Oleh: Imam M Sumarsono
SEKITAR tahun 1702, Joseph Farmer mendirikan bengkel pandai besi di Old Square, Birmingham, Inggris. Ia, mulanya, berdagang barang-barang logam kecil dan pedang. Terkadang, ia membuat laras dan pelatuk senapan.
Beberapa orang di kawasan itu melakukan hal yang sama: ada yang membuat laras, pengasah, pelatuk, gagang, pengikir dan sebagainya.
Mereka kemudian dikenal sebagai gunmaker. Pembuat senapan.
Pekerjaan ini berkembang. Bukan hanya perakitan senapan. Tetapi juga sampai ke urusan keuangan, pemasaran, pengiriman. Mereka juga memiliki toko dan penginapan.
Setiap senapan, butuh perakitan. Setidaknya ada tiga puluh sub profesi yang terlibat dalam manufaktur pembuatan senapan itu. Semua dilakukan secara manual.
Senapan, di daerah Birmingham sudah seperti “mainan”. Ia menjadi industri yang cerah, seperti industri logam lainnya: gelang, cincin, gagang pedang, kancing, gesper dan lainnya.
Pesanan meningkat. Farmer dan teman-temannya menyewa tungku besi di Rushal pada tahun 1717. Pembuatan senapan juga sudah meluas: ada pemeriksa senapan di Liverpool, ada pembuat gagang di London, ada pembuat pelatuk di Wednesbury, ada juga pembuat laras di Duddeston dan gudang di Steelhouse Lane. Ada juga kayu yang dibeli dari Italia dan Jerman, besi dari Amerika, Rusia dan Swedia.
Joseph Farmer berkembang. Ia mendirikan firma Farmer-Galton. Tahun 1718, ia pergi ke Amerika untuk bereksperimen dengan bijih besi dan pada 1720, ia mendirikan perusahaan besi, Principio Company, di Baltimore County.
Pada tahun 1735, bisnisnya —pembuatan senjata, pengolahan besi, dan properti— cukup sukses sehingga ia bisa pindah ke lokasi di Steelhouse Lane, yang menjadi pusat produksi senjata keluarga Farmer-Galton selama beberapa generasi.
Pada 1737, Joseph bersaksi di Parlemen sebagai “produsen barang-barang baja di Birmingham.” Ia mendukung impor besi Amerika. Ia menemukan bahwa biji besi Maryland lebih baik untuk membuat laras senjata daripada besi Inggris atau Swedia.
Samuel Galton Jr., cucu Joseph Farmer, mewarisi bisnis senjata yang sangat sukses. Ia terlibat dalam Lunar Society, mendanai eksperimen Joseph Priestley, dan berinvestasi dalam pembuatan mesin uap bersama James Watt.
Kekayaan dari bisnis senjata memungkinkan keluarga Galton membeli properti besar, seperti Great Barr Hall dan Warley estate. Galton menjadi pemasok tetap senapan untuk pemerintah Inggris.
Sampai pada tahun 1795, di tengah perang melawan Prancis revolusioner, Samuel Galton Jr. dari Birmingham, menjadi sorotan skandal. Gereja Quaker, Religious Society of Friends, menuntut Galton untuk menghentikan bisnisnya.
Galton adalah seorang Quaker. Quaker adalah anggota gerakan keagamaan Kristen yang dikenal sebagai Perkumpulan Sahabat (Society of Friends) yang didirikan pada abad ke-17 di Inggris oleh George Fox dan lain-lain. Prinsip utama Quakerisme adalah kesederhanaan, kesetaraan, kedamaian dan pengalaman langsung dengan Tuhan.
Kecaman ini memaksa Galton membela diri secara terbuka. Inti pembelaannya terletak pada dua klaim yang saling terkait: Pertama, bahwa setiap orang di Midlands, termasuk sesama Quaker, dalam berbagai cara berkontribusi pada kemampuan negara dalam berperang. Ia tidak lebih buruk daripada pemasok tembaga, pembayar pajak, atau ribuan pekerja terampil yang mengolah logam menjadi segala sesuatu—mulai dari kancing hingga pegas pistol—untuk pasukan kerajaan.
