REKAYOREK.ID — Dalam beberapa waktu terakhir, sebagian masyarakat mungkin mendapati pintu rumahnya diketuk oleh petugas berseragam lengkap dengan rompi dan tanda pengenal resmi. Sebelum muncul berbagai prasangka, ada baiknya memastikan terlebih dahulu identitas mereka. Bisa jadi, mereka adalah petugas Badan Pusat Statistik (BPS) yang sedang menjalankan Sensus Ekonomi 2026.
Pendataan ini merupakan agenda nasional yang dilakukan setiap sepuluh tahun sekali untuk mengetahui seperti apa wajah perekonomian Indonesia sesungguhnya. Bukan hanya perusahaan besar atau pusat perbelanjaan yang didata, tetapi juga warung kopi di gang sempit, penjahit rumahan, penjual makanan keliling, pedagang daring, hingga usaha kecil yang dijalankan dari teras rumah.
Lalu apa yang biasanya ditanyakan petugas?
Pertanyaan yang diajukan sebenarnya sederhana. Apakah di rumah tersebut terdapat kegiatan usaha atau tidak. Jika ada, petugas akan menanyakan jenis usaha yang dijalankan, sejak kapan usaha tersebut berdiri, berapa jumlah pekerja yang terlibat, hingga bagaimana cara memasarkan produk, apakah masih secara konvensional atau sudah memanfaatkan platform digital.
Bagi rumah tangga yang tidak memiliki usaha, pendataan biasanya hanya sebatas memastikan informasi dasar mengenai penghuni rumah dan keberadaan aktivitas ekonomi di lokasi tersebut.
Banyak warga kerap khawatir ketika mendengar kata “sensus ekonomi”. Sebagian mengira pendataan ini berkaitan dengan pajak, perizinan, atau bahkan penertiban usaha. Padahal, fungsi sensus jauh lebih sederhana namun sangat penting, yakni menghadirkan gambaran nyata mengenai kondisi ekonomi masyarakat Indonesia.
Data tersebut nantinya menjadi dasar pemerintah dalam menyusun berbagai kebijakan, mulai dari pengembangan usaha mikro, penyaluran bantuan dan pembiayaan, pembangunan kawasan ekonomi baru, hingga penciptaan lapangan pekerjaan.
Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti, pernah mengibaratkan sensus ekonomi sebagai pemeriksaan kesehatan bagi perekonomian nasional. Dari sana pemerintah dapat mengetahui sektor mana yang tumbuh pesat, sektor mana yang sedang melemah, dan bidang usaha apa yang membutuhkan perhatian lebih besar.
Karena itu, ketika petugas resmi BPS datang mengetuk pintu rumah, masyarakat sebenarnya sedang mengambil bagian dalam sebuah proses besar: membantu negara mengenali kondisi ekonominya sendiri.
Barangkali wawancaranya hanya berlangsung beberapa menit. Namun jawaban dari jutaan rumah di seluruh Indonesia itulah yang nantinya akan dirangkai menjadi potret ekonomi bangsa untuk sepuluh tahun ke depan.
Dan bisa jadi, arah kebijakan yang lahir dari data tersebut suatu hari nanti akan kembali mengetuk pintu rumah yang sama, dalam bentuk bantuan usaha, program pemberdayaan, atau peluang ekonomi baru bagi masyarakat.@