Diary Pagi : Fajar Tidak Pernah Membawa Hari Kemarin

Brojol berarti lahir, keluar, atau memasuki awal yang baru. Bukan sekadar kelahiran tubuh, tetapi kelahiran kesadaran.

REKAYOREK. ID – Pagi ini aku duduk dengan secangkir kopi. Matahari kembali terbit seperti biasa. Anehnya, ia tidak pernah membawa cahaya kemarin. Ia selalu datang sebagai pagi yang baru.

Lalu aku bertanya pada diriku sendiri.

Mengapa aku masih membawa beban yang bahkan telah dilepaskan oleh alam?

Filsafat Jawa mengenal laku nglakoni—menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Bukan menolak masa lalu, bukan pula terjebak di dalamnya, tetapi membiarkan setiap peristiwa menjadi guru yang kemudian dilepas dengan ikhlas. Sebab hidup selalu bergerak, dan yang terus menggenggam tidak akan pernah benar-benar melangkah.

Saat memandang Keris Dhapur Brojol peninggalan Mataram dengan pamor Melati Tumpuk, aku merasa seperti sedang diingatkan kembali.

Brojol berarti lahir, keluar, atau memasuki awal yang baru. Bukan sekadar kelahiran tubuh, tetapi kelahiran kesadaran. Setiap pagi sebenarnya adalah kesempatan untuk brojol kembali—menjadi manusia yang sedikit lebih jernih daripada kemarin.

Sementara Melati Tumpuk mengajarkan bahwa keharuman hidup tidak muncul dari satu bunga saja, tetapi dari banyak lapisan pengalaman. Ada kebahagiaan, ada kehilangan, ada kegagalan, ada syukur. Semuanya bertumpuk membentuk aroma kehidupan yang utuh.

Mungkin aku tidak perlu menghapus masa laluku.

Aku hanya perlu berhenti membawanya sebagai beban.

Biarlah ia menjadi harum yang membentukku, bukan rantai yang mengikat langkahku.

Pagi ini, aku ingin lahir sekali lagi.

Bukan menjadi orang lain.

Tetapi menjadi diriku… yang lebih ringan.

Jika setiap fajar adalah kelahiran baru, mengapa aku masih hidup dengan beban hari kemarin?

> “Setiap pagi adalah kesempatan untuk lahir kembali; bukan tanpa masa lalu, tetapi tanpa lagi diperbudak olehnya.”
Oleh : — Rivo Cahyono & Teman Seperjalanan