Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Dari Pabrik yang Putus Menuju Api yang Tak Padam: Manifesto Spiritual-Politik 1 Suro untuk Rakyat Indonesia

*Ketika Kalender Bicara tentang Luka*

TIDAK ada yang lebih sakral dalam kosmologi pergerakan selain momen ketika waktu seolah berhenti sejenak, memaksa manusia untuk melepaskan topeng-topeng kesibukannya, dan masuk ke dalam keheningan yang paling jujur. Malam 1 Suro, yang beriringan dengan 1 Muharram, adalah momen itu. Ia bukan sekadar transisi angka dalam penanggalan. Ia adalah jeritan sunyi dari kedalaman sejarah yang mengingatkan bahwa setiap zaman memiliki luka, dan setiap luka memerlukan penyembuhan.

Bagi kami, Keluarga Besar Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya Raya, 1 Suro ini bukanlah perayaan. Ini adalah muhasabah ideologis. Sebuah kesempatan langka untuk berhenti dari rutinitas pabrik gerakan yang bising namun mandul, untuk bertanya dengan nada yang paling getir: Masihkah kita relevan bagi rakyat?

Kita hidup di era di mana demokrasi telah direduksi menjadi prosedur elektoral lima tahunan, sementara di luarnya, oligarki berpesta pora di atas penderitaan rakyat. Di era di mana informasi melimpah ruah, tetapi kesadaran kritis justru mati suri. Mahasiswa, yang secara historis merupakan agent of change dan lokomotif sejarah, kini berada di persimpangan yang berbahaya. Kita seperti pabrik yang putus: mesinnya meraung-raung, rodanya berputar, asapnya mengepul, tetapi tidak ada produk yang dihasilkan. Hanya ada bising. Hanya ada kesibukan semu.

Melalui refleksi 1 Suro ini, kami ingin membongkar kemandulan itu. Kami ingin merumuskan kembali sebuah manifesto spiritual-politik yang lahir dari rahim kebudayaan Nusantara, namun memiliki daya ledak revolusioner untuk mengguncang tatanan yang timpang.

*Pabrik yang Putus: Potret Buram Gerakan Kita*

Kita harus berani melukai diri sendiri dengan kebenaran. Bahwa gerakan mahasiswa di banyak tempat telah menjadi ritual tanpa makna. Kita sibuk mengadakan diskusi yang berputar-putar. Kita rajin membuat poster digital untuk media sosial. Kita turun ke jalan dengan yel-yel yang heroik. Namun, marilah kita berhitung secara dingin dan materialistis: Kebijakan-kebijakan neoliberal yang memiskinkan rakyat, apakah berhasil kita hentikan? Oligarki yang mengeruk sumber daya alam, apakah berhasil kita patahkan?

_Jawabannya, jika kita jujur, nyaris nihil._

Inilah yang disebut sebagai kegagalan berpikir struktural. Kita terjebak dalam logika-logika parsial. Kita mengkritik seorang menteri, tetapi gagal membongkar sistem yang memproduksi menteri-menteri semacam itu. Kita marah pada satu kebijakan, tetapi tidak mampu merumuskan alternatif sistemik yang menyejahterakan. Lebih tragis lagi, kita gagal memahami bahwa rakyat bukanlah sekadar “massa” yang bisa dikerahkan untuk aksi, lalu ditinggalkan begitu saja. Rakyat adalah subjek sejarah. Dan ketika gerakan terputus dari rakyat, ia hanya akan menjadi sekte-sekte intelektual yang bercakap-cakap dengan dirinya sendiri.

Pabrik yang putus adalah pabrik yang input-nya besar, tetapi output-nya kosong. Begitu pula gerakan kita. Kita menyerap banyak teori revolusioner—dari Marx, Gramsci, hingga Fanon. Kita memiliki kader-kader yang vokal. Tetapi, produk dari semua itu tidak tersambung ke pasar yang sesungguhnya, yaitu rakyat miskin, petani yang kehilangan tanah, buruh yang di-PHK, nelayan yang digusur, dan perempuan-perempuan yang tertindas di ruang-ruang sunyi. Kita berbicara atas nama mereka, tetapi tidak bersama mereka.Karena itu, 1 Suro memanggil kita untuk membubarkan pabrik yang putus itu, dan membangun kembali bengkel-bengkel kesadaran yang organik.

