REKAYOREK.ID Menjelang lawatan resmi Perdana Menteri India, Narendra Modi, ke Tanah Air, Duta Besar India untuk Indonesia, Shri Sandeep Chakravorty, menggelar agenda taklimat media (press address). Pertemuan yang berlangsung secara hibrida tersebut diikuti oleh jurnalis dari Surabaya dan Jawa Tengah pada Jumat siang (3/7/2026).
Di Surabaya, jalannya konferensi pers daring dipusatkan di kawasan Babatan Pratama, Wiyung, dengan dipandu langsung oleh Konsul Kehormatan India untuk Jawa Timur, Manoj Bhat.
Dalam pemaparannya dari Jakarta, Dubes Shri Sandeep Chakravorty menegaskan bahwa kedatangan PM Narendra Modi merupakan kunjungan balasan atas lawatan resmi Presiden RI Prabowo Subianto ke India pada tahun lalu. Kunjungan ini sekaligus menjadi momentum krusial untuk memperkokoh kemitraan strategis kedua negara, khususnya di sektor ekonomi, pertahanan, perdagangan, kebudayaan, hingga hubungan antarwarga (people-to-people contact).
Berdasarkan jadwal yang dipaparkan Dubes Chakravorty, kunjungan PM Modi terbilang singkat, yakni hanya berlangsung selama dua malam pada tanggal 7 dan 8 Juli 2026 dengan destinasi utama Jakarta dan Yogyakarta.
Rangkaian agenda akan dimulai pada 7 Juli melalui pertemuan bilateral antarpemimpin negara di Istana Negara, Jakarta. Pada sore harinya, PM Modi dijadwalkan meluangkan waktu untuk menyapa komunitas warga India yang menetap di Indonesia.
Keesokan harinya, Rabu (8/7/2026), PM Modi bertolak menuju Yogyakarta. Di Kota Gudeg, agenda utama beliau adalah meninjau langsung proyek restorasi Candi Prambanan—sebuah proyek monumental yang menjadi simbol nyata kolaborasi kebudayaan antara India dan Indonesia.
Dorong Sinergi Media dan Warisan Budaya Takbenda
Sesi tanya jawab dimanfaatkan secara aktif oleh para jurnalis Surabaya untuk mendalami prospek kerja sama ekonomi serta penguatan relasi antarmedia kedua negara. Salah satu atensi khusus datang dari jurnalis Rajapatni.com, Nanang Purwono, yang menyoroti dimensi diplomasi budaya.
Nanang menilai restorasi Candi Prambanan merupakan bukti sukses kerja sama pada warisan budaya berwujud (tangible heritage). Melangkah lebih jauh, ia mengusulkan agar kedua negara mulai menjajaki kolaborasi pada aspek warisan budaya takbenda (intangible heritage), seperti pelestarian aksara dan bahasa kuno. Lewat momentum kunjungan ini, diharapkan jalinan kultural tersebut kian mengakar kuat.
Gayung bersambut, Konsul Kehormatan India untuk Jatim, Manoj Bhat, mengungkapkan langkah konkret terdekat. Pada akhir Juli ini, seorang pengajar bahasa Sansekerta dijadwalkan tiba di Indonesia untuk mendukung penguatan literasi budaya.
Fakta historis mencatat, Sansekerta memengaruhi banyak kosakata Indonesia, termasuk semboyan nasional negara: “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hanna Dharma Mangrwa”.
Sebagai penutup rangkaian acara, komunitas Puri Aksara Rajapatni menyerahkan dua eksemplar buku berjudul “ŚŪRABHAYA, Berani Menghadapi Bahaya” kepada Manoj Bhat. Buku tersebut nantinya akan diteruskan kepada PM Narendra Modi dan Dubes Shri Sandeep Chakravorty di Jakarta.
Buku “ŚŪRABHAYA” sendiri ditulis dengan landasan pemahaman linguistik Sansekerta yang kuat, di mana interpretasi maknanya merujuk langsung pada lini masa sejarah Prasasti Canggu. Prosesi penyerahan buku ini dikawal langsung oleh perwakilan Tim Puri Aksara Rajapatni yang terdiri dari Nanang Purwono, Novita, Christanto Wibisono, dan Gianto.@