Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Menjamur Idealisme di Etalase Kekuasaan

Oleh: Ahmad Zaki (Ketua Umum Solidaritas Masyarakat untuk Keadilan-SMUK)

SEJARAH republik ini adalah sejarah yang ditulis oleh pekik lantang para aktivisnya. Di zaman Orde Lama, jalanan menjadi panggung sakral tempat gagasan-gagasan besar tentang kedaulatan bangsa digelorakan menantang imperialisme. Memasuki era Orde Baru, ketika represi menjadi menu harian, generasi pencari keadilan bertaruh nyawa demi meruntuhkan tembok otoritarianisme, membebaskan suara-suara yang dibungkam. Mereka adalah pejuang yang berdiri di garis paling depan, menjadi tameng bagi perut-perut rakyat yang lapar dan hak-hak yang terampas.

 

Namun, potret heroik itu tampaknya telah menguap di udara hari ini. Transformasi karakter aktivis zaman sekarang menyuguhkan tontonan yang menggelitik sekaligus memilukan. Alih-alih menjadi penyambung lidah rakyat yang sedang terhimpit, banyak mantan singa podium kini bertransformasi menjadi pengompol di dalam selimut kenyamanan panggung kekuasaan. Suara yang dulunya serak karena menuntut keadilan, kini mendadak merdu dan fasih merangkai eufemisme demi membenarkan setiap kebijakan pemerintah, tak peduli sekencang apa pun jeritan di akar rumput.

 

Ironi ini terasa kian menyengat di tengah realitas ekonomi yang sedang mencabik-cabik dapur masyarakat. Ketika nilai tukar dolar meroket tak terkendali, harga bahan pangan pokok dan sembako ikut melambung tinggi, memaksa para ibu rumah tangga memutar otak sekadar untuk bertahan hidup. Alih-alih hadir menawarkan solusi atau setidaknya menyuarakan pembelaan, para aktivis yang telah nyaman di kursi birokrasi dan lingkar kekuasaan ini justru sibuk memoles narasi bahwa semua baik-baik saja, sembari menyodorkan sejuta pembenaran matematis yang sama sekali tidak mengenyangkan perut rakyat.

 

Kondisi ini diperparah oleh kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang memicu efek domino yang absurd di lapangan. Realitas hari ini memperlihatkan pemandangan ganjil di mana kelas menengah ke atas, yang biasanya gengsi, kini tanpa malu ikut mengular dalam antrean panjang demi memperebutkan BBM bersubsidi. Pemandangan ini merefleksikan betapa tekanan ekonomi telah mengaburkan batas kesejahteraan. Di saat yang sama, hak-hak mendasar masyarakat pesisir kian terancam akibat maraknya penyelewengan distribusi BBM subsidi untuk nelayan yang menguap ke tangan-tangan gurita industri yang serakah. Nelayan kecil terpaksa menyandarkan perahu mereka karena solar menghilang, sementara para mantan pejuang keadilan yang kini menjadi bagian dari sistem hanya bisa diam, atau paling banter, mengeluarkan pernyataan normatif yang tak berdampak.

Sungguh sebuah komedi satir yang getir ketika mereka yang dulu mengajari rakyat cara melawan tirani, kini justru mengajari rakyat cara memaklumi kesengsaraan. Karakter aktivis hari ini telah bergeser dari pengawas kekuasaan menjadi penjaga gerbang kekuasaan. Logika perjuangan mereka tampaknya telah habis digilas oleh fasilitas kedinasan dan jaminan posisi nyaman. Pada akhirnya, rakyat dipaksa menyaksikan kenyataan pahit bahwa musuh paling nyata dari idealisme masa lalu terkadang adalah kemapanan di masa depan. Kita ditinggalkan di tengah badai harga yang mencekik, sementara mereka yang dulu berjanji membawa payung, kini sedang sibuk menikmati kehangatan di dalam istana.

Komentar
Loading...