Kedua, senapan. Ia sama seperti barang-barang logam lainnya. Ia adalah alat peradaban sekaligus perang, sama pentingnya untuk melindungi hak milik pribadi dalam masyarakat yang semakin bergerak seperti halnya gagang pintu dan engsel.
Galton memandang dirinya sebagai bagian dari military-industrial society atau masyarakat industri-militer. Pada masyarakat seperti ini, hampir tidak ada ruang ekonomi di luar mesin perang. Perlengkapan perang juga berfungsi sebagai perlengkapan peradaban berbasis properti.
Galton menganggap bahwa toleransi Religious Society of Friends terhadap bisnis keluarganya hingga 1795, adalah bukti bahwa yang mendukung dirinya.
Inilah intinya: pembuatan senjata di Birmingham bukanlah industri yang terisolasi. Ia tumbuh di dalam jaringan yang kompleks diantara para pengrajin logam, pedagang, dan pengusaha yang juga terlibat dalam berbagai industri lain.
Fleksibilitas dan inovasi mereka mencerminkan semangat industri Inggris pada abad ke-18. Senjata hanyalah salah satu produk dari ekosistem manufaktur yang saling terhubung.
Demikian pula dengan Quaker. Mereka memiliki sejarah panjang dalam aktivisme sosial, termasuk perjuangan untuk hak-hak perempuan, penghapusan perbudakan, dan perdamaian. Mereka juga dikenal karena komitmen mereka pada keadilan sosial dan kemanusiaan.
Dengan tuntutan Gereja Quaker itu, tiba-tiba saja, senjata menjadi terlihat jahat, dan pembuat senjata bahkan lebih buruk.
Priya Satia (2018), dalam bukunya yang terkenal “Empire of Guns: The Violent Making of The Industrial Revolution” mengkaji secara mendalam tentang kemunculan industri senjata. Dalam buku ini, Satia mengungkapkan bahwa narasi revolusi industri yang dibangun adalah keliru.
Kisah transformasi Inggris dari ekonomi agraris dan kerajinan tangan menjadi ekonomi yang didominasi industri dan manufaktur mesin, selama ini hanya terpaku pada gambaran pabrik kapas dan mesin uap yang diciptakan oleh para jenius yang bebas dari campur tangan negara.
Dalam versi ini, peran negara hampir tidak ada. Selama lebih dari dua abad, gambaran ini telah membentuk cara kita memikirkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan pembangunan di seluruh dunia.
Tapi ini salah.
Selama lebih dari 125 tahun, antara 1688 hingga 1815, Inggris berada dalam keadaan perang yang hampir terus-menerus. Inggris terlibat dalam operasi militer besar selama 87 tahun. Ia, tidak kurang delapan kali menyatakan perang terhadap kekuatan asing.
Perang Tujuh Tahun (1756–63) dan konflik-konflik berikutnya terjadi dalam skala yang jauh lebih besar, melibatkan seluruh masyarakat dan ekonomi, serta menimbulkan masalah logistik yang sama sekali mengalahkan usaha sipil.
Dengan pasukan Inggris yang dimobilisasi hampir sepanjang abad, perang menjadi norma pada periode ini. Industri senjata Inggris memainkan peran vital bagi kelangsungan kerajaan. Lembaga-lembaga negara mendorong Revolusi Industri Inggris dalam cara-cara yang krusial. Seperti dikatakan Galton: perang menciptakan Revolusi Industri.
Negara dan Industri Senjata
Jejak hubungan negara dan industri negara di Inggris, oleh Priya Satia (2018), dibagi dalam beberapa periode. Periode pertama berlangsung pada tahun 1688 hingga 1756.
