Mahalnya Ongkos Jalur Prestasi, Antara Kebanggaan dan Lelahnya Orang Tua di SPMB

RIUH rendah aula sekolah pagi itu terasa menyesakkan. Saya sedang duduk di barisan kursi antrean untuk mengurus berkas daftar ulang anak.

Di sebelah saya, seorang pria paruh baya berkali-kali merapikan map plastik di pangkuannya.

​Wajahnya tampak lelah. Pria itu bernama Rahmad (45), seorang wali murid asal Surabaya.

​Kami terlibat obrolan kecil. Rahmad bercerita, anaknya baru saja dinyatakan lolos masuk SMP negeri favorit. Bukan lewat jalur zonasi, melainkan jalur prestasi non-akademik dari cabang pencak silat. Karena kemarin ada berkas yang tertinggal, dia terpaksa kembali pada hari yang sama dengan orang tua yang anaknya lolos di jalur prestasi akademik.

​Jalur prestasi non akademik sepeti lomba ini kerap dipandang sebagai karpet merah. Jalur istimewa bagi anak-anak berbakat untuk menembus sekolah negeri.

Namun, di balik kebanggaan memegang piagam juara, Rahmad justru menarik napas panjang. Ada cerita tentang perjuangan yang menguras energi dan air mata.

Berbeda dengan jalur Nilai Akademik, yang punya parameter nilai yang jelas.

Sementara itu, jalur prestasi lomba dinilai penuh dengan spekulasi. Prosesnya jauh lebih melelahkan dibandingkan jalur nilai akademik murni.
​Bagi Rahmad, label “jalur alternatif” ini terasa tidak adil. Investasi yang ia keluarkan sudah terlalu besar.

​”Ada anggapan kalau masuk lewat jalur lomba itu enak. Tinggal setor piagam, langsung masuk. Padahal, modalnya luar biasa,” curhat Rahmad dengan suara lirih, Senin (6/7).

​”Kami harus bayar les privat, sewa lapangan, hingga beli perlengkapan. Belum lagi biaya akomodasi ikut turnamen ke luar kota selama bertahun-tahun. Itu jauh lebih mahal daripada biaya bimbel akademik biasa. Anak saya harus latihan fisik empat kali seminggu sampai malam. Pulang latihan, dia masih harus belajar untuk mempertahankan nilai sekolah. Ini bukan jalan pintas. Ini maraton panjang yang menguras dompet dan air mata,” lanjutnya.

​Kecemasan Rahmad bukan tanpa alasan. Bayak orang tua seperti Rahmad merasakan hal yang serupa. Bahkan harus cari utang sana-sini

Sistem konversi poin piagam memang sering berubah. Setiap tahun, Dinas Pendidikan selalu menyesuaikan bobot nilai sertifikat kejuaraan.

Penilaiannya tergantung pada legalitas penyelenggara dan skala kompetisi.
​Ditambah lagi, kuota jalur ini tergolong yang paling ramping.

Akibatnya, persaingan antarpemegang medali menjadi sangat ketat dan kejam.

​Sepertinya pemerintah perlu berbenah. Harus ada standarisasi dan transparansi yang lebih matang dalam verifikasi piagam. Langkah ini penting agar kerja keras siswa sejak usia dini dapat dihargai secara adil. Sistem tidak boleh memicu ketimpangan psikologis di tengah seleksi sekolah negeri.

​Obrolan kami terputus saat nomor antrean Rahmad dipanggil.

Saya memandangi punggungnya yang berjalan menuju meja panitia.
​Satu pelajaran penting dari cerita Rahmad hari ini. Jika seorang anak memang menyukai olahraga, dukung dan lanjutkanlah. Namun, jika tujuannya hanya demi mengejar kursi sekolah negeri, sebaiknya hitung kembali kemampuan finansial Anda.

​Melihat karut-marutnya sistem ini, wajar jika banyak orang mulai bersuara keras. Kebijakan merombak total sistem kurikulum dan pola seleksi masuk sekolah ini dinilai sebagai salah satu langkah paling keliru yang pernah diambil oleh kementerian.

Bening Maharani/ Wartawan RekAyoRek