Berkaca Dari Kisah Imam Hasan al-Bashri

Oleh: Tg. DR. H. Miftahur Rahman el-Banjary, MA

IMAM Hasan al-Bashri, seorang tokoh ulama tabien sekaligus pemuka sufi terkemuka dalam sejarah kemunculan sufi generasi pertama mengajarkan betapa indahnya ajaran Islam itu sesungguhnya.

Terkisahlah bahwa Imam Hasan al-Bashri lebih memilih tinggal sederhana di rumah susun, meskipun beliau memiliki banyak murid yang memungkinkan beliau bisa saja memiliki rumah besar yang lebih layak dihuni oleh seorang tokoh pemuka agama besar, namun beliau lebih memilih hidup zuhud seadanya tinggal di rumah susun yang sesak dan sempit.

Imam al-Hasan al-Bashri tinggal bertetangga dengan seorang Nasrani yang tinggal di sebuah flat lantai atas kamar beliau. Di kamar yang sempit yang tak jauh dari mihrab tempat ibadah sang Imam, terdapat sebuah ember yang selalu penuh terisi dengan air kotoran setiap harinya. Dan setiap hari pula, sang Imam membuang air kotoran tersebut.

Pada suatu hari, sang Imam mengalami sakit dan tetangga Nasrani mengunjunginya. Sang tetangga terheran dan kaget ketika mengetahui bahwa di kamar sang Imam yang bertepatan dengan kamar mandinya, ternyata ada rembesan air yang menetes.

Tahulah akhirnya sang tetangga Nasrani itu bahwa air rembesan itu merupakan air kotoran dari toilet yang merembes dan menetes ke kamar sang Imam. Sang tetangga merasa bersalah dan menanyakan pada sang Imam kapankah air rembesan itu telah terjadi?

Namun, Imam Hasan al-Bashri hanya tersenyum. Setelah didesak berulang kali oleh sang tetangga, barulah sang Imam mau berterus terang bahwa ternyata air rembesan dari toilet tetangganya itu telah berlangsung selama lebih dari 20 tahun lamanya.

Selama itu pula, Imam Hasan al-Bashri dengan sabar membuang sisa air kotoran itu, tanpa pernah mengeluh, bahkan tak pernah sama sekali sekedar memberitahukan pada tetangganya perihal tersebut, sebagai bentuk ketinggian toleransi beliau agar sang tetangga tidak merasa sungkan dan bersalah pada beliau.

Begitulah akhlak dan ketinggian ajaran Islam yang ditunjukkan oleh Imam Hasan al-Bashri, bukan sekedar terhadap sesama muslim, bahkan terhadap mereka yang berbeda agama dan keyakinan sekalipun pun merasakan betapa indahnya ajaran Islam.

Akhirnya, sang tetangga itu menyadari bahwa ajaran Islam itu bukan ajaran kekerasan, bukan ajaran terorisme, bukan ajaran peperangan, bukan!! Ajaran Islam adalah ajaran keindahan, humanisme, kedamaian dan keselamatan. Menyadari ketinggian serta keluhuran ajaran Islam, sang tetangga memeluk Islam bersama keluarganya.

Islam sangat meninggikan budaya toleransi beragama dalam ranah-ranah sosial dan pergaulan. Bahkan, Nabi Saw sendiri berdiri di saat ada jenazah Yahudi yang sedang diusung berlalu dihadapannya sebagai sekedar penghormatan secara kemanusiaan.

Alhamdulillah, di lokasi lahan yang insya Allah akan kami bangun Majelis dan Pondok Pesantren Dirasat al-Qur’an wal Hadits Dalail Khairat pun masih bertetanggaan dengan saudara kami non-muslim, dan bahkan masih boleh dikatakan berada di lingkungan adat dayak dan hanya beberapa meter bersebelahan dengan Balai Adat Dayak dan Gereja Protestan.

Saya sampaikan pada tetangga kami itu, bahwa lokasi yang kami bebaskan ini akan kami bangun lembaga pendidikan Islam sekaligus panti asuhan. Sedangkan soal keyakinan dan agama itu ranah masing-masing hak kebebasan beragama, kita hanya bisa saling menghormati dan menjaga toleransi.

Saya justru mendapatkan jawaban yang mengejutkan sekaligus mengagumkan. Tetangga kami itu menjawab, “Ya, kita ini kan menganut paham Pancasila, kita wajib saling menghormati!”

Tak hanya itu, tetangga kami non muslim itu pula termasuk orang yang paling gigih dan bersemangat mendukung berdirinya Pondok Pesantren di samping rumahnya. Bahkan, beliau pula yang diminta ditugaskan menjaga serta mengawasi alat berat yang sedang kami pakai untuk pengerjaan clearing tanah dalam beberapa minggu terakhir ini.

Ketika ada pekerjaan ringan seperti menyemprot rerumputan atau membersihkan lahan, justru tetangga kami non muslim dari orang dayak itu menolak jika kami ingin bayar.

Lantas kata teman saya, “Kalau tidak mau menerima pembayaran dari kami, apa yang harus saya sampaikan pada ustadz?”

Tetangga kami menjawab dengan jawaban mengejutkan sekaligus menyentuh, “Tolong doakan saja saya dan anak-anak saya. Siapa tahu nanti ada anak-anak atau cucu kami yang bisa bersekolah di Pesantren ini!”

Saya hanya bisa terdiam, terenyuh dan terkagum-kagum dengan jawaban sederhana, namun memiliki pesan yang sangat mendalam serta sarat dengan makna ditengah problematika intoleransi serta hasutan provokasi yang sedang kami hadapi saat itu dari orang yang berbeda suku dan agama pula.

Islam itu damai. Islam itu indah. Islam itu ramah. Selama Islam dipahami dan dipraktekkan oleh orang-orang yang memahami hakikat ajaran Islam itu sendiri.

Wallahu ‘alam.@

*) Pengasuh Ponpes Dalail Khairat Kal-Sel, Pengasuh Ponpes Sibthul Amin Kal-Tim, Pimpinan Majelis Dalail Khairat Indonesia-Malaysia

Imam Hasan al-BashriMiftah el-Banjary
Komentar (0)
Tambah Komentar