Kolaborasi dengan HISKI dan Perpusnas, Pelaku Sanggar Pelakon Gelar ‘Seabad Setahun Asrul Sani’

REKAYOREK.ID, (SURABAYA) – Pelaku Sanggar Pelakon pimpinan Mutiara Sani berkolaborasi dengan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) dan Perpustakaan Nasional akan menggelar seabad setahun alias 101 mengenang Asrul Sani (1925—2026) pada 9-10 Juni 2026, bertempat di Perpustakaan Nasional RI Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta.

Kegiatan yang bertujuan mengenang dan memperingati Asrul Sani sebagai seorang budayawan, seniman, teaterawan, dan sineas Indonesia pada masanya itu dibalut dalam berbagai rangkaian acara yang didesain dengan keragaman para narasumber yang memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang Asrul Sani dan karya-karyanya.

Ketua Umum HISKI, Prof Novi Anoegrajekti menyampaikan bahwa terkait kegiatan tersebut, panitia telah menyusun berbagai rangkaian acara. Pertama, Dialog Budaya “Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani” yang diselenggarakan pada 9 Juni 2026 mulai pukul 08.00 hingga selesai. Para narasumber dalam acara diskusi ini adalah Prof. Dr. Jimly Assidiqie, S.H., M.H., Prof. Riris K.Toha-Sarumpaet, M.Sc., Ph.D., Shuri M. Gietty Tambunan, M.A., M.Hum., Ph.D., dan Eros Djarot.  “Acara ini akan diawali dengan sambutan dari Menteri Kebudayaan RI, Kepala Perpustakaan Nasional RI, Pimpinan Pelaku Sanggar Pelakon, dan Ketua Umum HISKI,” ujar Novi.

Kedua, pemutaran film “Kemelut Hidup” (1977) yang disutradarai Asrul Sani. Film ini merupakan hasil adaptasi Asrul Sani dari novel Kemelut Hidup karya Ramadhan K.H yang dibintangi Soekarno M. Noor, Mutiara Sani, dan Chitra Dewi. Selanjutnya yang ketiga, ada penulisan Buku Seabad Setahun Asrul Sani: Intelektualitas, Jejak Karya, dan Sineas Indonesia sebagai upaya merekam secara ilmiah berbagai pemikiran dan kreativitas Asrul Sani oleh para pakar, pemerhati, dan praktisi.

“Buku ini memuat 86 tulisan dari 141 orang penulis, yang terdiri dari kalangan pejabat (Menteri Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri PPPA), seniman, sineas, dan peneliti anggota HISKI,” terang Novi.

Yang keempat adalah Seminar Nasional “Asrul Sani dalam Dinamika Budaya Indonesia” dan Peluncuran Buku Seabad Setahun Asrul Sani: Intelektualitas, Jejak Karya, dan Sineas Indonesia pada 10 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi wahana untuk membahas jejak langkah Asrul Sani yang berkaitan dengan perannya sebagai intelektual, sastrawan, budayawan, dan sineas dalam gerak kebudayaan Indonesia.

“Dalam seminar ini akan dihadirkan para pakar di bidangnya masing-masing untuk membahas peran Asrul Sani, di antaranya Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A., Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Hum., Jamal. D. Rahman, M.Hum., Dr. Seno Gumira Ajidarma, M.Hum., Dr. Imam B. Prasodjo, Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., Prof. Diah Ariani Arimbi, M.A., Ph.D., Dr. Tengsoe Tjahjono, M.Pd., Dr. Much Koiri, M.Si., dan Hety Setiawati, M.P,” jelasnya.

Yang kelima adalah Pameran “Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani” dilaksanakan sebagai media edukasi secara visual kepada khalayak mengenai kiprah kreatif dan karya Asrul Sani. Melalui pameran ini diharapkan apresiasi dan pengetahuan mengenai ketokohan Asrul Sani dapat menjadi referensi kepada semua pihak yang mengakses pameran tersebut. “Pameran akan dilaksanakan pada 9 hingga 7 Juni 2026 di Perpustakaan Nasional,” imbuhnya.

“Kegiatan yang tidak kalah penting adalah Ziarah ke Makam Asrul Sani sebagai bentuk pengingatan terhadap tokoh penting di bidang sastra, teater, film, dan kebudayaan,” tambahnya.

Tentang Asrul Sani

Dalam kesusatraan Indonesia, Asrul Sani dikenal sebagai pelopor Angkatan ’45 bersama Chairil Anwar, Rivai Apin, Achdiat Kartamihardja, dan Idrus. Ia juga menggagas konsep berkesenian untuk Seniman Merdeka yang dikenal dengan Surat Kepercayaan Gelanggang (“Gelanggang” adalah rubrik seni dan budaya di majalah Siasat pada tahun 1950-an).

Di bidang teater, Asrul Sani bersama D. Djajakusuma mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), dan di bidang perfilman, Asrul Sani menginisiasi lahirnya regulasi untuk perfilman Indonesia. Sebagai sineas, Asrul Sani melahirkan karya-karya cerita film, skenario, dan menyutradarai film.

Sejumlah Piala Citra berhasil didaparkan Asrul Sani untuk kategori penulis cerita asli, skenario terbaik, dan sutradara terbaik. Karya film dan televisi pada masa itu yang dihasilkan Asrul Sani, untuk film, antara lain “Titian Serambut Dibelah Tujuh,” “Apa yang Kau Cari Palupi,” “Lewat Djam Malam,” “Pagar Kawat Berduri,” “Nagabonar.” Sementara untuk drama televisi, seperti “Ratna,” “Siti Nurbaya,” “Di Bawah Lindungan Kabah,” “Apa yang Kau Cari Adinda,” “Derai-derai Cemara.”

Selain itu, ia juga menyutradarai pertunjukan teater, antara lain “Caligula” (Albert Camus), “Burung Camar” (Anton Chekov), “Mahkamah” (Asrul Sani), “Yerma” (F.G. Lorca), “Monserrat” (Robles).

Selain di dunia kesenian, Asrul Sani juga masuk ke dalam dunia politik melalui NU dan kemudian melalui PPP menjadi Wakil Rakyat di DPR RI periode 1971—1976. Ia mendapat Anugerah Seni pada 1966 dan Bintang Mahaputra tahun 2000 dari pemerintah.

Acara yang menampilkan jejak langkah Asrul Sani pada Juni 2026 di Perpustakaan Nasional RI tersebut patut untuk dihadiri dan diapresiasi oleh semua kalangan agar nama besar di bidang kebudayaan, sastra, teater, dan film itu dapat menginspirasi generasi muda saat ini.

Selain itu, melalui rangkaian kegiatan di atas akan menambah pengetahuan dan meningkatkan literasi sastra, film, teater, dan budaya akan bertambah melalui paparan para narasumber. @sir