Replika Sejarah “Śūrabhaya” Bakal Hadir di Kota Pahlawan

REKAYOREK.ID Momentum bersejarah bakal diperingati pada 7 Juli 2026 mendatang, bertepatan dengan Hari Penerbitan Prasasti Canggu.

Guna merayakan momen piagam yang dikeluarkan oleh Raja Majapahit, Hayam Wuruk, pada tahun 1358 Masehi tersebut, sebuah replika fisik dari prasasti legendaris ini akan segera dihadirkan di Surabaya.

​Langkah ini diinisiasi oleh komunitas pegiat aksara Jawa, Puri Aksara Rajapatni Surabaya.

Kehadiran replika tiga dimensi tersebut bertujuan untuk mengedukasi masyarakat luas mengenai akar sejarah nama “Surabaya”, yang secara otentik tercatat dalam artefak kuno tersebut.

​Meskipun prasasti yang asli tersimpan rapi di Museum Nasional Indonesia di Jakarta, pembuatan kembaran (replika) ini dinilai sangat krusial bagi warga Kota Pahlawan. Artefak ini menjadi bukti primer yang memuat kata “Śūrabhaya” atau “Çūrabhaya” dalam aksara dan bahasa Jawa Kuno.
​Arti Leksikal:
​Śūra = Berani
​Bhaya = Bahaya

Secara harfiah berarti “Berani Menghadapi Bahaya”.

​Ketepatan penulisan ini bukan sekadar urusan ejaan, melainkan sebuah refleksi nilai filosofis yang mendalam.

Karakter “berani menghadapi tantangan” inilah yang mewarnai genosida mentalitas warga Surabaya dari masa ke masa melalui rentetan peristiwa bersejarah:
​1293 M: Perjuangan Raden Wijaya dan rakyat menghalau pasukan Tartar (Mongol).
​1620–1625 M: Perlawanan gigih Surabaya saat berhadapan dengan Mataram.
​1677 M: Perang Raden Trunojoyo dalam melawan dominasi VOC.
​1718 & 1722 M: Perang Jayapuspita (Perang Surabaya).
​1945 M: Puncak heroisme arek-arek Suroboyo melawan tentara Sekutu.

​Di era modern, warisan semangat luhur ini diharapkan tetap menyala sebagai modal sosial bagi generasi muda guna memerangi kebodohan, mengentaskan kemiskinan, serta menjawab tantangan zaman.

​Dikawal Ketat oleh Para Ahli
​Proses pembuatan replika ini tidak dilakukan sembarangan.

Komunitas Puri Aksara Rajapatni telah berkoordinasi dan mengirimkan pemberitahuan resmi kepada Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Trowulan, dengan tembusan ke Museum dan Cagar Budaya di Jakarta.

​Guna menjamin akurasi bentuk dan tata tulisnya, draf aksara Jawa Kuno pada replika tersebut telah ditinjau langsung oleh para pakar di bidangnya, yaitu ​Setya Amrih Prasaja (Filolog dan Epigrafer asal Yogyakarta) dan ​Abimardha Kurniawan (Akademisi dari Universitas Airlangga, Surabaya).

​Dengan hadirnya replika Prasasti Canggu ini, ruang edukasi publik di Surabaya akan semakin kaya. Masyarakat, khususnya generasi muda, kini dapat menyaksikan langsung bukti fisik kompas sejarah kota mereka tanpa harus melangkah jauh ke ibu kota.@nang