*1 Suro sebagai Ruwatan Ideologis*

Dalam kosmologi Jawa, 1 Suro bukanlah malam untuk pesta. Ia adalah malam wingit, malam yang padat makna, malam di mana tabir antara yang nyata dan yang ghaib menjadi setipis kulit ari. Ia adalah momen ruwatan: penyucian diri dari sukerta, pembebasan dari malapetaka dan energi negatif yang menempel.

_Kami percaya, bangsa ini sedang dirundung sukerta ideologis._

Sukerta itu adalah korupsi yang sudah menjadi kebudayaan, di mana uang rakyat dijarah tanpa rasa malu. Sukerta itu adalah oligarki yang bersalin rupa menjadi demokrasi, tetapi sesungguhnya mencekik kedaulatan rakyat. Sukerta itu adalah politik identitas yang sengaja digelontorkan untuk memecah belah, agar rakyat sibuk bertikai satu sama lain dan melupakan musuh utamanya: kapitalisme global dan komprador lokalnya. Sukerta itu adalah krisis imajinasi politik, di mana kita tidak lagi mampu membayangkan sebuah Indonesia tanpa kemiskinan dan tanpa penindasan.

Untuk meruwat sukerta bangsa, kita tidak bisa hanya mengandalkan ritual-ritual simbolik. Ruwatan revolusioner harus bersifat spiritual sekaligus struktural. Secara spiritual, kita harus membersihkan niat dan ego. Di sinilah relevansi dari semangat tirakat dan lelaku. Bagi kami, para aktivis Marhaenis, tirakat bukan lagi semata tidak tidur semalaman, tidak makan, atau berendam di sungai. Tirakat adalah sebuah asketisme revolusioner: kesediaan untuk meninggalkan kenyamanan borjuis, untuk berjalan kaki ke desa-desa, untuk tinggal di gubuk-gubuk nelayan, untuk mendengar tanpa menggurui.

Tapa bisu—diam tanpa bicara—yang dilakukan oleh para abdi dalem keraton pada malam 1 Suro, harus kita maknai kembali. Dalam dunia aktivisme yang terlalu banyak bicara, terlalu banyak analisis, terlalu banyak debat kusir, kita justru perlu tapa bisu politik. Diam, bukan karena takut, tetapi untuk mendengarkan suara-suara yang selama ini tak terdengar: rintihan petani yang tanahnya diserobot, jeritan buruh yang upahnya dipotong, tangisan ibu yang anaknya kurang gizi. Setelah kita mendengar dengan saksama, barulah kita bicara. Dan bicara kita bukan lagi omong kosong, melainkan artikulasi dari kepentingan objektif mereka.

*Hijrah Kesadaran: Dari Aktivisme Borjuis Menuju Revolusi Kerakyatan*

1 Muharram adalah bulan hijrah. Hijrah bukanlah sekadar perpindahan geografis dari Mekkah ke Madinah. Pada esensinya, hijrah adalah revolusi kesadaran total. Ia adalah perpindahan dari jahiliyah menuju tauhid, dari kegelapan menuju cahaya, dari segala bentuk perbudakan—baik perbudakan oleh berhala, oleh tuan tanah, maupun oleh nafsu—menuju pembebasan sejati.

Kita, para aktivis mahasiswa, harus melakukan hijrah ideologis. Hijrah dari aktivisme borjuis kecil menuju revolusi kerakyatan. Apa itu aktivisme borjuis kecil? Itu adalah aktivisme yang hanya menjadi pelarian dari rasa bersalah kelas menengah. Itu adalah aktivisme yang menjadikan penderitaan rakyat sebagai komoditas untuk mendapatkan simpati, popularitas, atau jabatan. Itu adalah aktivisme yang sangat nyaman dengan bahasa-bahasa akademis yang rumit, tetapi gagap ketika berbicara dengan bahasa rakyat jelata.

