Bahu Laweyan #5

Membuka Hati Untuk Suami Berikutnya

Oleh: Jendra Wiswara

SEJAK suami ketiga Nunuk meninggal, dia mulai dapat merasakan kehadiran makhluk halus yang bersemayam di tubuhnya. Lamat-lamat Nunuk dapat mendengar bisikan gaib.

Saat sedang sendiri, tiba-tiba ada hembusan angin datang ke kamarnya. Kemudian diiringi suara tanpa wujud. Tertawa.

Di saat hatinya sedang gundah, suara itu muncul lagi.

Saat Nunuk sedang bercermin, Nunuk sering dikejutkan kemunculan makhluk tinggi hitam menyeramkan.

Ya, begitu dan seterusnya.

Kesannya memang seram, awalnya. Namun lama-lama Nunuk menjadi terbiasa. Makhluk itu hanya bisa dirasakan oleh Nunuk. Orang lain tidak bisa.

Dan setiap kali makhluk itu muncul, Nunuk selalu mewanti-wanti agar tidak menganggunya. Apalagi sampai mencelakakan orang-orang di sekelilingnya.

Nunuk sendiri tidak bisa mengusir keberadaan makhluk tersebut. Dia juga tidak bisa menghalang-halangi. Makhluk itu akan terus bersemayam di tubuh Nunuk hingga mencapai korban tujuh orang.

“Sejauh ini makhluk itu tidak pernah mencelakakan orang-orang di sekeliling saya. Meskipun saya dijahati oleh orang-orang, makhluk itu tidak pernah membalas. Kecuali jika saya diguna-gunai orang, maka lain lagi ceritanya. Saat ada teluh atau santet datang, makhluk itu yang akan melawan. Namun selama ini tidak pernah ada orang yang berani menjahati saya. Paling mereka hanya merasa iba dan kasihan saja.”

Nunuk sendiri memang belum dapat berkomunikasi dengan makhluk yang bersemayam di tubuhnya. Hanya bisikan saja ia dengar. Dan setelah itu menghilang dengan sendirinya.

Dengan kehadiran makhluk tersebut, beberapa kali rona wajah Nunuk berubah-ubah. Kadang mengikuti perasaannya. Kadang tampak bengis dan menyeramkan. Kadang seperti anak kecil. Sementara tarikan napasnya memburu dengan hebatnya. Sekilas menyiratkan sebuah kepedihan mendalam. Entah karena keberadaan makhluk di tubuhnya yang sedang lapar, atau karena kepedihan ditinggal mati suami-suaminya.

Yang jelas perempuan nan rupawan ini tidak lagi menjadi perempuan pada umumnya. Dia sudah banyak berubah. Bisa jadi aura jahat telah menguasainya.

***

Sejak dicap sebagai perempuan bahu laweyan, Nunuk kerap dijauhi orang-orang. Tidak ada teman-teman sebayanya yang mau berteman dengannya. Mereka takut menghadapi resiko kematian. Padahal, kematian itu hanya berlaku pada pasangan Nunuk saja.

Nunuk sendiri sudah pasrah dalam menjalani hidup. Dia rela menjadi janda seumur hidup. Sebab jalan hidup perempuan bahu laweyan merupakan kutukan yang harus ia jalani.

“Sebenarnya saya tidak mau menjadi begini. Tidak ada enaknya menjadi seorang bahu laweyan. Dijauhi orang-orang. Ditakuti orang-orang. Ditinggalkan orang-orang. Hidup dalam kesendirian. Tapi, inilah hidup yang harus saya jalani, walau pahit. Saya juga pasrah jika kelak tidak bisa menjadi perempuan normal. Menjadi janda seumur hidup tanpa punya keturunan harus saya jalani.”

Namun Nunuk bukanlah satu-satunya insan yang terus-menerus dirundung malang kehilangan suaminya. Bagaimana juga dia harus bangkit dan melanjutkan hidup.

Biarlah dia hidup sendiri tanpa seorang pendamping, asal dapat memenuhi kewajiban sebagai seorang anak yakni membantu ekonomi keluarganya.

Akhirnya Nunuk memutuskan untuk bekerja sebagai buruh di Surabaya. Dengan peliknya kehidupan di perkotaan, lambat laun Nunuk mulai dapat melupakan masa lalunya yang pahit.

Selama bekerja di kota, Nunuk mulai mendapatkan kehidupan baru dan teman baru. Orang-orang kota tidak kenal dengan Nunuk. Mereka tidak tahu bahu laweyan.

Nunuk tidak lagi ditakuti dan dijauhi. Teman-teman Nunuk menganggapnya biasa saja. Bahkan mereka hidup dalam satu kos-kosan bersama. Tidur bareng, makan bareng. Tidak ada sesuatu yang terjadi.

Nunuk sendiri tidak pernah mendapat gangguan bisikan dari makhluk halus yang bersemayam di tubuhnya. Tampaknya, makhluk tersebut sedang tertidur pulas. Atau mungkin kekuatannya telah luntur karena tidak ada lagi manusia yang menjadi tumbalnya.

