REKAYOREK.ID – Ada sesuatu yang aneh saat menatap bilah tua seperti ini.
Seolah ia tidak sedang diam, tapi sedang bercerita.
Sangkelat… luk tiga belas.
Orang-orang tua bilang ini lambang ujung perjalanan.
Bukan ujung hidup semata, tapi ujung dari keras kepala, ambisi, dan pencarian panjang tentang “aku”.
Sedang Wos Wutah… seperti beras yang tumpah.
Dulu kupikir itu hanya simbol rezeki.
Kini aku mulai merasa, mungkin itu lambang dari hidup yang telah menumpahkan terlalu banyak hal ke dalam diriku—
luka, kehilangan, cinta, pengkhianatan, kemenangan, dan sunyi.
Dan malam ini aku sadar…
mungkin hidup memang seperti sebilah keris: ditempa panas, dipukul berkali-kali, dilipat dalam tekanan, agar menjadi sesuatu yang tajam, namun sadar arah.
Mungkin bukan kebetulan jika pusaka dari era Amangkurat lahir di zaman penuh gejolak. Karena barangkali kesadaran memang jarang lahir dari kenyamanan.
Aku memegangnya lama.
Bukan untuk mencari tuahnya.
Tapi untuk mendengar diriku sendiri.
Dan di tengah sunyi malam ini, ada satu pertanyaan yang tinggal:
Jika seluruh hidupku adalah tempaan…
apakah aku sudah cukup matang untuk menerima bentuk akhirnya?
— Rivo Cahyono & Teman Seperjalanan