Hijrah menuntut kita untuk melucuti semua atribut kesombongan intelektual itu. Kita harus menjadi kawula di hadapan rakyat. Dalam tradisi mistik Jawa, konsep Manunggaling Kawula-Gusti adalah puncak perjalanan spiritual, di mana hamba dan Tuhan bersatu dalam kesadaran Ilahi. Dalam kerangka pergerakan, kita bisa memformulasikan ulang: Manunggaling Kawula-Rakyat. Kesadaran kita harus manunggal dengan penderitaan dan aspirasi rakyat. Kemenangan kita bukanlah ketika kita mendapatkan panggung, tetapi ketika rakyat mendapatkan tanahnya kembali, ketika buruh mendapatkan upah yang layak, dan ketika setiap anak bangsa bisa bersekolah tanpa dibebani biaya.

Tanpa manunggal dengan rakyat, kita hanya akan menjadi elit baru yang berbisik-bisik di ruang-ruang seminar, sementara revolusi berlalu tanpa kita.

*Revolusi adalah Laku Sunyi yang Meledak*

Ada kesalahpahaman besar di kalangan progresif bahwa revolusi identik dengan suara yang keras, teriakan yang memekakkan, dan bentrokan jalanan yang heroik. Itu adalah bagian kecil dari revolusi. Namun, revolusi sejati adalah buah dari laku sunyi yang panjang dan melelahkan.

Bung Karno, guru ideologi kami, adalah contoh sempurna. Ide-ide besarnya tentang Marhaenisme, tentang sosio-nasionalisme, tentang Trisakti, tidak lahir dari keramaian rapat akbar. Semuanya lahir dari lelaku sunyi: dari pembuangan di Ende dan Bengkulu, dari perenungan di sel penjara Sukamiskin, dari membaca sejarah dan mendengarkan denyut nadi rakyat. Bung Karno adalah seorang mistikus politik. Ia paham bahwa untuk mengguncang dunia, seseorang harus terlebih dahulu menyelami samudera batinnya sendiri, menemukan mutiara kesadaran di dasarnya, dan baru kemudian muncul ke permukaan dengan kekuatan yang tak terbendung.

Di sinilah kita, GMNI Surabaya Raya, menyerukan sebuah Mistisisme Revolusioner. Mistisisme ini bukanlah pelarian ke dunia gaib, bukanlah pencarian kesaktian untuk kekebalan diri. Mistisisme revolusioner adalah upaya untuk menyelaraskan mikrokosmos jiwa kita dengan makrokosmos perjuangan rakyat. Ini adalah disiplin batin untuk memastikan bahwa setiap tindakan politik kita berasal dari cinta, bukan dari dendam; dari keberanian, bukan dari ketakutan; dari keyakinan ideologis, bukan dari ikut-ikutan.

Kita harus berani melakukan tapa ideologi. Tapa ideologi adalah kesanggupan untuk setia pada garis perjuangan Marhaen meskipun dunia di sekitar kita menawarkan jalan pintas yang pragmatis. Ketika banyak orang memilih berkompromi dengan kekuasaan demi secuil proyek, kita memilih tetap berjalan bersama rakyat. Ketika banyak organisasi menjadi organisasi onderbouw partai penguasa, kita memilih untuk menjadi oposisi yang bermartabat.

*Menjamas Pusaka Republik*

Pada malam 1 Suro, keraton-keraton Jawa melakukan jamasan pusaka. Keris, tombak, dan benda-benda bersejarah dimandikan, dibersihkan dari karat, dan diberi wewangian. Pusaka tidak hanya dipandang sebagai benda mati; ia adalah amanah leluhur yang harus dijaga, agar yoni atau daya spiritualnya tetap membawa berkah bagi negeri.

Republik ini pun memiliki pusaka. Pusaka itu adalah Pancasila, UUD 1945, Trisakti, dan cita-cita Proklamasi. Namun, sudahkah kita menjamasnya?

