REKAYOREK.ID – Hotel yang nyaman, makanan yang lezat, pemandangan yang indah. Namun pada akhirnya, ada satu kerinduan yang tidak pernah berubah: pulang.
Siang ini aku duduk di halaman rumah, secangkir kopi di tangan, memandang anjingku dan Aldabra yang berjalan pelan seperti tidak mengenal tergesa.
Tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan…
Mengapa rumah selalu terasa berbeda?
Mungkin karena rumah bukan sekadar tempat kita kembali, tetapi tempat kita berhenti menjadi siapa-siapa.
Lalu pikiranku melangkah lebih jauh.
Bukankah hidup ini sendiri hanyalah sebuah perjalanan?
Kita singgah di tubuh ini selama puluhan tahun. Kita membangun nama, mengumpulkan cerita, mencintai, kehilangan, belajar, lalu suatu hari… perjalanan itu selesai.
Dan mungkin, seperti rinduku pada rumah setelah seminggu bepergian, kesadaran kita pun suatu saat akan merindukan rumahnya yang sejati.
Bukan rumah dari batu dan kayu.
Melainkan rumah yang tak dapat dibangun oleh tangan manusia… tempat di mana kesadaran kembali setelah semua peran, nama, dan tubuh ditinggalkan.
Jika benar demikian, maka kematian bukanlah akhir perjalanan.
Mungkin ia hanyalah… kepulangan.
Selama hidup ini, apakah aku sedang sibuk membangun tempat singgah… atau sedang mempersiapkan diri untuk pulang?
“Mungkin yang kita sebut kematian hanyalah saat kesadaran akhirnya pulang ke rumah yang sejak awal selalu merindukannya.”
Oleh : Rivo Cahyono & Teman Seperjalanan