Para Seniman Sindir Tikus Berdasi Lewat Pertunjukan Parade Teater Jatim 2025

REKAYOREK.ID Malam Minggu sambil menikmati sajian pertunjukan teater menjadi alternatif bagi warga Surabaya yang lelah dengan hiruk-pikuk kota. Event Parade Teater Jatim yang digelar oleh Disbudpar Jatim di Gedung Cak Durasim pada 24-25 Oktober 2015 berhasil memikat ratusan penonton.

Parade Teater Jatim 2025 mengangkat tema “Membaca Arifin C. Noer Dalam Platform Teater Jawa Timur” menampilkan 6 komunitas teater. Pada 24 Oktober 2025 penampilan dibuka oleh Teater Institut Surabaya dengan judul penampilan “TENGUL”, Perempuan Xpresif dengan judul penampilan “MATAHARI DISEBUAH JALAN KECIL” dan Komunitas Kota Seger Indonesia dengan judul penampilan “KOCAK KACIK/ANGON ANGIN”.

Tak kalah dengan hari pertama, hari kedua 25 Oktober 2025 menampilkan tiga komunitas yaitu Komunitas Tombo Ati dengan judul “UTIKU SAYANG”, Teater Bangkit dengan penampilan berjudul “MEGA MEGA”, dan Kaun Ujung Movement penampilan berjudul “ORKES MADUN II UMANG UMANG.

 

Supriyadi, salah satu kurator menyampaikan, kegiatan ini merupakan bentuk upacara yang dilakukan dengan khidmat menyikapi persoalan realitas sosial, politik, dan persoalan yang lain. Tema membaca Arifin C. Noer, dipilih sebagai masterpiece di tahun 80 akhir sampai 90-an dan mempengaruhi insan-insan teater yang lain seperti Putu Wijaya.

“Karya Arifin selalu mengkritisi realitas sosial, politik, kemanusiaan dan yang lain, karyanya sangat kritis mengikuti perkembangan realitas sosial sehingga kesenian waktu itu menjadi sebuah kontrol sosial dan membuktikan bahwa karya teater mampu mengkritisi berbagai persoalan yang terjadi” ungkap Supriyadi.

Salah satu penampilan paling menarik adalah penampilan pembuka dari Komunitas Perempuan Xpresif Bangkalan. Berjudul “Matahari Disebuah Jalan Kecil” mengisahkan kumpulan buruh pabrik perempuan yang sering ditindas, upahnya lebih kecil dari laki-laki, mengalami kekerasan seksual, tidak mendapat cuti hamil, dan berbagai permasalahan lain.

Suatu hari mereka pergi bekerja di pabrik dan sebelum masuk bekerja mereka menyempatkan waktu makan di warung Si Mbok sambil ngerumpi, terdapat seorang penjaga atau satpam yang bangun kesiangan karena malamnya habis mengejar pencuri tapi tidak tertangkap.

 

Kemudian saat semakin banyak pekerja perempuan yang makan mereka semakin seru membahas beragam isu yang terjadi di Indonesia mulai dari isu-isu buruh hingga sampai menyinggung kekayaan Indonesia yang tidak pernah terkumpul meski para warganya termasuk buruh pabrik kerja keras karena selalu digerogoti oleh tikus-tikus berdasi.

Kemudian datang seorang asing memakai rompi dan celana jeans biru. Dia memesan makanan di warung Si Mbok. Waktu masuk pabrik pun tiba, para butuh perempuan masuk pabrik. Orang asing ini mengaku dompetnya ketinggalan dan hendak tidak membayar, kemudian para buruh yang sudah masuk pabrik kembali keluar untuk menengahi masalah tersebut, bahkan Pak Mandor juga turut serta mencoba menyelesaikan masalah tersebut.

Hingga salah satu buruh menyarankan untuk menyita rompi jeans biru orang asing tersebut sebagai ganti bayar makannya. Kemudian disitalah rompi tersebut oleh si mbok. Namun orang asing tersebut mengaku tidak makan 2 hari sehingga hati si mbok kasihan dan terenyuh. Kemudian diberikanlah rompi jeans biru itu dan si orang asing terima kasih dan pulang.

Tiba-tiba satpam datang dan bertanya tentang huru-hara orang asing yang tidak bayar, ternyata itu adalah pencuri yang gagal ditangkap si satpam dan telah menipu si mbok dengan cerita sedihnya. Namun rombongan butuh perempuan berhasil menangkap pencuri atau orang asing tersebut dan ceritapun selesai.

Karya ini mengajarkan kepada kita bahwa buruh pabrik dan rakyat kecil hanya menjadi objek pelampiasan untuk diakali oleh para penguasa dalam hal ini disimbolkan oleh orang asing yang berani mencuri dan menipu untuk mendapat makanan, sama dengan para koruptor yang berani mencuri dan menipu negara demi memberi makan keluarganya.@

Penulis: Muhammad Azhar Adi Mas’ud