Lihatlah Pancasila. Sila Keadilan Sosial hanyalah menjadi mantra yang diulang-ulang, sementara di depan mata kita, kesenjangan sosial mencapai titik yang menganga lebar. Lihatlah UUD 1945. Pasal 33 yang memandatkan bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai oleh negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, telah dikebiri oleh undang-undang sektoral yang pro-pasar bebas. Lihatlah Trisakti, ajaran Bung Karno tentang berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Apakah kita benar-benar berdaulat? Atau kita hanya boneka dari konsensus Washington dan lembaga-lembaga keuangan internasional?

Jamasan politik berarti kita harus berani membersihkan tafsir-tafsir busuk yang menempel pada ideologi bangsa. Kita harus melucuti semua aturan yang bertentangan dengan kepentingan rakyat. Dan itu adalah tugas kita, kaum muda terpelajar. Kita harus menjadi empu-empu zaman ini, yang menempa kembali keris keadilan, agar ia cukup tajam untuk memotong rantai-rantai penghisapan.

*GMNI Sebagai Api yang Tak Kunjung Padam*

GMNI lahir dari rahim perjuangan Marhaenisme. Kita bukan sekadar organisasi kader. Kita adalah bara dari api yang pernah dinyalakan oleh Bung Karno, api yang membakar kolonialisme dan melahirkan Republik. Tugas kita hari ini adalah memastikan bahwa bara itu tidak menjadi abu yang dingin.

Di Surabaya, kota pahlawan tempat arek-arek Suroboyo bertempur melawan imperialis, kita tidak boleh menjadi generasi yang lembek. Refleksi 1 Suro ini harus menjadi titik balik. Kita harus berani mengakui bahwa kita pernah menjadi “pabrik yang putus”, agar kita bisa merancang ulang mesin gerakan kita.

Mesin itu haruslah organik. Kita harus memiliki hubungan langsung dengan organisasi-organisasi rakyat—serikat buruh, serikat tani, serikat nelayan, dan kelompok-kelompok marjinal. Kita harus menjadi katalisator yang membantu mereka merumuskan kesadaran kelas, dari kelas dalam dirinya menjadi kelas untuk dirinya.

Dan di atas semua itu, kita harus memiliki disiplin ideologi yang hanya bisa ditempa melalui lelaku ideologis. Kita harus rajin membaca, tidak hanya buku-buku teori, tetapi juga membaca realitas sosial secara langsung. Kita harus rajin berdialektika, tidak hanya di dalam sel-sel organisasi, tetapi juga dengan rakyat. Dan kita harus rajin melakukan otokritik, karena tanpa otokritik, kita hanya akan menjadi sekte yang dogmatis dan tertutup.

*Penutup: Selamat Berhijrah, Kawan!*

Malam semakin larut. Angin 1 Suro berhembus, membawa hawa dingin yang menyelinap ke tulang. Di langit, bintang-bintang menjadi saksi bisu atas janji yang kita ikrarkan malam ini.

Kami, GMNI Surabaya Raya, menyerukan kepada seluruh aktivis mahasiswa, kepada seluruh rakyat Indonesia yang masih mencintai keadilan: Marilah kita berhijrah.

Hijrah dari pabrik yang putus menuju bengkel rakyat. Hijrah dari aktivisme kosong menuju revolusi total. Hijrah dari ambisi pribadi menuju pengabdian tanpa batas. Hijrah dari kegelapan pragmatisme menuju cahaya ideologi.

Jadikan 1 Suro ini sebagai lelaku kolektif. Bersihkan diri dari karat-karat ego. Asah kembali pisau analisis struktural. Dan yang terpenting, sambungkan kembali diri kita dengan rakyat. Sebab, sebagaimana Dewa Ruci mengajarkan pada Bima, samudera kebenaran yang paling luas bukanlah di luar sana, melainkan di dalam diri rakyat yang berdaulat. Di sanalah Gusti bersemayam. Di sanalah revolusi menemukan rumahnya.

Selamat Tahun Baru 1 Suro, kawan.

Jayalah GMNI.

Jayalah Rakyat Indonesia.

MERDEKA!

Ketua DPC GMNI Surabaya Raya

Komentar
Loading...