Selama empat tahun Nunuk bekerja. Dan selama itu dia tidak pernah terjadi hal-hal aneh dalam hidupnya. Bayang-bayang bahu laweyan tampaknya sudah menghilang.

Bapak Nunuk kerap menanyakan hal itu setiap kali anaknya pulang. Nunuk menjawab bahwa dia tidak pernah merasakan kehadiran makhluk halus tersebut. Apa mungkin makhluk itu telah menghilang?

“Selama empat tahun saya tidak pernah merasakan kehadiran makhluk halus itu. Saya tidak tahu apa makhluk itu telah pergi. Saya juga tidak pernah bangun malam hari. Dulu sewaktu masih masih tinggal di desa, saya selalu terjaga di malam hari karena ada sesuatu yang membisiki. Tapi sekarang tidak ada lagi.”

Karena tidak pernah mengalami hal-hal aneh, Nunuk akhirnya memberanikan diri membuka hati pada lelaki.

Sebenarnya selama empat tahun itu, sudah banyak lelaki yang mencoba mendekati Nunuk. Namun semua ditolak. Nunuk beralasan dia masih belum kepikiran untuk menjalani hubungan serius.

Dengan terbukanya hati Nunuk, satu persatu lelaki mulai mengisi hidupnya.

Adalah Bayu, lelaki asal Bojonegoro ini merasa hatinya telah lengket pada sosok Nunuk. Bayu merasa siap mengisi kekosongan hati Nunuk. Keduanya saling mengenal di kompleks indekos yang sama.

Setiap pagi hendak berangkat kerja, mereka berpapasan. Sore sepulang kerja mereka bertemu lagi. Dari pertemuan itulah keduanya saling menaruh hati.

Cinta kedua insan itu saling berbalas. Nunuk dan Bayu berpacaran. Namun jalinan kasih keduanya harus dilalui cukup lama. Mengingat Nunuk ingin memastikan apakah dirinya masih bayu laweyan atau bukan. Nunuk ingin memastikan, setiap kali dirinya berpacaran dengan Bayu, apakah makhluk halus di dalam dirinya akan muncul atau tidak. Jika muncul, maka Nunuk akan langsung memutus jalinan cintanya.

“Dua tahun saya dan Bayu berpacaran. Bayu orangnya sangat perhatian dan pengasih. Dia berkali-kali ingin melamar saya. Tapi selalu saya jawab belum siap. Maklum, saya ingin memastikan apakah masih tetap perempuan bahu laweyan atau tidak. Saya takut jika sewaktu-waktu makhluk itu hadir lagi dalam kehidupan kami. Maka, resikonya akan lebih besar dari yang bisa kami tanggung. Karena sebelum semua itu terjadi, saya dan bapak harus memastikan dulu. Jika makhluk itu masih tetap mengikuti, saya memilih untuk menyudahi jalinan kasih kami.”  

Nunuk dan bapaknya sempat menanyakan prihal ini pada orang pintar sekaligus untuk melihat kehadiran makhluk tersebut. Dari penerawangan beberapa paranormal, Nunuk dibilang sudah bersih dari makhluk halus yang bersemayam di tubuhnya. Dia bukan lagi perempuan bahu laweyan.

Hal ini yang membuat Nunuk dan keluarganya akhirnya bersedia menerima lamaran Bayu.

Ya, untuk keempat kalinya Nunuk menikah lagi. Dan seperti syarat sebelumnya yang diajukan Nunuk, pernikahan digelar secara siri. Tidak ada pernikahan besar-besaran. Semua digelar sangat sederhana. Meskipun sebenarnya hal ini tidak disetujui oleh keluarga Bayu. Namun syarat telah ditentukan.

Alasan Nunuk meminta dinikahi siri, karena sebelumnya dia pernah menikah dan berakhir dengan kegagalan. Sehingga untuk pernikahan berikutnya tidak perlu digelar secara besar-besaran.

Nunuk sendiri tidak pernah menjelaskan prihal bahu laweyan pada Bayu. Menurut Nunuk, biarlah hal itu menjadi rahasia keluarganya. Masa lalu tidak perlu diungkit lagi. Sekarang, waktunya menyongsong masa depan.

“Saya tidak pernah menceritakan pada Bayu prihal kegagalan pernikahan sebelumnya. Sebetulnya Bayu pernah menanyakan soal itu, namun selalu kujawab asal-asalan. Bahwa semua suaminya pergi meninggalkannya tanpa tanggungjawab. Saya sebetulnya bisa menjelaskan ke Bayu soal kondisi saya sebagai bahu laweyan. Tapi saya tidak sanggup. Saya justru takut jika Bayu mengetahui kondisi saya, dia akan pergi menjauh. Sementara saya sudah terlanjur mencintainya.”  [bersambung] 

bahu laweyancerbungcerpen