REKAYOREK.ID Kehadiran benda-benda purbakala serta situs cagar budaya di Kota Surabaya memegang peranan krusial sebagai benteng identitas Kota Pahlawan. Warisan sejarah ini tidak hanya merawat ingatan kolektif masyarakat akan perjuangan bangsa, tetapi juga menjadi destinasi wisata edukatif sekaligus memperkokoh karakter generasi penerus agar tetap menghargai sejarah lokalnya.
Salah satu bukti autentik tersebut adalah Prasasti Canggu yang berangka tahun 1358 M. Bagi Kota Surabaya, piagam kuno ini laksana jangkar identitas karena menjadi dokumen tertulis paling tua yang secara resmi mencantumkan nama Śūrabhaya atau Çūrabhaya.
Keberadaannya membuktikan bahwa kawasan ini telah menjelma sebagai pusat perniagaan dan pelabuhan penyeberangan penting sejak zaman Kemaharajaan Majapahit.
Berikut merupakan sejumlah poin krusial yang melatari mengapa prasasti ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi bagi Surabaya.
Prasasti Canggu bertindak sebagai kesaksian tertulis perdana sekaligus arsip sejarah paling lawas yang mencatat nama Surabaya. Tanpa adanya dokumen ini, upaya melacak jejak tertulis paling awal mengenai kota ini bakal menemui jalan buntu.
Dalam naskah kuno tersebut, Surabaya (kala itu ditulis Śūrabhaya/Çūrabhaya) ditetapkan statusnya sebagai “Naditira Pradeça”. Istilah ini merujuk pada sebuah pemukiman yang terletak di tepian sungai (khususnya Sungai Brantas/Kalimas). Status tersebut menjadi bukti sahih bahwa roda kehidupan dan perkembangan Surabaya sejak awal bertumpu pada sektor perairan, baik sungai maupun laut.
Letak geografisnya yang berada di jalur perairan mengantarkan Surabaya tumbuh sebagai episentrum niaga dan transportasi. Mengingat Prasasti Canggu berisi regulasi mengenai perpajakan serta hak-hak istimewa bagi desa-desa tepian sungai (penyeberangan), hal ini menegaskan bahwa pada abad ke-14, Surabaya telah beroperasi sebagai simpul lalu lintas dagang yang sibuk dan diakui secara resmi oleh Raja Hayam Wuruk.
Menariknya, prasasti ini tidak sekadar menyebut Surabaya secara global, melainkan juga mendokumentasikan nama-nama wilayah kuno yang kini masih eksis, seperti Pagesangan (Gesang) dan Bungkul (Bukul). Saat ini, lempengan berharga tersebut disimpan rapi di Museum Nasional Jakarta.
Upaya Pembuatan Replika
Rencana menduplikasi prasasti ini ternyata melewati proses yang berliku. Pada tahun 2022, sempat berembus kabar burung bahwa prasasti ini telah raib atau setidaknya teramat sukar untuk diakses kembali. Ironisnya, pesimisme ini sempat dilontarkan oleh seorang pakar pembaca aksara kuno (Epigrafi).
Kendati demikian, semangat untuk melacak kebenaran kabar tersebut tidak surut, walau awalnya pencarian ini hanya bertujuan memastikan bahwa artefak tersebut masih tersimpan dengan aman.
Prasasti Canggu sendiri disahkan oleh Raja Hayam Wuruk pada 7 Juli 1358 dan pertama kali ditemukan di Dusun Pelem, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto pada tahun 1920.
Sewaktu pertama kali diekskavasi, prasasti ini diketahui terdiri atas 5 lempengan tembaga. Sayangnya, kini yang tersisa dan tersimpan di Museum Nasional Indonesia (MNI) Jakarta tinggal 1 lempeng saja.
Lantaran rumor hilangnya prasasti tersebut beredar kencang pada tahun 2022, muncullah gerakan serius yang berkomitmen penuh untuk menelusuri di mana keberadaan fisik benda tersebut—setidaknya untuk memastikan statusnya.
