Rekayorek.id, Portal berita dan wadah berbagi kreativitas

Al-Tilimsānī, Sufi Hebat Komentator Asmaul Husna

ASMAUL Husna sangat terkenal di kalangan muslim. Berisi nama-nama Allah yang bersumber dari Al Qur’an. Pengumpulan nama-nama mulia ini pertama kali disusun oleh seorang sufi besar yang wafat pada 690 Hijriyah/1291 Masehi. Dialah ʿAfīf al-Dīn al-Tilimsānī, sufi yang lahir dari tradisi mistik Islam abad ke-12 Masehi.

‘Afīf al-Dīn al-Tilimsānī belajar menjalani kehidupan sebagai seorang sufi langsung dari al-shaykh al-akbar, sufi besar Andalusia, Muḥyīl-Dīn ibn al-ʿArabī atau akrab disebut Ibn Arabi. Dan al-Tilimsānī juga menjadi sohib karib dari sufi Ṣadr al-Dīn al-Qūnawī. Pada masa kehidupan al-Tilimsānī, dunia Islam di kawasan Timur-Tengah, Asia Selatan, Afrika Utara serta sebagian Eropa berada dalam imperium muslim. Sedangkan kawasan Asia Tenggara, terutama wilayah nusantara, masih dipengaruhi kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Sedangkan Kerajaan Samudera Pasai di Sumatera baru berdiri pada 1267 Masehi. Artinya, ketika Samudera Pasai berdiri, Majapahit masih berpengaruh dan Kerajaan Sriwijaya menguasai rute perdagangan di beberapa kepulauan, pada saat yang sama perkembangan sufisme di dunia Islam sangat tinggi. Kreatifitas yang menjadi ciri sufisme begitu menonjol. Tak pelak, pengaruh sufisme pun sudah meluas, bahkan patut diduga sampai ke nusantara pada abad tersebut.

Dan ʿAfīf al-Dīn al-Tilimsānī berkiprah di jagat sufi pada masa itu. Masa ketika bibit persiapan munculnya Kesultanan Turki Usmaniyah yang diawali pelarian Sulaiman Shah dari kejaran pasukan Mongol yang sudah menjarah wilayah Timur Iran, ke Anatolia. Pada 1220, Ertugrul putra Sulaiman Shah, lahir di Anatolia. Kelak putra Ertugrul, Usman, yang akan membangun imperium Turki Usmaniyah. Dalam sejarah Islam, abad ke-13 ini menjadi era keemasan peradaban serta kebudayaan muslim.

Pada saat yang sama, pengaruh perang Salib ke-4 pada 1204 Masehi masih terasa, menuju ke perang Salib ke-5 (1217-1221), 6 (1228-1229), 7 (1248-1254) dan 8 (1270). Pasukan gabungan dari Eropa yang menginvasi Timur-Tengah menjarah banyak hasil peradaban dan kebudayaan muslim. Namun, sejak perang salib ke-2, pasukan gabungan Eropa tak pernah menang melawan pasukan Zengi dan Salahuddin al Ayubi. Kekalahan pasukan gabungan Eropa terjadi dimana-mana. Bahkan Raja Richard dari Inggris terpaksa harus menanda-tangani perjanjian damai dengan Salahuddin.

Dalam situasi seperti itulah, ‘Afīf al-Dīn al-Tilimsānī berkarya. Ia bertemu dengan para sufi, lantas mendiskusikan banyak hal terkait ajaran Islam. Meski bernama lengkap Abūl-Rabīʿ ʿAfīf al-Dīn Sulaymān ibn ʿAlī ibn ʿAbd Allāh ibn ʿAlī ibn Yāsīn al-ʿĀbidī al-Kūmī al-Tilimsānī, namun nama populernya adalah ʿAfīf al-Dīn al-Tilimsānī. Popularitasnya meningkat berkat kesungguhannya dalam menimba beragam ilmu, dan salah-satu karya monumentalnya adalah pengumpulan nama-nama mulia dari Allah sebagaimana termaktub dalam Al Qur’an.

Dalam jaringan sufi, ʿAfīf al-Dīn al-Tilimsānī juga akrab dengan pendiri tarekat Shadiliyah, Abū al-Ḥasan ash-Shādhilī dari Aleksandria. Mereka kerap berbincang tentang banyak hal dalam sufisme. Dan ʿAfīf al-Dīn al-Tilimsānī kemudian menikahi putri sufi besar Andalusia, Ibn Sabʿīn. Ibn Sabʿīn juga sempat melontarkan kritik terhadap Ibn Rushd. Menurut Ibn Sabʿīn dalam karyanya bertajuk Budd al-Arif (Esensi Pengetahuan), Ibn Rushd terlalu fanatik pada Aristoteles. Karya Ibn Sabʿīn itu memperlihatkan bahwa kritik dalam tradisi sufi merupakan hal biasa.

