid tahu apa yang tidak diketahuinya. Apalagi Nunuk juga belum bertemu Sahid dan menceritakan soal kematian Gendro Swara Pati.
“Sahid…Sahid…” sejenak dia menyebut nama temannya seperti tidak percaya.
“Nama kita hampir sama. Hanya beda huruf depan saja. Dasar orang gila,” Wahid mengumpat sambil tersenyum.
“Kapan kyai bertemu Mas Sahid?”
“Kami sama-sama menimba ilmu kepada guru yang sama.”
Nunuk menghentikan langkahnya. Dadanya terasa mengempis. Jalan kampung yang mereka susuri seketika terasa lebih sempit. Udara malam menekan dadanya seperti beban yang tak kasat mata.
“Guru yang sama?” Tanyanya pelan.
Wahid ikut berhenti. Dia tidak segera menjawab. Pandangannya lurus ke depan, menembus gelap, seolah sedang membaca jejak-jejak yang tidak terlihat oleh mata biasa. Wahid menunggu Nunuk berjalan.
“Mereka seperguruan,” sahut Nunuk menelan ludah lalu kembali melangkah mengikuti Wahid.
“Mas Sahid tidak pernah bercerita,” ucapnya lirih.
“Ilmu yang diceritakan biasanya justru belum menjadi ilmu,” singkat Wahid. “Sahid tahu itu.”
Mereka melewati sebuah sungai kecil. Airnya mengalir pelan. Wahid berhenti di tepi sungai, memandangi aliran air yang memantulkan cahaya bulan nyaris penuh.
“Kau tahu mengapa Sahid harus menghilang?” Tanya Wahid.
Nunuk menggeleng.
“Karena pada satu titik, seseorang tidak lagi boleh dilihat sebagai manusia biasa,” lanjutnya. “Jika ia tetap tinggal, ia akan dijadikan berhala. Atau dibinasakan.”
Nunuk memejamkan mata. Ingatannya kembali pada tatapan terakhir Sahid saat berpisah di kaki Gunung Penanggungan. Maka, ditariklah gambaran sesuatu yang tak kasat mata.
“Guru kami selalu berkata,” Wahid melanjutkan, “jika kau ingin selamat, sembunyikan kelebihanmu. Jika kau ingin bermanfaat, bersiaplah untuk hilang.”
Nunuk terdiam lama.
“Apakah itu jalan yang ditempuh Mas Sahid dan kyai?”
“Jalan, ha…ha…ha…” Wahid tertawa memecah keheningan, “kau kira jalanku dan Sahid sama. Jalan kita justru berbeda.”
***
Wahid kemudian menceritakan bahwa sejak bersama-sama duduk di lantai padepokan tua itu, jalan dia dan Sahid tidak pernah beriringan. Perbedaan mereka bukan soal jarak bukan pula soal ruang, melainkan arah batin.
Guru mereka tidak pernah mengajar dengan suara lantang. Ia lebih sering diam. Kadang berhari-hari. Kadang berminggu.
Sahid datang dengan luka. Luka yang tidak ia ceritakan, tetapi terus berdarah di dalam. Ia belajar untuk menahan sakit dengan cara bergerak. Berjalan. Mengayuh. Menyusuri jalan-jalan sunyi, seolah jika ia berhenti, luka itu akan mengejarnya. Tetapi luka Sahid bukan luka dunia, melainkan luka kerinduan terhadap Sang Pencipta.
Sebaliknya, Wahid datang dengan kelebihan. Kelebihan yang sejak awal sudah membuatnya dijaga. Kelebihan untuk selalu dekat dengan Sang Khaliq. Maka, dia belajar untuk diam. Duduk. Menunggu. Menyaksikan orang lain tersesat, tanpa tergesa memberi penunjuk arah.
Gurunya pernah berkata kepada mereka, pada malam yang berbeda.
Kepada Sahid, dia berkata,
“Ilmumu akan menyelamatkan banyak orang, tapi tidak dirimu sendiri.”
Kepada Wahid, dia berkata,
“Ilmumu akan menyelamatkan dirimu sendiri, tapi jarang terlihat menyelamatkan orang lain.”
Sahid menerima kalimat itu tanpa bertanya. Wahid pun demikian dan mengingatnya tanpa membantah.
Sejak saat itu, jalur mereka terpisah dengan sendirinya.
Sahid menempuh jalan ilmu yang bergerak ke luar. Ia hadir di kerumunan, di jalan-jalan, di peristiwa-peristiwa yang gaduh. Ia menjadi simpul bagi banyak takdir. Orang-orang merasa ditarik ke arahnya tanpa tahu sebabnya. Bahkan malaikat pun, kata orang, mengikuti langkahnya—bukan untuk mengagungkannya, tetapi memastikan bahwa Sahid tidak terlalu jauh melampaui batas.