Momentum FFI 2022
Titik terang mulai muncul pada 22 November 2022, saat penulis berkunjung ke Jakarta untuk menghadiri gelaran Festival Film Indonesia (FFI).
Penulis memanfaatkan momentum tersebut untuk menyambangi MNI. Langkah awal yang dilakukan adalah menyisir seluruh ruang pameran, namun setelah memeriksa setiap sudut etalase, prasasti yang dicari tidak ditemukan, hingga akhirnya penulis memutuskan untuk menemui pihak Humas Museum.
Langkah berikutnya adalah berkoordinasi langsung dengan bagian Humas MNI di lantai 7. Penulis menyampaikan urgensi prasasti tersebut bagi sejarah warga Surabaya. Merespons laporan itu, petugas humas berjanji akan melacak posisinya dan meminta waktu untuk proses pencarian internal.
Penantian tersebut membuahkan hasil sekitar 5 bulan kemudian, tepatnya pada April 2023.
Informasi mengenai penemuan prasasti tersebut akhirnya sampai ke tangan penulis. Memanfaatkan momen libur Lebaran, penulis mengutus seorang rekan untuk datang langsung ke museum dengan membekali dirinya surat pengantar resmi dari komunitas, sembari mengonfirmasi kedatangan tersebut kepada pihak pengelola MNI.
Berkat kunjungan perwakilan komunitas asal Surabaya tersebut, keberadaan prasasti akhirnya terkonfirmasi secara valid melalui bukti dokumentasi visual berupa foto dan video. Pihak museum bahkan berbaik hati membagikan berkas foto beresolusi tinggi (high-rise) dari dokumentasi resmi mereka kepada penulis.
Sejak momen itu, keberadaan prasasti tersebut tidak lagi misterius, meski sangat disayangkan dari total 5 lempeng, hanya 1 yang berhasil diselamatkan.
Kabar baiknya, satu-satunya lempengan yang tersisa justru bagian paling krusial bagi warga Surabaya, sebab memuat guratan aksara dan bahasa Jawa Kuno yang mengeja kata Śūrabhaya/Çūrabhaya.
Keberadaan objek fisik yang jelas ini memantik ide untuk memproduksi replikanya. Ide ini sebenarnya sudah dikoordinasikan dengan instansi kebudayaan terkait di Surabaya. Namun, hingga Januari 2026, usulan tersebut belum juga membuahkan hasil konkret meski sudah bergulir selama tiga tahun.
Karena mandeknya respons tersebut, saat berkunjung kembali ke MNI pada Januari 2026, penulis memutuskan untuk menginisiasi proyek replika ini secara swadaya. Langkah mandiri ini dijalankan atas sepengetahuan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Trowulan Jawa Timur serta ditembuskan ke pihak MNI di Jakarta.
Proses Produksi
Proses pengerjaan duplikat ini mengacu pada foto beresolusi tinggi yang diperoleh dari MNI. Langkah awal dimulai dengan membuat draf tulisan melalui jasa pengrajin prasasti, yang kemudian dikonsultasikan kepada para ahli filologi dan epigrafi di Surabaya dan Yogyakarta guna mendapatkan koreksi.
Dari peninjauan tersebut, para pakar memberikan beberapa koreksi minor terkait ketidakakuratan lekukan pada beberapa karakter aksara.
Tantangan tidak berhenti pada urusan digitalisasi aksara untuk cetakan cetak negatif semata. Perburuan material utama berupa tembaga murni dengan dimensi yang pas dan harga yang sesuai juga cukup menguras energi.
Setelah mencari ke berbagai tempat, material tembaga berukuran panjang 37 cm, lebar 11 cm, dan tebal 3,90 mm akhirnya berhasil didapatkan dari salah satu penyedia logam di Jakarta.
Melalui kehadiran replika fisik ini, masyarakat kini dapat mengamati secara langsung bagaimana wujud rupa dari piagam kuno serta goresan aksara Jawa Kuno yang merajut nama awal kota mereka: Śūrabhaya atau Çūrabhaya.@nang