Ditemukannya senapan, telah membuat “para ksatria” terusir dari medang perang. Ini juga menjadi penanda kebangkitan negara modern. Dan, negara baru ini ditandai oleh kekuasaan publik dimana kekuasaan tidak lagi melekat pada pribadi pemerintah. Kekuasaan berubah dalam bentuk kelembagaan.
Meskipun para ksatria yang memelihara sikap aristokratik meremehkan senjata api, yang dianggap pengecut dan tidak kesatria, namun “Revolusi Militer” mulai terjadi. Negara mulai melibatkan pembiayaan swasta untuk pinjaman.
Negara juga meminjam dari tukang emas yang menetapkan bunga atas utang kerajaan kepada kreditur mereka sendiri, yang kelak menjadi cikal bakal utang nasional.
Pengusaha militer menyediakan organisasi tingkat rendah, merekrut pasukan berdasarkan kontrak dan menyiapkan gaji dari negara, rampasan perang serta pungutan paksa.
Perusahaan-perusahaan dagang luar negeri, seperti East India Company dan South Sea Company menandai munculnya korporat dalam kepentingan finansial. Mereka diberikan hak monopoli dagang melalui pinjaman kerajaan.
Dalam Revolusi Agung 1689, kaum pemilik tanah menggagalkan upaya Raja James II dari dinasti Stuart untuk membentuk negara terpusat yang absolutis dan otonom, yang dikelola oleh birokrat.
Monarki konstitusional baru di bawah William dan Mary bermitra dengan pemegang kekayaan, termasuk perusahaan bersertifikat, Bank of England yang baru didirikan, para pengelola keuangan, dan kontraktor.
Bank of England dan perusahaan dagang mengambil peran manajerial yang mirip dengan departemen fiskal pemerintah. “Negara Korporat” ini menjadi kumpulan organik dari lembaga-lembaga interaktif, komunitas, dan jaringan sosial (termasuk Kerajaan) dengan berbagai tingkat otonomi.
Kekuasaan publik dan swasta tidak dapat dibedakan di tingkat lokal. Para tuan tanah besar dan oligarki adalah anggota Parlemen. Mereka juga memegang kekuasaan yudisial dan administratif yang luas tanpa pengawasan, mendominasi jabatan lokal yang tidak dibayar namun kuat: Lord Lieutenant, Sheriff, Justice of The Peace, serta berbagai komite yang menangani kebutuhan lokal. Mereka memimpin milisi.
Jabatan yang tidak dibayar ini melapisi status kekuasaan negara di atas status sosial lokal pemegangnya. Para pemilik kekuasaan ini bisa memaksakan kepatuhan dengan ancaman kekuatan yang sah, meskipun mereka tidak selalu menganggap diri mereka, terutama sebagai agen negara. Sebab, kekuasaan mereka terkadang tidak sepenuhnya berasal dari jabatan mereka.
Tindakan negara lebih bersifat budaya dan sosial daripada tindakan kelembagaan penuh. Banyak fungsi pemerintah Inggris abad ke-18 yang dialihdayakan atau ditanam di dalam struktur sosial.
Urusan kontraktor senjata, dikelola oleh Ordnance Office dan perusahaan bersertifikat. Negara membina perdagangan senjata. Negara khawatir bahwa produsen senjata domestik akan mendukung pemberontak Jacobite yang ingin menggulingkan kekuasaan pada 1689.
Oleh karena itu, negara berupaya memperbanyak jumlah produsen domestik dan mengurangi pengaruh politik produsen senjata individu.
Upaya menyebarkan keterampilan pembuatan senjata ini bertujuan mencegah senjata jatuh ke tangan pemberontak. Persaingan yang dihasilkan di antara pembuat senjata berarti keamanan bagi negara. Tetapi, ini memberikan keuntungan yang rendah bagi pembuat senjata.
Di sini, menurut Priya Satia, tujuan negara bukan hanya membentuk military-industrial complex. Melainkan lebih dari itu: society industrial-complex.
