REKAYOREK.ID Peringatan Hari Warisan Budaya Dunia 2026 di Surabaya dimeriahkan dengan agenda pameran sketsa Kota Lama serta bincang santai (talkshow) bertajuk “Memaknai Kota Lama Surabaya”. Acara yang sarat nilai sejarah ini diselenggarakan di Hotel Horison Arcadia Heritage, sebuah bangunan ikonik di kawasan Rajawali.
Diskusi yang berlangsung pada Sabtu sore (18/4/2026) tersebut menghadirkan tiga narasumber kompeten: Nanang Purwono (penulis sekaligus pegiat sejarah), Rully Herlambang (General Manager Hotel Horison Arcadia), serta Heti Palestina Yunani (Jurnalis senior dan Ketua Dewan Kebudayaan Surabaya terpilih).
Nanang Purwono, mewakili komunitas Puri Aksara Rajapatni sebagai inisiator, menjelaskan bahwa meski momentum ini berskala internasional, konten yang diangkat justru kearifan lokal.
Penggunaan sketsa Kota Lama merupakan strategi strategis untuk memperkenalkan potensi sejarah Surabaya ke panggung global—sebuah upaya nyata membawa identitas lokal ke kancah dunia.
Inovasi Literasi dan Kolaborasi Warisan
Terdapat dua agenda utama dalam perayaan ini. Pertama, pembuatan rangkaian sketsa Kota Lama oleh seniman Budi Irawan. Karya-karya tersebut kemudian dibukukan menjadi album sketsa informatif yang menggunakan narasi tiga bahasa (Indonesia, Inggris, Belanda) serta dua aksara (Jawa dan Latin), mencerminkan perpaduan antara tradisi dan modernitas global.
Sinergi apik antara komunitas Puri Aksara Rajapatni dengan pihak hotel menjadi kunci suksesnya acara ini.
Rully Herlambang menegaskan komitmennya dalam menjaga Bangunan Cagar Budaya (BCB) yang kini menjadi fungsi hotel.
Baginya, melestarikan fisik bangunan adalah kontribusi konkret dalam mendukung ekosistem kawasan Kota Lama yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Manajemen hotel bertekad menjadi wadah bagi pertumbuhan ekosistem budaya melalui dukungan terhadap kreativitas seniman dan penulis. Fasilitas pameran dan penerbitan buku bertema sejarah lokal menjadi bukti nyata peran sektor swasta dalam memajukan literasi kebudayaan.
Seni sebagai Jembatan Sejarah
Heti Palestina Yunani memandang sketsa bukan sekadar gambar, melainkan medium emosional yang mampu meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap sejarah.
Menurutnya, fleksibilitas sketsa memungkinkan seniman menyisipkan jiwa dan kreasi pada ruang-ruang sosial di antara deretan bangunan tua yang beku.
Lebih lanjut, Nanang menekankan esensi “Glo-Cal” (Global-Local).
Ia berargumen bahwa fenomena dunia tidak pernah terlepas dari akar lokal. Tidak ada tren global yang muncul tanpa pengaruh konteks kedaerahan, sehingga isu lokal Surabaya sudah sepatutnya memiliki dampak yang terasa hingga ke tingkat internasional.
Untuk mewujudkan visi tersebut, proyek ini menggandeng jaringan global seperti Netwerk Internationale Neerlandistiek in Asie (NINA) yang memiliki basis di berbagai negara, mulai dari Belanda hingga Suriname. Langkah ini diambil agar narasi sejarah Surabaya memiliki daya jangkau yang luas melintasi batas negara.
Menghimpun Kekuatan Lintas Sektor
Selain dukungan internasional, proyek ini juga merangkul lembaga di bawah naungan UNESCO seperti ICOM CECA Indonesia, serta jaringan perhotelan nasional.
Kolaborasi ini bertujuan untuk menghimpun para pemangku kepentingan (stakeholders) dalam misi bersama memperkenalkan warisan Surabaya ke mata dunia melalui dokumentasi sketsa yang praktis.
Hotel Horison Arcadia berkomitmen untuk terus menjaga label “Heritage” dengan membangun ekosistem seni yang berkelanjutan.
Rully memastikan bahwa konsistensi manajemen dalam mendukung kegiatan budaya akan terus berlanjut demi menjaga nafas sejarah di kawasan tersebut.
Sebagai langkah nyata pemajuan aksara tradisional, Nanang mengusulkan agar aksara Jawa mulai diaplikasikan pada titik-titik publik di lingkungan hotel.
Sementara itu, Heti menekankan pentingnya ketersediaan “panggung” bagi banyaknya seniman dan budayawan Surabaya agar karya mereka mendapatkan ruang apresiasi yang layak.
Acara yang dihadiri oleh akademisi, pemerhati sejarah, dan berbagai komunitas ini berlangsung interaktif dan disiarkan secara daring melalui kanal Instagram Live, memungkinkan publik luas ikut serta merasakan semangat pelestarian warisan budaya tersebut.@nang