Persahabatan ʿAfīf al-Dīn al-Tilimsānī juga terjalin dengan penyair besar Jalāl al-Dīn al-Rūmī. Syair-syair beken Rumi mewarnai pertemuan-pertemuan sufi. Al-Tilimsānī bahkan menyaksikan puncak karir kesufian Rumi di Konya (kini, wilayah Turki) menjelang akhir abad ke-13. Selain itu, para sohib karib Al-Tilimsānī, yakni Saʿīd al-Dīn al-Farghānī, Fakhr al-Dīn al-ʿIrāqī, Muʾayyid al-Dīn al-Jandī, juga kelak menjadi sufi besar pada masa-masa berikutnya.

Era akhir pemerintahan Sultan Al Ayyubi dan awal dinasti Mamluk merupakan era ketika pemerintah banyak mendukung pendirian komunitas sufi. Terjadi pelembagaan berbagai tarekat sufi yang menjadikan syair-syair berbahasa Arab dan Persia sebagai bgian penting dalam komunitas sufi. Syair-syair karya Farīd al-Dīn ʿAṭṭār dan ʿUmar ibn al-Fāriḍ sangat populer pada masa itu. Apalagi Mazhab Asy’ari juga berkembang pesat di berbagai wilayah, termasuk wilayah dimana al-Tilimsānī menetap. Ia berasal dari Banū ʿĀbid, suku Berber di kawasan barat laut Aljazair.

Namun, karir kesufiannya tumbuh kembang di Kairo, Damaskus dan Konya. Ia wafat pada usia 80 tahun di Damaskus. Komentarnya tentang nama-nama ilahi (Asmaul Husna) bukan saja menunjukkan ciri seorang Sufi yang sepenuhnya sadar, tetapi juga memperlihatkan kejernihan pikiran filosofisnya yang sangat terlatih dan tajam, serta kefasihan seorang penyair ulung. Selain memiliki kedalaman dan orisinalitas, al-Tilimsānī adalah seorang pemikir yang sangat independen yang terlibat secara kritis dengan para penulis dan teks yang dikomentarinya.

Lebih jauh lagi, tulisan-tulisannya mewakili sifat kosmopolitan peradaban Islam pada abad ketujuh/ketiga belas. Ia fasih berbahasa Persia, dan belajar bahasa Persia dan Arab pada al-Qūnawī, tokoh sufi kala itu. Selama tiga puluh tahun al-Tilimsānī menetap di Mesir, tempat meleburnya para Sufi Persia, Asia Tengah, dan Afrika Utara.

Buku ini berisi dwi-bahasa (Inggris-Arab). Meski  kitab aslinya yang bertajuk ”Maʿānī l-asmāʾ al-ilāhiyyah (Makna Asma Allah), ditulis dalam bahasa Arab. Karya al-Tilimsānī tersebut merupakan bagian karya-karya leksikografis para sufi yang fokus pada penjabaran Asma Allah. Sebelum al-Tilimsānī, teolog Mazhab Asy’ari cum sufi Abūl Qāsim al-Qushayrī yang hidup seabad sebelumnya telah melahirkan karya bersifat komentar terhadap Asma Allah dalam Qur’an. Karya al-Qushayrī yang bertajuk ”al-Taḥbīr fī ʿilm al-tadhkīr” (Perhiasan Ilmu Nasehat), juga telah dikenal pada masa itu.

Juga telah ada karya al-Ghazālī bertajuk ”Al-Maqṣad al-asnā fī sharḥ maʿānī asmāʾ Allāh al-ḥusnā” (Tujuan Tertinggi dalam Menjelaskan Makna Nama-nama Allah yang Indah) yang dirilis pada abad ke-12, serta karya sufi Andalusia Ibn Barrajān berjudul ”Sharḥ asmāʾ Allāh al-ḥusnā” (Komentar tentang Asmaul Husna) dirilis pada abad yang sama. Dan karya al-Tilimsānī yang dirilis pada abad ke-13, ikut menjadi bagian dalam tradisi sufi itu.

Tulisan-tulisan karya sufi besar Ibn Arabi juga berpengaruh terhadap lingkaran sufi al-Tilimsānī. Al-Tilimsānī menguraikan tiap Asma Allah (Nama Allah) dalam surah-surah Al Qur’an. Uraian yang sangat rinci, bagus, sederhana dan memikat. Penjelasan al-Tilimsānī sangat mudah dipahami awam, sehingga kitab al-Tilimsānī ini sangat layak menjadi rujukan memahami tafsir di balik Nama Allah di dalam Al Qur’an.

Akhirulkalam, karya al-Tilimsānī ini memang telah berulang kali dicetak ulang, dan dalam cetakan terbaru yang telah di-update, berisi informasi tambahan ihwal kiprah sufi besar ini. Al-Tilimsānī tetap dikenang bukan saja sebagai sufi hebat, melainkan ia juga komentator fasih Asmaul Husna.@

*) Penulis adalah akademisi 

Komentar
Loading...