Dan ini terus berkembang. Bahkan, untuk mendorong persaingan, negara mendukung penjualan senjata ke perusahaan bersertifikat dan pelanggan lain, terutama mereka yang terlibat dalam perdagangan budak. Pada 1750-an, para pembuat senjata bergantung pada negara, meskipun negara telah mengurangi ketergantungannya pada salah satu dari mereka.
Office of Ordnance
Pada masa itu, Office of Ordnance bertanggung jawab atas artileri, insinyur militer, bubuk mesiu, kuda artileri, serta pengangkutan barang-barang ini. Kantor ini sangat berpengaruh di kalangan militer. Sebagian besar anggotanya duduk di parlemen.
Lembaga ini dipimpin oleh seorang Master General, biasanya seorang petinggi militer, dan berwenang mengeluarkan dana untuk layanan tak terduga yang belum dialokasikan oleh parlemen. Master General menunjuk perwiranya sendiri, menghadiri Privy Council atau dewan penasehat, dan menjadi penasihat militer utama bagi Kerajaan.
Kantor ini dikelola oleh sebuah dewan beranggotakan lima pejabat utama bergaji tinggi: Lieutenant General, Surveyor General (mengawasi pemesanan, inspeksi, pengujian, dan insinyur), Clerk of the Ordnance, Keeper of Stores dan Clerk of the Deliveries.
Pada tahun 1660, hanya ada sembilan juru tulis pada Office of Ordnance. Pada tahun 1703, sudah ada 17 juru tulis tetap dan 21 luar biasa. Jumlah storekeepers, pekerja terampil, dan buruh juga melonjak, begitu pula gaji mereka. Stafnya tersebar di delapan pelabuhan luar dan sepuluh garnisun, termasuk Jamaika, Barbados, dan New York.
Orang Inggris mulai menjual senjata ke penduduk asli Amerika pada 1620-an. Hudson’s Bay Company (didirikan 1670) menukarnya dengan kulit berang-berang. Dari 1675 hingga 1775, perusahaan ini membeli rata-rata 480 fusil (senjata api ringan) per tahun.
Pada pergantian abad ke-18, perdagangan ini begitu menguntungkan hingga koloni New York memungut pajak enam shilling per laras senjata yang dikirim ke hulu Sungai Hudson.
East India Company juga memesan senjata serupa sejak 1664 untuk diperdagangkan, mempersenjatai pegawainya, atau dihadiahkan di Asia. Pedagang yang berdagang ke Afrika menjadi pelanggan.
Antara 1673 dan 1704, African Company mengirim sekitar 66.000 senjata api ke Pantai Emas, Pantai Budak, Senegambia, Sierra Leone, Pantai Gading, dan Angola, ditukar dengan emas, budak, dan gading.
Pada 1684, pengrajin London protes karena pembelian senjata Belanda yang lebih murah oleh African Company. Ordnance Office membela mereka. Perlahan, perusahaan beralih ke pisau dan pedang dari Birmingham (sejak 1690), serta ribuan senjata dari John Sibley, pandai besi London yang juga pemasok Ordnance Office dan Hudson’s Bay Company.
Di Amerika Utara, senjata Belanda mulai ditinggalkan setelah banyak yang cacat pada 1684. Senjata karya Inggris pun lebih dipilih.
Saat naik takhta, William memanggil Parlemen, termasuk Sir Richard Newdigate dari Warwickshire. Ketika raja mengkhawatirkan ketergantungan pada senjata Belanda, Newdigate menawarkan solusi: “Orang-orang Birmingham bisa membuat senjata yang lebih baik dengan harga lebih murah.”
Raja tertarik dan memintanya menanyakan apakah pembuat pedang Birmingham bisa memproduksi senjata sesuai model Belanda. Para pandai besi setempat berhasil menirunya. Pada Maret 1692, pesanan percobaan diberikan kepada pandai besi Birmingham.
