Herman van der Tuuk Menulis Semua Bahasa Nusantara

REKAYOREK.ID Herman Van der Tuuk tercatat sebagai peletak dasar linguistik Nusantara. Dia termasuk peneliti dan mendokumentasikan bahasa daerah.

Usut punya usut, Herman Van der Tuuk menjadikan Surabaya sebagai halaman di masa kecilnya. Dia pertama kali mengenal bahasa Jawa dan Madura serta Melayu di Surabaya. Meski bersekolah di European Lagere School (Sekolah Dasar Eropa) dan belajar Bahasa Belanda, Herman Van der Tuuk tetap belajar bahasa lokal dari lingkungan (pembantu dan kawan bermain).

Berikut catatan tentang Herman Van der Tuuk yang dicuplik dari https://sastra-indonesia.com/ setelah diolah dan disesuaikan.

Kees Groeneboer, akademisi Belanda, yang pernah berkegiatan di Lembaga Bahasa Belanda, dalam tulisannya tentang linguis eksentrik Herman Neubronner van der Tuuk, dengan judul “Dari Radja Toek sampai Goesti Dertik: Herman Neubronner van der Tuuk sebagai Linguis Lapangan di Indonesia pada Abad 19”, mengatakan bahwa:

“Herman Neubronner van der Tuuk tumbuh di Surabaya, di tengah-tengah masyarakat berbahasa Belanda, Melayu, Jawa, dan Madura. Meskipun Herman, pastinya pernah duduk di Europese Lagere School (Sekolah Dasar Eropa), namun saat remajanya dia telah belajar bahasa Melayu, bahasa Jawa, serta sedikit bahasa Madura secara alamiah. Barangkali dia bahkan pernah belajar bahasa Portugis dari ibunya sebab banyak orang (Indo-) Eropa yang pernah tinggal di Malaka saling berbicara dalam semacam bahasa Portugis Kreol”.

Sebagaimana diketahui bahwa siswa mulai masuk Europese Lagere School (Sekolah Dasar Eropa) berusia pada kisaran usia 6-7 tahun. Demikian pula dengan Van der Tuuk di masa kanak kanaknya di Surabaya.

Bagaimana Van der Tuuk sampai tinggal di Surabaya?

Herman Neubronner van der Tuuk lahir di Malaka, 24 Oktober 1824 dan meninggal dunia di Surabaya, 17 Agustus 1894 pada umur 70 tahun.

Pada bulan April 1825, setelah Malaka ditukar oleh pemerintah Hindia-Belanda dengan koloni Inggris Bengkulu sebagai dampak dari Perjanjian 1824, keluarga van der Tuuk pindah ke Surabaya. Ketika itu Van der Tuuk masih berusia satu tahun.

Di Surabaya, tepatnya pada tahun 1826, ayah van der Tuuk, Sefridus van der Tuuk, diangkat menjadi anggota Raad van Justitie (Kejaksaan Agung) Surabaya dan lalu pada 1836 Sefridus van der Tuuk menjadi presiden Raad Van Justitie Soerabaja.

Nisan ayah Herman Van der Tuuk di Peneleh. Foto: nng

 

Keterangan pernah menjabat sebagai Presiden Raad Van Justitie Surabaya terpahat pada batu nisannya di makam registrasi B. 103 di Pemakaman Eropa Peneleh Surabaya.

Di Surabaya pada tahun 1827 lahir adik van der Tuuk, Johanna Catharina Henriëtte, lalu diikuti oleh Gerhard Jan pada tahun 1830, dan akhirnya pada tahun 1832 lahirlah Louise Antoinette. Herman van der Tuuk memiliki darah campuran Jerman, Belanda, dan Jawa (indo Eropa).

Tertarik Mendalami Bidang Bahasa

Menurut Doorenbos (1894), sesudah tahun 1843 ketika di bangku universitas di Belanda, van der Tuuk hampir-hampir tidak mengikuti kuliah hukum lagi, tetapi dia sibuk dengan studi ilmu bahasa: bahasa Arab, Persia, Portugis, dan Inggris. Dia memuja Shakespeare, yang saat itu belum sangat terkenal, dan menyibukkan diri dengan Bahasa Anglo-Sakson.

