Membaca Ulang Makna Berani dari Piagam Kuno Surabaya

REKAYOREK.ID ​Biarlah halangan dan rintangan menghadang, namun tetap derapkan langkahmu untuk terus menerjang. Ingat, setiap tantangan adalah bahan bakar untuk melaju lebih kencang. Tetaplah fokus pada tujuan, niscaya keberhasilan itu akan datang pada waktunya.

​Perjalanan ini adalah sebuah proses pembelajaran—sebuah ikhtiar untuk mengenal jati diri. Ada pepatah kuno mengatakan, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Namun, jika hari ini guru kedapatan kencing sambil berlari, maka bersiaplah, karena murid mungkin akan kencing sambil bersalto! Sebuah analogi ekstrem yang mengingatkan kita betapa krusialnya keteladanan dalam budaya.

​Belajar mengenal jati diri memang tidak semudah menilai orang lain. Kita sering kali terjebak dalam blind spot (titik buta) dan ego yang menghalangi objektivitas. Kita begitu mudah menghakimi orang lain dari luar, sementara mengenali diri sendiri menuntut kejujuran penuh. Sebuah kejujuran untuk mengakui emosi, ketakutan, dan kelemahan terdalam yang sering kali coba kita sangkal.

​Mengapa kita harus takut pada kejujuran penuh? Apakah kebaikan dan kejujuran itu dianggap akan membuka kelemahan, keburukan, atau rasa malu yang teramat sangat?

​Ironisnya, sering kali pihak asing yang berbeda budaya justru lebih mampu membuka mata kita. Mereka melihat dengan jernih nilai-nilai kebaikan leluhur kita, sementara kita sendiri masih dibutakan oleh ego.

​Namun apa pun tantangannya, tetaplah bertindak baik dan jujur demi menjaga marwah leluhur budaya. Bagi masyarakat Surabaya, inti dari warisan leluhur itu adalah Rasa Berani. Berani berbuat baik, yang tidak hanya berdampak bagi diri sendiri, melainkan juga untuk kemaslahatan orang lain.

​Esensi sejati dari budaya Arek Suroboyo memang berakar pada keberanian yang berlandaskan kasih sayang. Karakter ini terpatri abadi dalam catatan sejarah lokal sebagai jiwa “Wani”—yakni keberanian membela kebenaran, menolak ketidakadilan, dan mengabdi untuk kepentingan bersama.

​Mari terus menggali esensi sejati Arek Surabaya ini. Secara historis, nama Surabaya sendiri berasal dari kata çūra (berani) dan bhaya (bahaya). Nilai ini bukanlah mitos belaka, melainkan piagam sejarah yang tertulis resmi dalam Prasasti Canggu (1358 M) dengan nama Śūrabhaya—sebuah identitas yang sejak awal benderang tertulis dalam aksara Jawa Kuna.

Menjadi Arek Surabaya berarti berani menghadapi bahaya demi menegakkan kebenaran. Wani! @nang