Wahid menempuh jalan ilmu yang bergerak ke dalam. Ia jarang terlihat. Namanya jarang disebut. Ia lebih sering hadir sebagai jeda. Sebagai penghalang agar sesuatu tidak terjadi terlalu cepat. Ia menjaga agar keseimbangan tidak runtuh hanya karena satu orang berjalan terlalu terang.
Sekilas jalan keduanya terlihat sama, tetapi jika diamati secara mendalam, jalan keduanya berbeda.
Wahid menceritakan, pernah suatu malam, dia dan Sahid terlibat obrolan. “Kenapa aku selalu merasa dikejar?”
Wahid menjawab singkat, “Karena kau memilih berjalan di depan.”
Di malam lain, Wahid ganti bertanya, “Kenapa kau tidak berhenti saja?”
Sahid tersenyum, “Karena jika aku berhenti, orang-orang di belakangku akan bertabrakan.”
Dari sini terlihat yang satu lurus ke depan, yang satu melingkar ke dalam. Ada dua jalur. Keduanya bisa bertemu tetapi jangan harap bisa dipertemukan dengan cepat.
Dua jalur itu tetap bisa berjalan. Tetapi tddak saling menyapa juga tidak saling mendahului.
Kepada Nunuk, Wahid mengatakan bahwa dia dan Sahid bukan bertentangan. Mereka saling menahan agar yang satu tidak terbakar oleh sorot, dan yang lain tidak membusuk oleh sunyi.
Maka ketika Sahid harus menghilang, Wahid-lah yang tinggal. Bukan sebagai pengganti, tetapi sebagai penutup celah.
“Lalu, bagaimana aku kyai?” Nunuk bertanya.
Wahid menoleh. Kali ini menatap Nunuk lekat-lekat. Tatapannya tidak lagi setajam belati, tetapi dalam dan berat.
“Kau tidak diminta untuk menghilang,” katanya. “Kau diminta untuk menahan.”
“Menahan apa?”
“Menahan agar tidak tergesa membuka apa yang seharusnya tetap tertutup.”
Dan ketika Nunuk diberi amanah untuk menahan, itu bukan karena ia lemah, melainkan karena jalurnya selalu ditempatkan di simpul—tempat dua arus bertemu tanpa saling meniadakan.
Sejatinya sumber segala ketaatan, kewaspadaan, dan kesucian adalah menahan hawa nafsu. Dan nafsu selalu menutupi pengetahuan tentang kehadiran dan kesempurnaanNya.
Kata-kata Wahid mengingatkan Nunuk pada Gendro Swara Pati. Ia tidak pernah berniat membuka apa pun malam itu. Semua terjadi seperti arus yang tak bisa ditolak.
Pengalaman masa lalu dan keinginan akan riwayat-riwayat tentang kegagalan dan kesuksesan merupakan rintangan menuju pemahaman yang lebih tinggi. Dan jika seseorang itu menahan nafsu masa lalu dan masa sekarangnya, dia akan mampu melihat peristiwa-peristiwa sekarang secara mendalam dan jujur.
“Aku tidak berniat membinasakannya,” Nunuk menyesali perbuatannya.
“Aku tahu,” sahut Wahid cepat. “Itu sebabnya kau masih diberi jalan.”
Mereka kembali berjalan. Kali ini memasuki perkampungan lagi. Bau tanah basah usai turun hujan menyergap hidung. Langkah Wahid tetap ringan, seolah kakinya tidak benar-benar menapak tanah.
“Mas Sahid sekarang di mana?” Nunuk akhirnya bertanya karena rasa penasaran yang tinggi akan keberadaan suaminya.
Wahid tersenyum tipis.
“Masih berjalan.”
“Ke mana?”
“Ke dalam.”
Nunuk mengernyit.
“Semakin dalam seseorang berjalan ke dalam,” lanjut Wahid, “semakin sedikit ia bisa kembali ke luar.”
Angin malam berhembus lebih dingin.
“Apakah aku akan bertemu dia lagi?” suara Nunuk bergetar.
Wahid berhenti sekali lagi. Kali ini dia memejamkan mata cukup lama. Seolah sedang meminta izin untuk menjawab.
“Jika pertemuan itu penting bagi imanmu, kau akan dipertemukan,” katanya. “Jika pertemuan itu justru membahayakan hatimu, kau akan dijauhkan.”
Nunuk mengangguk pelan. Ia tahu, jawaban itu tidak bisa dibantah.
“Kau diberi tugas yang lebih berat. Karena kau menanggung rahasia bukan hanya untuk dirimu sendiri.”
Nunuk tersentak.
“Apakah Mas Sahid yang menceritakannya?”
Nunuk tidak mendapat jawaban dari Wahid.
***
Setelah hampir satu jam mereka berjalan, akhirnya tibalah keduanya di sebuah pertigaan jalan.
Wahid berhenti.
“Sampai di sini saja,” katanya.
Nunuk terkejut. “Kyai tidak lanjut?”
“Tidak semua jalan harus ditempuh bersama,” balasnya.
Sebelum Wahid benar-benar melangkah pergi, dia sempat berhenti. Tidak berbalik sepenuhnya, hanya memiringkan kepala, seolah baru teringat sesuatu.