Dari Doorenbos dia mulai belajar dasar-dasar bahasa Arab. Dia juga mengikuti kuliah bahasa Arab dan Persia dari guru besar bahasa-bahasa Semit, Th.W.J. Juynboll (1802-1861).

“Jelaslah bahwa van der Tuuk begitu terinspirasi oleh Juynboll sehingga ketika Juynboll diangkat menjadi guru besar di Leiden pada 1845, Van der Tuuk mengikutinya. Pada awal tahun 1846, van der Tuuk ikutan tinggal di Leiden,” jelas Groeneboer.

Pada tahun 1846, van der Tuuk menggeluti studi yang mendalam mengenai bahasa Melayu. Pengetahuannya sudah sedemikian cukup, sehingga pada musim gugur 1846 ia dapat mempublikasikan suatu telaah mengenai naskah Melayu karya J.J. de Hollander, dosen bahasa Melayu di Breda.

Dengan publikasi itu, van der Tuuk, yang saat itu berusia dua puluh dua tahun, memperlihatkan bahwa dia sepenuhnya mengenal semua terbitan berbahasa Melayu. Dalam publikasi itu ia menggunakan inisial S.B., yang menurut Groeneboer berarti “Surabaya”, yang artinya orang yang berani menghadapi bahaya.

Setelah itu, karya karya linguistik van der Tuuk terus bermunculan. Bahkan bisa disebut dia adalah peletak dasar linguistik modern yang wujudnya beberapa bahasa di Nusantara, seperti: bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Toba, Lampung, Kawi (Jawa Kuno), dan Bali.

Kamus Kawi – Bali karya Van der Tuuk. Foto: ist

 

Dalam “Mirror of the Indies”, Rob Nieuwenhuys mengutip komentar seorang pendeta Bali (pedanda), yang sangat berpengaruh ketika itu: “Hanya ada satu orang di seluruh penjuru Bali yang tahu dan paham bahasa Bali. Orang itu adalah Gusti Dertik (Mr. van der Tuuk).”

Kontroversial

Di kalangan masyarakat Buleleng, ia memang dikenal sebagai Gusti Dertik (Der Tuuk). Di kalangan koleganya, ia termasuk orang yang kontroversial, namun sekaligus dicintai. Bahkan, tercatat ia ikut menyebarkan semangat perlawanan terhadap Belanda. Bahkan, ketika dia di Bali, dia termasuk orang, yang menentang cara berpakaian ala Belanda, penentang segala hal tabu dalam berbahasa dan moralitas masyarakat dan ilmu pengetahuan.

Tahun-tahun sebelum tutup usia, dia meneruskan pekerjaan di Bali untuk pemerintah Hindia-Belanda pada kurun waktu 1873—1894, yakni menyusun proyek ambisius kamus Jawa Kuno-Bali-Belanda, yang baru terbit sepeninggalnya.

Di Akhir Hayatnya

Pada masa-masa menjelang akhir hidupnya, van der Tuuk hidup menyendiri di Singaraja, Bali dan menjadi bahan gunjingan kenalan-kenalannya. Namun demikian, dia sering dimintai bantuan oleh orang-orang Bali, yang menyebutnya Tuan Dertik.

Sebelum meninggal, Agustus 1888, ia sempat menulis surat kepada seorang temannya. Ia mengaku setengah gila karena terdorong ambisinya untuk membuat kamus Kawi-Bali-Belanda.

Rumah Sakit Militer Simpang Surabaya, tempat ayahnya Van der Tuuk menghembuskan nafas terakhir pada 17 Agustus 1894 dini hari. Foto: ist

 

Dia sakit terserang disentri parah di Bali, lalu dibawa ke Surabaya. Di RS Militer Surabaya, pada malam hari tanggal 16 Agustus 1894, tepat dini hari 17 Agustus 1894, dia menghembuskan nafas terakhir.

Sekitar seratus surat dan ribuan catatannya tergeletak di sebuah rumah bambu di Singaraja, Bali. Jenazahnya dikebumikan di pemakaman Peneleh, Surabaya.

B. 103 adalah makam Van der Tuuk. Foto: nng

 

Makamnya dalam satu liang lahat dengan ayahnya S. Van der Tuuk di nomor B. 103.

Siapa mau peduli dengan kondisi kuburannya sekarang? Adakah?@PAR/nng