REKAYOREK.ID Kali Tebu menjadi salah satu sungai di Kota Surabaya yang selama puluhan tahun terhimpit beban pencemaran berat. Tingginya volume sampah, terutama plastik dari aktivitas rumah tangga di kawasan padat penduduk, memicu kebocoran sampah dalam skala besar menuju laut. Fenomena ini menegaskan urgensi intervensi terpadu yang menyasar pembersihan badan sungai sekaligus penanganan dari sumbernya.
Sebagai solusi atas persoalan tersebut, program Mozaik (Mission for Zero Plastic Leakage) besutan Ecoton mulai melakukan langkah nyata di Kali Tebu melalui kolaborasi multipihak. Salah satu aksi strategisnya adalah pemasangan trashboom (penghalau sampah sungai) di segmen tengah, tepatnya di wilayah Kelurahan Tanah Kali Kedinding dan Sidotopo Wetan.
Hanya dalam kurun waktu 24 jam pasca-pemasangan, Tim Mozaik Ecoton berhasil mengevakuasi total 907 kg sampah dari trashboom tersebut. Komposisi limbah ini didominasi oleh sampah anorganik sebanyak 757 kg, sementara sisa 150 kg merupakan sampah organik.
Koordinator tim evakuasi trashboom, Heri Purnomo, menjelaskan bahwa data yang terkumpul akan menjadi basis dasar untuk memetakan karakteristik sampah di Kali Tebu.
“Hasil pengangkutan ini memberikan gambaran nyata kondisi sampah sungai setelah dipasang selama 24 jam. Program ini akan mulai berjalan lebih efektif pada bulan Mei, yang rencana kami akan memasang trashboom permanen setelah membentuk satgas Kali Tebu,” ujarnya.
Rencananya, pemasangan trashboom akan dioperasikan selama 18 bulan di tiga segmen yang melintasi enam kelurahan. Area tersebut meliputi segmen hulu (Kelurahan Kapas Madya Baru dan Simokerto), segmen tengah (Kelurahan Sidotopo Wetan dan Tanah Kali Kedinding), serta segmen hilir (Kelurahan Bulak Banteng dan Tambak Wedi).
Tak sekadar menjadi penghalang sampah menuju laut, sistem ini juga terintegrasi dengan manajemen pengolahan yang sistematis. Sampah yang telah diangkat bakal melalui dua tahap penyortiran: tahap pertama dipilah menjadi sekitar 30 kategori material, dan tahap kedua dipilah berdasarkan warna demi meningkatkan kualitas bahan daur ulang.
Selanjutnya, sampah diproses menggunakan metode tekan (balling) sebelum disalurkan ke Bank Sampah Induk Surabaya.
Inisiatif ini turut didukung penuh oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya sebagai upaya memperkuat sinergi tata kelola sampah di tingkat kota.
Di samping pembersihan fisik melalui trashboom, Mozaik Ecoton juga menerapkan pendekatan berbasis komunitas di enam kelurahan sasaran. Program ini mencakup pembersihan rutin secara partisipatif, pembentukan satgas sungai, pemilahan sampah dari rumah, praktik guna ulang (reuse), Program Sekolah Zero Waste, hingga penerapan prinsip GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion).
Manajer Program Mozaik, Amiruddin Muttaqin, menegaskan bahwa fokus utama gerakan ini adalah menciptakan perubahan sistemik dari hulu ke hilir.
“Mozaik menjadi penting karena berfokus pada tiga hal utama, yaitu mencegah sampah bocor ke laut, mengurangi timbulan sampah dari sumbernya, serta mendorong perubahan perilaku masyarakat,” jelasnya.
Melalui intervensi komprehensif ini, Kali Tebu diproyeksikan menjadi percontohan bagi pengelolaan sampah berbasis sungai dan komunitas, sekaligus menekan laju pencemaran plastik global ke lautan.@