Tahun 1693, lima produsen—yang menyebut diri “The Company of Gunmakers in Birmingham“, mendapat pesanan membuat 200 “snaphance musquets” per bulan selama setahun, dengan harga 17 shilling per pucuk plus biaya pengiriman ke London.
Birmingham adalah kota terbesar kedua di Inggris. Terletak di West Midlands, di bagian tengah Inggris. Ketika musim perdagangan Afrika berakhir di musim semi, pesanan dari Amerika Utara mulai masuk. Negara Inggris mendukung perdagangan ini karena mengalahkan pesaing mereka di Eropa.
Ordnance Office kebanjiran pesanan senjata. Semua resimen menginginkan musket terkini. Ketika persenjataan Virginia hancur terbakar, gubernurnya menolak penggantian dengan matchlock tua.
Gubernur di Kepulauan Leeward dan Jamaika juga menuntut hal serupa. Di tengah lonjakan permintaan ini (sekitar 1702), kakek Samuel Galton Jr., Joseph Farmer, tiba di Birmingham untuk terjun ke bisnis senjata yang sedang booming.
Menurut Priya Satia (2018), Birmingham menjadi pusat perdagangan senjata global. Pada abad ke-18, jutaan senjata mengalir dari bengkel-bengkel sederhana di Birmingham dan London ke tangan pembeli di Afrika, India, Hindia Barat, Amerika, dan Eropa.
Ini di berbeda dengan di Manchester. Dari tempat itu, yang mengalir adalah kain kapas.
Para pekerja logam di Black Country yang berada di sebelah barat Birmingham, telah menjalin hubungan erat dengan negara yang hampir terus-menerus berperang. Melalui jaringan keluarga, kekayaan tumbuh dan membentuk keluarga-keluarga kaya, seperti keluarga Galton.
Kekayaan yang mereka dapatkan dari bisnis senjata itu, bahkan menjadi modal dasar Bank Galton yang berdiri 1804, yang kemudian diserap ke Midland Bank, yang kini menjadi bagian dari HSBC.
Permintaan massal terhadap senjata telah merangsang inovasi dalam organisasi industri dan teknologi metalurgi dengan efek yang sangat besar. Pada awal abad ke-18, negara memesan puluhan ribu senjata. Pada awal abad ke-19, kebutuhannya mencapai jutaan.
Perubahan besar pesanan ini mencerminkan Revolusi Industri di dunia metalurgi, bukan karena hasil ditemukannya mesin uap. Tetapi, karena ekspansi dan eksperimen yang didorong negara dalam organisasi industri kerajinan tangan.
Pada akhir abad ke-18, permintaan negara yang terus meningkat telah mengubah Birmingham Raya menjadi pabrik pemerintah. Seluruh dunia metalurgi Midlands terlibat dalam produksi massal untuk perang.
Negara belajar menetapkan standar kualitas yang memungkinkan partisipasi lebih luas, dan dengan demikian produksi massal dilakukan dengan meniru naluri komersial perusahaan perdagangan seperti Perusahaan Hindia Timur.
Keterkaitan horizontal dan vertikal antara perdagangan senjata, industri “mainan” (barang logam kecil), dan pertambangan —semua bidang yang digeluti keluarga Galton— memastikan bahwa inovasi di satu area dengan cepat menyebar ke area lain.
Revolusi kecil di bengkel-bengkel “Gun Quarter” di sekitar Gereja St. Mary, Birmingham, memicu perubahan besar dalam sejarah dunia.
Teknik, tenaga kerja, dan bahan baku pembuatan senjata bercampur-baur dengan pembuatan barang logam lainnya di Birmingham. Banyak di antaranya juga menjadi objek permintaan negara. Singkatnya, senjata adalah titik awal yang jelas untuk memahami partisipasi negara dalam ekonomi industri.
Menurut Satia, pada masa itulah, sebagian kekayaan Inggris didirikan atas perdagangan senjata.@
Sumber Tulisan:
Priya Satia. 2018. Empire of Guns: The Violent Making of The Industrial Revolution. New York: Penguin Press