“Nunuk,” panggilnya pelan.
Nunuk menoleh cepat.
“Ada satu perkara yang belum kusampaikan kepadamu,” katanya.
Wahid kemudian jongkok perlahan. Ujung telunjuknya menyentuh tanah di pertigaan itu. Ia tidak menggambar garis atau simbol. Hanya satu sentuhan singkat, lalu jari itu diangkat kembali.
“Kau lihat apa?” Tanyanya.
Nunuk memicingkan mata. Tanah itu tampak biasa saja.
“Tidak ada apa-apa,” jawabnya ragu.
Wahid tersenyum tipis.
“Itulah ba’.”
Nunuk terdiam. Bukankah titik ba’ adalah poin utama dari pertemuan malam itu. Saat bertemu di Jogja, Nunuk ingin diajarkan soal titik ba’.
“Titik ba,” lanjut Wahid, “adalah ilmu paling awal, sekaligus paling akhir. Ia tidak bisa diajarkan kepada orang yang ingin melihat sesuatu. Ia hanya bisa diterima oleh orang yang sanggup menerima ketiadaan.”
Nunuk merasakan dadanya bergetar halus. Seperti ada sesuatu yang selama ini dia bawa, tetapi baru sekarang diberi nama.
“Sahid membawa ba’ menjadi langkah,” kata Wahid. “Ia menggerakkannya, menghidupkannya, mempertemukannya dengan manusia dan peristiwa. Tugasku berbeda.”
Wahid menatap tanah itu kembali.
“Tugasku menjaga agar ba’ tidak berubah sebelum waktunya.”
Nunuk menelan ludah.
“Lalu aku?”
Wahid berdiri. Kali ini menatap Nunuk sepenuhnya.
“Kau,” katanya pelan, “akan belajar menjaga ba’ di dalam dirimu sendiri.”
Ia mendekat setengah langkah.
“Titik ba’ bukan ilmu menyerang. Bukan ilmu membuka. Ia ilmu menahan getar pertama—agar tidak semua yang kau rasakan harus keluar menjadi tindakan, ucapan, atau kuasa.”
Nunuk mengingat malam Gendro Swara Pati. Mengingat bagaimana sesuatu hampir terbuka tanpa ia kehendaki.
“Jika suatu hari kau merasa bisa melihat terlalu banyak,” lanjut Wahid, “kembalilah ke ba’. Ke titik sebelum makna. Sebelum penilaian. Sebelum kau merasa lebih tahu.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan ingat,” katanya lirih, “perempuan sering diberi ba’ lebih awal. Karena rahim bukan hanya tempat lahirnya tubuh, tapi juga tempat ditahannya rahasia.”
Nunuk menunduk. Air matanya jatuh tanpa suara.
“Apakah aku akan sanggup?” Tanyanya.
Wahid tersenyum. Kali ini senyum yang nyaris hangat.
“Jika kau tidak sanggup, ba’ akan pecah,” katanya. “Tapi jika kau bersedia menahan, ba’ akan menjagamu—bahkan ketika Sahid tidak ada, dan aku tidak lagi terlihat.”
Ia melangkah mundur.
“Itu saja ajaranku,” ucapnya. “Tidak ada wirid. Tidak ada laku. Hanya kesediaan untuk diam sebelum menjadi.”
Wahid mengangkat tangan kanan, seperti hendak berdoa, lalu menurunkannya kembali.
“Sampaikan pada Sahid,” ujarnya berpesan, “bahwa Wahid masih menjaga amanah.”
Nunuk menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Bagaimana aku bisa menyampaikan pesan itu, jika aku tidak tahu di mana dia berada?”
Wahid tersenyum.
“Jika waktunya tiba,” lanjutnya pelan, “kau tidak perlu mencarinya. Dia akan tahu.”
Wahid melangkah menjauh. Kedua tangannya dilingkarkan ke belakang. Berjalannya pelan seperti orang sepuh. Pelan dan menghilang. Sosoknya lenyap begitu saja. Tidak berbelok. Tidak pula menjauh perlahan. Seolah malam menelannya.
Nunuk berdiri sendiri di pertigaan jalan. Angin berhembus pelan.
Ia menunduk. Menghela napas panjang.
“Mas Sahid,” bisiknya, “ternyata aku belum sendiri.”
Pertemuan malam itu membuat Nunuk berdiri mematung di pertigaan. Dia seakan memahami sesuatu bahwa amanah terberat bukanlah berjalan atau menghilang, melainkan menjaga titik awal tetap suci di dalam diri. Di sanalah titik ba’ bekerja. Sunyi. Tanpa saksi. Yang ada hanya wujud. Itulah yang menentukan segalanya.
Nunuk kembali melanjutkan perjalanannya. Kali perjalanan terakhirnya menuju Surabaya. Bebannya tetap sama. Tidak bertambah, tetapi juga tidak berkurang. Hanya semakin disadari.@bersambung