REKAYOREK.ID Bagi H. Andry Ermawan, SH., deru ruang sidang dan padatnya jadwal pembelaan hukum bukanlah penghalang untuk merengkuh keberkahan Ramadhan. Ketua DPC IKADIN Sidoarjo ini memaknai bulan suci sebagai ajang “membersihkan diri” sekaligus ujian kesabaran yang nyata bagi seorang praktisi hukum.
Ramadhan merupakan bulan yang selalu dinantikan umat Islam di seluruh dunia. Bagi Andry, bulan penuh rahmat ini adalah momentum emas untuk merefleksikan diri, mempertebal keimanan, serta meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, ia memandang Ramadhan sebagai waktu yang tepat untuk introspeksi massal.
”Ramadhan adalah sebuah momentum. Setiap harinya sangat berharga karena penuh berkah, ampunan, dan kebaikan. Tidak semua orang mendapat kesempatan berjumpa kembali dengan bulan suci ini, maka sangat beruntung kita masih dipertemukan pada Ramadhan 1447 Hijriyah kali ini,” tutur Andry saat memaknai esensi bulan suci.
Puasa di Tengah Padatnya Aktivitas Hukum
Menjalankan ibadah puasa di tengah rutinitas pembelaan hukum yang menguras energi bukanlah beban bagi Andry. Ia menyadari sepenuhnya bahwa sebagai hamba Allah dan umat Rasulullah SAW, kewajiban agama harus tetap tegak di atas kesibukan duniawi.
Dalam kesempatan tersebut, Andry mengutip penggalan suci Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
”Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat ini, menurutnya, adalah pengingat bahwa tujuan akhir puasa adalah mencapai derajat ketaqwaan.
“Penilaian puasa itu langsung dari Allah. Dialah yang membalas amal ibadah kita, memberikan ampunan, serta menyucikan diri kita dari kekhilafan masa lalu,” jelasnya.
Menahan Amarah: Tantangan Nyata di Persidangan
Sisi menarik yang ditekankan oleh Ketua Melayu Raya Korwil Jawa Timur ini adalah relevansi puasa dengan profesi advokat. Ia menyebut Ramadhan sebagai pusat pengendalian diri yang luar biasa.
”Ujian saat berpuasa bisa jadi lebih besar. Bagi seorang advokat, salah satu tantangannya adalah menahan amarah dan tetap bersabar saat bersidang. Misalnya, bertanya dengan nada tinggi atau emosional kepada saksi di persidangan bisa mengurangi nilai pahala puasa kita,” urai Andry.
Ia pun mengingatkan agar ibadah puasa tidak berdiri sendiri. Shalat lima waktu dan tadarus Al-Qur’an harus tetap menjadi prioritas utama sebagai penyempurna ibadah.
Wujudkan Syukur dengan Berbagi
Tak hanya soal ritual, Ramadhan juga menjadi ajang bagi Andry untuk melipatgandakan rasa syukur melalui aksi sosial. Ia mengingatkan bahwa setiap rupiah yang diamalkan di bulan suci ini memiliki nilai pahala yang berlipat ganda.
”Mari kita wujudkan rasa syukur dengan peduli terhadap sesama yang membutuhkan, seperti kaum dhuafa dan anak yatim. Jika ada kelebihan rezeki, sisihkanlah. Ini adalah cara kita membuang sifat sombong, kikir, dan rakus,” tegasnya.
Menutup perbincangannya, Andry mengajak seluruh rekan sejawat dan masyarakat untuk menjalani sisa Ramadhan dengan penuh ketawadhuan.
”Semoga kita semua bisa menyelesaikan ibadah ini dengan baik dan diizinkan Allah untuk kembali dipertemukan pada Ramadhan berikutnya, Amin,” pungkasnya.@