Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Awal Mula NU Garis Lurus, Nama yang Lahir dari Penyematan Publik

"Dalam organisasi besar, perbedaan sering kali bukan lahir karena kebencian, melainkan karena kecintaan yang berbeda terhadap rumah yang sama."

REKAYOREK.ID Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33 di Jombang pada 2015, suasana di jagat maya warga nahdliyin tidak sepenuhnya teduh. Di tengah perdebatan mengenai arah organisasi, Islam Nusantara, liberalisme, Syiah, hingga relasi agama dan politik, muncul sebuah istilah yang kemudian memantik diskusi panjang: NU Garis Lurus.

Nama itu terdengar tegas. Bahkan bagi sebagian orang terkesan provokatif. Sebab jika ada “garis lurus”, muncul pertanyaan yang tak terucapkan: apakah ada yang tidak lurus?

Namun sejarah kemunculannya ternyata tidak sesederhana itu. Istilah NU Garis Lurus bukan lahir dari keputusan muktamar, bukan pula hasil deklarasi resmi sebuah organisasi.

Dalam berbagai penjelasannya, KH Luthfi Bashori menyebut nama tersebut justru berkembang dari penyematan kalangan wartawan dan publik terhadap forum-forum kajian yang digelarnya bersama sejumlah aktivis dan kiai muda.

Sebelum istilah itu populer, yang terlebih dahulu muncul adalah kelompok kajian bernama Pejuang ASWAJA Garis Lurus. Forum ini berkembang melalui pengajian, grup diskusi, website, dan media sosial yang aktif menyuarakan pandangan keagamaan mereka.

Di ruang digital yang saat itu mulai menjadi arena baru pertarungan gagasan, suara mereka cepat menyebar ke berbagai daerah. Bagi para pendukungnya, kemunculan gerakan ini bukanlah pemberontakan terhadap NU.

Sebaliknya, mereka menganggapnya sebagai ikhtiar mengembalikan warga nahdliyin kepada manhaj yang diajarkan para pendiri NU, khususnya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

KH Luthfi Bashori merangkum latar belakang tersebut dalam sejumlah poin yang sering ia sampaikan.

“Keinginan menjaga kemurnian manhaj Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah sebagaimana diajarkan para ulama pendiri NU. Kritik terhadap sebagian kebijakan atau arah organisasi NU yang menurut mereka kurang sesuai dengan khittah dan prinsip-prinsip awal NU. Dorongan untuk memperkuat kajian kitab kuning, turats, dan otoritas ulama pesantren. Keprihatinan terhadap polarisasi politik yang dianggap berpengaruh terhadap kehidupan organisasi dan jamaah NU.

Keinginan menyediakan ruang dakwah dan edukasi bagi warga NU yang memiliki pandangan serupa.
Di sisi lain, pihak PBNU dan banyak kalangan NU memiliki pandangan yang berbeda mengenai beberapa kritik tersebut. Karena itu, persoalan NU Garis Lurus merupakan bagian dari dinamika internal warga NU yang dipandang berbeda-beda oleh masing-masing pihak.

Secara objektif, kemunculan suatu gerakan korektif dalam organisasi besar biasanya dipicu oleh perbedaan penafsiran terhadap khittah organisasi, perbedaan strategi dakwah dan perjuangan, perbedaan pandangan terhadap kebijakan pimpinan, serta keinginan mengembalikan organisasi kepada nilai-nilai yang dianggap lebih dekat dengan cita-cita pendirinya.”

Kemunculan NU Garis Lurus tidak bisa dilepaskan dari momentum politik dan sosial saat itu. Tahun 2015 merupakan periode penting bagi NU. Muktamar Jombang menjadi ajang konsolidasi sekaligus pertarungan gagasan mengenai wajah NU ke depan.

Di media sosial, akun-akun yang mengatasnamakan NU Garis Lurus berkembang pesat. Mereka aktif mengkritik tokoh, kebijakan, maupun gagasan yang dianggap tidak sejalan dengan pemahaman Aswaja yang mereka yakini. Di saat yang sama, kalangan lain di tubuh NU menganggap pendekatan tersebut terlalu keras dan berpotensi memicu fragmentasi internal.

Perdebatan itu kemudian melahirkan fenomena baru. Sebagai respons terhadap gaya komunikasi yang dianggap konfrontatif, sebagian anak muda NU membentuk komunitas tandingan yang dikenal dengan nama “NU Garis Lucu”. Mereka menggunakan humor, satire, meme, dan pendekatan budaya populer untuk meredakan ketegangan yang berkembang di media sosial. Fenomena ini bahkan menjadi perhatian para peneliti yang mengkaji dinamika digital warga NU.

Jika ditarik lebih jauh, lahirnya NU Garis Lurus sesungguhnya mencerminkan satu kenyataan sederhana: organisasi sebesar Nahdlatul Ulama tidak pernah sepenuhnya homogen.

Sejak berdiri pada 1926, NU selalu dihuni oleh beragam corak pemikiran. Ada yang menekankan tradisi pesantren, ada yang bergerak dalam ranah kebangsaan, ada yang fokus pada dakwah kultural, ada pula yang lebih menonjolkan pemurnian akidah dan manhaj.

Perbedaan-perbedaan itu sesekali muncul ke permukaan, lalu kembali tenggelam dalam arus besar organisasi. Namun pada era media sosial, setiap perbedaan memperoleh panggung yang jauh lebih luas. Apa yang dahulu hanya menjadi diskusi di serambi pesantren, kini bisa menjadi perdebatan nasional dalam hitungan jam.

Karena itu, melihat NU Garis Lurus semata-mata sebagai kelompok oposisi terhadap NU mungkin terlalu sederhana. Sebaliknya, memandangnya sebagai representasi tunggal suara nahdliyin juga tidak tepat.
Ia adalah bagian dari dinamika panjang sebuah organisasi yang telah berusia lebih dari satu abad. Dinamika yang lahir dari perjumpaan antara tradisi, otoritas keagamaan, perubahan sosial, dan perkembangan teknologi komunikasi.

Sejarah mencatat, setiap zaman melahirkan cara baru bagi warga NU untuk menafsirkan warisan para pendirinya. Dan NU Garis Lurus, suka atau tidak, merupakan salah satu bab dari perjalanan panjang itu.@

Komentar
Loading...