REKAYOREK. ID– Malam ini aku memandangi bilah tua di tanganku, dan pikiranku melayang jauh… kepada para musafir Islam yang dulu datang ke tanah ini.
Mereka berjalan melintasi laut, membawa kitab, doa, dan pedang di pinggang. Namun semakin kupikirkan, mungkin pedang itu bukan sekadar alat bertahan hidup.
Mungkin ia adalah simbol…!
Simbol bahwa perjalanan menuju Tuhan tidak pernah lembut sepenuhnya. Ada hutan batin yang harus dilewati. Ada gelap yang harus dihadapi. Ada bagian dalam diri yang harus dipotong.
Aku membayangkan… betapa sunyinya perjalanan mereka. Meninggalkan tanah kelahiran, menghadapi asing, menanggung rindu, dan tetap membawa cahaya dalam hati.
Dan aku sadar… setiap manusia juga adalah musafir.
Kita semua sedang berjalan. Bukan dari satu kota ke kota lain, tetapi dari ketidaktahuan menuju pengenalan. Dari ego menuju penyerahan. Dari “aku” menuju Dia.
Pedang di tangan musafir mungkin tidak selalu dipakai untuk melukai, tetapi untuk mengingatkan: bahwa dalam perjalanan ini, ada hal-hal dalam diri yang memang harus diputus agar jiwa bisa ringan.
Malam ini aku memegang pusaka, dan diam-diam bertanya…
Berapa banyak bagian dalam diriku yang masih kupertahankan, padahal justru itulah yang menghalangi jalanku pulang?
Quote inti:
“Kadang pedang paling tajam bukan untuk melukai dunia, tetapi untuk memotong ego di dalam diri.”
— Rivo Cahyono & Teman Seperjalanan